
Seusai sarapan, Tiar hendak mengajak Dinda ke desa dengan alasan ada vestival. Dia ingin menyatakan cintanya disana. Susan dan Satria hanya mengikuti mereka. Motornya sudah diserahkan kepada pelayan saat Dinda sedang joging.
Satria menceritakan tujuan Tiar pada Susan, begitu juga dengan sebaliknya. Dia memberitahukan bahwa sahabatnya juga jatuh cinta padanya. Segera Satria memberitahu Tiar tenang itu, membuatnya yakin akan kemenangan hati Dinda.
Setelah menempuh perjalanan jauh, sampailah mereka di vila dekat panti asuhan.
"Jadi ini vila milikmu? Lalu kenapa dulu tidak disini saja? Jauh jauh pulang ke rumah besar bikin capek!" Omel Dinda sebal saat tau vila itu milik Tiar.
"Maaf aku lupa." Ucap Tiar berbohong, dia tak mau salah ucap dan membuat Dinda marah padanya.
"Ahhh sudah lupakan aku mau tidur." Kata Dinda mencari kamar yang nyaman, dia satu kamar dengan Susan. Dia takut bila sendiri akan diganggu oleh Tiar.
Dia melihat foto keluarga Tiar terpajang dikamar itu, karena itu adalah kamar Pribadi Tiar.
"Mengapa wajah mereka tak begituasing? apa mungkin waktu aku disini pernah bertemu dengan mereka?" gumam Dinda dalam hati.
Saat sore hari Dinda dan Susan sudah mandi dan berganti pakaian yang disiapkan Tiar. Dinda duduk di tepi danau buatan di belakang vila.
Susan tak mau mengganggu mereka, diapun berjalan jalan sendiri karena Satria sedang mengurus untuk acara nanti.
Kringgg kringggkringgkringg... bunyi lonceng sepeda mengagetkan Susan. Seorang wanita yang usianya tak jauh berbeda dengannya, yang tak lain adalan Citra.
"Aduh mbak gapapa? Maaf mbak saya jalanya kurang ke tepi." Ujar Susan membantu wanita itu bangun.
"Iya gapapa kok mbak.. maaf ya sepeda saya butut tidak ada rem nya." Jawabnya mebetulkan baju.
"Yasudah saya duluan yaa sekali lagi maaf." Ucap Citra pergi meninggalkan Susan.
"Seperti kenal tapi dimana yaa..." gumam Susan.
"Heii ayo pulang." ajak Satria saat melihat Susan yang tengah melamun.
Malam kian larut, Susan mengajak Dinda untuk berjalan jalan menyusuri jalan di taman area vila. Karena vila agak jauh dari desa, hanya ada beberapa cafe romantis yang biasa kunjungi pasangan muda.
__ADS_1
"Pulang yuk aku laper ... udah lumayan jauh nih kita jalannya." Ajak Dinda pada Susan.
"Emmmm... aku kebelet nih mau pipis dulu yaa kamu tunggu bentar." Ucap Susan langsung meninggalkan Dinda.
"Jangan lama lama ya.." teriak Dinda.
"Heyy.. yok jalan kesana bentar." Ucap Tiar mengagetkan Dinda.
"Tapi Susan ada di toilet. Tunggu bentar ya." Jawab Dinda singkat.
"Udah ayok tinggal aja." Paksa Tiar menarik tangan Dinda lembut. Dinda ingin menunggu Susan, tapi ia juga ingin berdua dengan Tiar.
Dinda menuruti kemauan Tiar. Dia melangkahkan kaki ketempat yang Tiar inginkan. Namun tidak seperti yang Dinda bayangkan bahwa Tiar akan mengucapkan kata kata romantis seperti pasangan lain, dia hanya diam membisu tanpa ekspresi diwajahnya.
"Tau gini mending nunggu Susan aja." Gerutu Dinda sebal yang sengaja dengan nada agak tinggi.
"Kamu yakin ngga bakal nyesel kalo ngga ikut aku?" Tanya Tiar singkat.
Dinda tak menjawabnya dan hanya memajukan bibirnya. Tiar tersenyum geli, ingin sekali saat itu juga memakan bibir mungil Dinda.
