
"Cihh ternyata kamu!" Oceh Dinda sambil menepuk* tangannya yang bekas memegang orang itu
"Siapa kamu? Apa kita pernah bertemu? Wajahmu nampak tidak asing." Tanya laki* tadi dan mencoba mengingat wajah Dinda
"Jelaslah. Kamu itu orang berdarah dingin yang manggil aku waktu pertama masuk sekolah." Jawab Dinda ketus sambil meninggalkan dia
"Ahh bocah tengik itu." Gumam Tiar "Heii tunggu." Teriak Tiar yang membuat beberapa orang menatapnya
"Apaansih! Aku lagi nyari adek ku tau!" Ucap Dinda sebal
"Apa kau biasa ke sini? Apa kau tau dimana pendopo taman ini?" Tanya Tiar
Dinda diam menatap laki* di depannya. Dia tak berniat membantu tapi kasihan juga melihat wajah Tiar yang sudah setengah putus asa itu.
"Ikut." Perintah Dinda
"Terimakasih." Balas Tiar
"Belum juga aku antar sudah bilang terimakasih. Biasanya juga marah*" gumam Dinda yang terdengar Tiar
"Maaf soal waktu itu. Aku orangnya baik kok." Jawab Tiar tulus
"Ku kira kamu sudah tidak ingat kejadian waktu itu. Sudah tak usah dibahas toh sudah berlalu." Jelas Dinda
"Iya. Ohh iya kamu disini mau apa?" Tanya Tiar canggung
"Yaa mainlah kau kira aku disini mau nyuci karpet." Jawab Dinda ketus
"Bwhahahaha kau lucu juga ternyata." Kata Tiar yang hanya mendapat lirikan maut Dinda
Dinda tak berteriak memanggil nama adiknya dia hanya berjalan membisu. Hanya Tiar yang bertanya padanya tapi selalu ia cueki
"Udah sampek aku mau pergi dulu byee!!" Ucap Dinda ketus tapi lagi* tangannya sudah ditahan oleh Tiar
"Tunggu, temani aku nanti kamu aku traktir makan." Ucap Tiar memohon
"Aku ada urusan penting." Jelas Dinda
"Ayolahh nanti akan ku bantu urusanmu itu." Kata Tiar
"Haaahhh.. yasudah cepat." Perintah Dinda
"Ayoo masuk." Ajak Tiar menarik Dinda masuk.
Pendopo taman cukup besar, pendopo pintu masuk utama kemudian ada beberapa pendopo kecil yang berjarak lumayan jauh. Pendopo* itu dipisahkan oleh air Danau buatan yang menambah suasana damai.
Dari jauh terlihat laki* dengan perawakan tinggi menatap jauh kedalam danau buatan itu. Dia adalah 'Daniel Putra Pramestu' kakak satu*nya Tiar. Daniel tengah menggendong bocah kecil yang tenang berada di pelukannya
"Kakak. Aku datang." Ucap Tiar pelan
"Sudah ku bilang jangan bawa orang kenapa kamu masih bawa." Jawab Daniel tegas
"Maaf aku ngga tau taman sini." Jawab Tiar
"Maaf om saya cuma mengantar dia. Kalo gitu saya permisi." Ucap Dinda ramah dan beranjak pergi
__ADS_1
"Aku kan udah janji mau traktir kamu makan. Tunggu bentar nanti aku anterin kamu pulang sekalian." Ucap Tiar dengan nada tak enak hati pada Dinda
"Ngga papa kok aku bisa pulang sendiri. Lain kali aja traktir makannya." Dinda berusaha pergi karena ada hawa beku disana
"Tak usah pergi. Aku hanya mau minta ditemanisebentar disini." Kata Daniel singkat sambil membalikkan badannya
Dinda terkejut saat melihat bocah yang digendong Daniel.
"Daniaa!" Teriak Dinda
"Kamu kenal bocah ini?" Tanya Daniel
"Dia adek saya om." Ucap Dinda sambil mengambil alih Dania.
"Tadi saya lihat dia duduk sendiri ditaman. Saya tunggu lama ngga ada yang datang. Jadi saya bawa dia." Jelas Daniel
"Iya tadi saya lagi beli eskrim buat Dania." Ucap Dinda
"Jadi eskrim yang tadi kamu tumpahin di jas aku buat dia?" Tanya Tiar
Dinda hanya mengangguk sambil terus memeluk adiknya yang hampir hilang itu. Untung tadi Tiar memaksanya ikut masuk.
Dari jauh Susan mendengar teriakan Dinda. Dia berlari menuju sumber suara. Melihat sosok Dinda ditengah dua lelaki tampan
Susan menepuk bahu Dinda, membuat ia kaget dan menengok.
"Kamu dari mana saja sih Dii..." ucapnya tersela saat melihat wajah Tiar. Susan tak mengingat wajahnya. Tapi dari penampilan pasti dia orang kaya.
'Ngga boleh nyebutin nama nggaboleh.' Gumanm Susan dalam hati
"Dia temen aku." Ucap Dinda
Susan kembali menatap Dinda karena dia tidak mengingat wajah laki* itu.