Tak lama kemudian mereka sampai ditempat tertinggi, nampak jelas cahaya lampu dikota dari sana.
"Baguskan?" Tanya Tiar.
"Ehmmm, iya bagus untung aku jadi ikut." Ucap Dinda melangkahkan kakinya mendekat ke pagar pembatas taman.
" Tapi kok disini ngga terang yaa ... padahalkan ini tempatnya tinggi. Coba kalo lampunya banyak kan jadi terang." Ucap Dinda lagi, namun Tiar tak meresponnya sama sekali hingga membuat Dinda membalikkan badannya kebelakang.
Seketika lampu taman menyala, menyinari seluruh penjuru taman. Dinda mengernyitkan dahinya dan menipitkan matanya. Sangat silau kala itu membuatnya tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di tengah dataran tinggi itu.
"Tiar." Gumam Dinda lirih.
Matanya berkaca kaca saat melihat dengan jelas apa yang ada disana. Dinda berjalan mendekat kearah Tiar sampai tibalah dia di depan Tiar.
__ADS_1
"Dinda.. Will You Merry Me?" Ucap Tiar dengan nada lembut berseimpuh di depan Dinda dan menyodorkan seikat bunga mawar merah yang disusun rapih dengan tengah mawar putih.
"Kamu tau nama aku?" Tanya Dinda kaget.
"Will You Merry Me?" Ulang Tiar saat mendapati pertanyaan darinya.
Dinda tak menghiraukan lagi dari mana Tiar tau namanya, dia hanya merasa gembira kala itu. Tak kuasa ia meahan air matanya.
"Hee.eemmm" jawab Dinda menganggukinya dengan cepat dan menerima bunganya.
Dengan segera Tiar memeluk erat tubuh Dinda, suara tepuk tangan dan sorak sorakan dari orang yang menyaksikan itu tak mereka hiraukan. Tiar teramat bahagia kala itu , begitu juga dengan Dinda.
Banyak mata memandang kagum pasangan baru yang sempurna itu, bagaimana tidak Dinda mengenakan dres merah maron selutut dipadukan dengan kulitnya yang putih bersih. Dia juga mengenakan sepatu heals berwarna putih tulang yang disiapkan khusus oleh Tiar, senada dengan bunga mawarnya.
Tiar hanya mengenakan celana pants panjang berwarna cream dan bajunya yang senada dengan Dinda. Jaket yang berwana senada dengan celananya dengan sepatu cats putih membuatnya lebih terlihat tampan.
Satria sudah menyewa tempat itu dan menggeratuskan bagi siapapun yang datang kala itu, semua cafe pun sudah disewanya. Tiar membawa Dinda memasuki cafe yang sudah disiapkan khusus untuk mereka.
Susan dan Satria mengikuti mereka masuk ke cafe, Susan memeluk Dinda erat air mata bahagianyaseketika jatuh. Terlalu senang mengetahui sahabatnya kini tidak menyandang status jomblo lagi.
Malam yang panjang dihabiskan oleh mereka ber empat.
"Kamu tau nama ku dari mana?" tanya Dinda penasaran.
Susan hanya menahan ekspresinya dia malah berpura pura mengobrol denga Satria.
"Suadah tidak usah pura pura. Makasih yaa jadikan melamarnya resmi dengan nama ku." kata Dinda saat diberi kode Tiar.
Waktu berjalan seperti semestinya. Malam romantis yang didambakan para gadis, yang selalu Dinda bayangkan selama ini. Tadi hanya menjadi khayalannya dan sekarang sduah terlaksana.
Paginya setelah beristirahat dengan cukup mereka berencana meninggalkan vila untuk kembali ke kota.
"Katanya ada vestival?" tanya Dinda da Susan.
__ADS_1
Mereka berdua hanya tersenyum kecut tak tau harus menjawab apa. Dinda sudah menebak bahwa ini akal akalan mereka saj. Dia pun tidak mempermasalahkannya lagi.
Mereka kembali ke Kota dengan perasaan bahagia. Dinda masih belum memberi tahuTiar tentang statusnya. Dia dan Susan turun di persimpangan taman lagi.