"Ayy kamu dari mana saja si aku capek muter*. Untung Dania ketemu." Ucap Susan cepat sambil emosi memarahi Dinda.
"Kalo udah ketemu langsung balik dong jangan kelayapan." Ucapnya lagi
"Ini juga baru ketemu." Jelas Dinda pada Susan
"Maaf membuat kalian khawatir." Kata Daniel
"Nggapapa kok om.. saya malah berterimakasih sama om.." Jawab Dinda ramah
"Bhwahahahaha apa wajah kakak ku setua itu kamu panggil om?" Tanya Tiar terkekeh
"Yaa saya kira anda ayahnya." Ucap Dinda lagi
"Tak apa.. kamu bisa panggil saya kakak. Nama saya Daniel." Ucap Daniel sambil hendak menyalami Dinda
"Dii.." Kata Dinda terpotong karena katinya diinjak Susan.
"Apaan sihh.." Ucap Dinda marah dan Susan hanya mengedipkan matanya
"Nama aadik saya Dania kak," Ucap Dinda sambil membalas uluran tangan Daniel
__ADS_1
"Nama kamu siapa?" Tanya Daniel lagi tapi tangannya malah dilepaskan Tiar
"Namanya Ayana sudah jangan pegangan tangan terus kita ngga mau nyebrang." Ucap Tiar ketus
"Kamu ingat namaku?" Tanya Dinda heran
"Ingatlah." Jawab Tiar cepat
Daniel melihat sikap adiknya itu hanya terkekeh dan lanjut menyalami Susan. Tiar juga menyalami Susan tapi hanya sekibat.
"Sebagai permintaan maaf saya, mari saya beliakan eskrim." Kata Daniel
"Tak usah kami mau pamit pulang saja." Ucap Susan cepat
"Iya sudah sore nanti dicari orangtua kami." Imbuh Dinda
"Yasudah lain kali kalau kita bertemu lagi saja." Jawab Daniel
"Bukankah kita mau Dinner?" Ucap Tiar tak rela Dinda pergi meninggalkannya
"Enak saja dinner kamu itu cuma mau traktir aku makan. Lagi pula kalau aku tak mengantarmu kemari aku tak kna menemukan adikku jadi kita impas." Ucap Dinda ketus
"Sekali sajaa... yayaya" ucap Tiar memohon lagi
"Tak akan.! Saya permisi pulang kak." Kata Dinda
"Hati* dijalan" ucap Daniel sambil melambaikan tangannya pada Dania.
"Kakakk... kakak kenapa membiarkannya pergi sihh..." rengek Tiar seperti anak kecil yang kehilangan balonnya
"Sudah* kamu ini seperti anak kecil yang tak diberi asi ibunya." Bentak Daniel
"Semua gara* kakak!!" Balas Tiar
"Kamu pasti suka sama cewek tadi.. iya kan udahlah ngaku aja." Goda Daniel pada adiknya, karna setau dia semenjak Papa mereka meninggal Tiar tak tertarik wanita. Apalagi waktu dia kejadian yang menimpa Daniel beberapa tahun lalu, membuat Tiar semakin benci wanita.
"Apa sihh Kakak sukanya ngejek doang." Gerutu Tiar, wajahnya kini merona
"Sudah ayo ke rumahmu saja, ada yang mau kakak omongin." Ucap Daniel sambil berjalan pergi
Mereka menggunakan mobil Tiar menuju rumahnya, jarak taman pusat Kota A ke rumah Tiar yang berada di Kota S lumayan jauh. Berhubung Tiar sedang melakukan pengecekan Kantor Cabang dan kakaknya juga berada dikota yang sama mereka memutuskan bertemu. Sudah beberapa tahun sejak kejadian itu, Daniel tidak pulang kerumah utama. Jadi Tiar berencana membawa kakaknya kesana.
Setelah satu setengah jam perjalanan mereka, sampailah di rumah yang sangat luas. Dengan arsitektur bangunan yang megah ditambah furniture* ruangan yang indah. Penataan yang sempurna hanya satu yang kurang, sepi tak berpenghuni hanya pelayan yang ada disana.
"Selamat Datang kembali Tuan Besar, Selamat Datang kembali Tuan Muda." sapa Kepala Pelayan dan pelayan lain yang hanya membungkukkan badan mereka.
"Terimakasih." ucap Daniel singkat
"Kenapa kamu mengajakku kesini?" tanya Daniel pada Tiar yang tidak mengajaknya kerumahnya saja
"Kakak sudah lama tidak pulang. Aku hanya ingin memperingati kakak bahwa kakak juga masih punya rumah utama disini." Jawab Tiar menjelaskan, dia tak mau Kakaknya sampai lupa dengan rumah yang mempunyai kenangan banyak itu.
Kakak beradik itu bercerita banyak tentang persaingan dalam bisnis mereka, denfan sesekali candaan yang mereka buat. Tak lama seorang gadis datang dengan berlari kecil menuju mereka.
"Kakakkk....." teriaknya seraya memeluk kedua kakaknya itu dan dibalas dengan keduanya. Dia adalah anak ke 4 Bambang Pramestu, Namanya Tiara Rania Pramestu
__ADS_1