Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 21 ( Pencarian Bunda Dania )


__ADS_3

"Kamu kenapa gitu si kan bisa kasih susu formula." Ucap Tiar kesal.


"Aku cuma menjalankan tugas dari Mama. Kata Mama kalo Hai nangis kasih saja susu." Ucap Dinda polos dengan masih mene**i Haikal dan menyiapkan susu formula.


"Iya tapi kenapa harus punyamu?" Tanya Tiar lagi.


"Kalo nunggu pelayan suara Haikal akan habis karena terlalu lama menangis." Ucap Dinda ketus.


"Iya juga sih.. Ahhh yasudah lain kali jangan begitu didepan umum!! Cukup begini dirumah saja." Perintah Tiar tegas. Dia tak mau orang lain ada yang melihat pemandangan milik Dinda.


"Iya iya... sudah makan." Ucap Dinda cepat.


Mereka menikmati makanan itu, ditambah pemandangan alam langsung didepan mata, membuat semakin asri. Seusai makan Tiar melajukan mobilnya kembali.


"Kita mau kemana?" Ucap Dinda penasaran karena sudah jauh dari Panti.


"Rumah.. kamu mau apa tinggal dijalan." Jawab Tiar singkat.


"Ohhiya yaa.. aku lupa." Ucap Dinda menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi Bunda belum ketemu kak..." Rengek Dania yang hampir menangis.


"Sayang sabar yaa besok kita cari lagi." Ucap Dinda menengok kebelakang mengelus puncak kepala Dania lembut.


"Besok aku akan menyuruh anak buahku ikut mencari. Jadi kalian ngga perlu kesana terus nanti capek." Ucap Tiar.


"Yasudahh... paman tidak bohongkan, janji yaa bantu nyari Bunda."


"Apa aku setua itu sampai dipanggil paman?" Tanya Tiar pada Dinda, dia malah tertawa tak henti*.


"Janji yaa...." ucap Dania lagi.


"Iyaa janji, tapi panggilnya Kakak yaa jangan Paman." Pinta Tiar pada Dania.


"Iya Kak." Jawab Dania cepat.


"Makasih yaa udah mau nolong aku." Kata Dinda tulus dan Hanya disenyumi oleh Tiar.


Tak berapa lama mereka sampai dirumah besar Keluarga Pramestu. Mereka disambut hangat oleh para pelayan. Namun banyak pertanyaan yang ada diantara mereka.

__ADS_1


Tiar menunjukkan kamar tamu untuk Dinda. Dia menyuruhnya beristirahat karena pasti perjalanan mereka sangat melelahkan apalagi ditambah dua bocah cilik.


Pak Taufiq selaku Kepala Pelayan pun mengabari Tuan Besarnya yang tak lain adalah Daniel. Dia memberitahu majikannya bahwa Tiar membawa orang kerumah mereka. Dia tau pasti itu orang penting karena yang membawa majikannya sendiri, tapi tetaplah hal ini diberitahukan kepada Tuan Besarnya.


Daniel segera datang setelah mendapat kabar itu. Dia penasaran siapa yang dibawa Tiar. Saat tiba disana Daniel langsung menemui Tiar dan menanyakan hal itu, Tiar menceritakan pertemuan mereka dipanti dan Daniel mangut* mengerti.


"Yasudah kamu istirahat saja dulu." Ucap Daniel.


"Kak nanti kalau Peri kecil datang jelaskan saja, dia pasti tidak keberatan." Pinta Tiar dan hendak melanjutkan tidurnya.


"Yaa nanti biar aku yang menjelaskan, katanya dia pulangnya masih bulan depan." Jelas Daniel.


Waktu berjalan semestinya dan dengan kehadiran mereka dirumah itu, Dua Tuan Besar pun selalu pulang kerumah itu. Para pelayan sangat menghormati Dinda. Mereka menyukai sikap Dinda yang tak sombong dan mau berbaur dengan mereka yang hanya bawahan.


Dinda memang tak pernah pandang bulu dalam suatu hal.


Tak terasa sudah dua minggu mereka dirumah itu namun tak kunjung ada kabar tentang Ibunda Dania.


Tapi Dinda bersyukur karena semua orang menerima dia dengan senang, terutama Daniel yang selalu menghibur Dania. Mereka sangat dekat, Dania juga sering meminta dibacakan dongeng oleh Daniel untuk penghantar tidur.


Dinda memutuskan untuk pulang karena Dania juga tidak memaksa lagi untuk bertemu sang Bunda.


Dia mengemas barang yang mereka bawa. Setelah selesai mereka berpamitan dengan seisi rumah. Tiar mengantar mereka pulang sedangkan Daniel tak ikut.


"Selamat datang kembali cucuku..." sapa Ibu Jannah memeluk Dania.


"Kami hanya mampir Bii... saya mau pulang ke kota." Jelas Dinda menyalami tangan Ibu Jannah.


"Yasudah hati* yaa... sering seringlah datang kemari, pintu ini akan selalu dibuka untuk kalian." Ucap Ibu Jannah.


"Terimakasih Bi..." jawab Tiar dengan senyuman.


Mereka singgah disana sebentar, Ibu Jannah banyak bercerita tentang Tiar. Sedangkan Tiar sibuk menutupi wajahnya yang malu.


"Kamu itu beruntung, jarang sekali dia tersenyum. Dulu saja waktu kecil dia tak pernah tersenyum.. hanya orang yang beruntung yang dapat melihat senyumannya." Jelas Ibu Panti.


"Heheheee iyaa Buu saya beruntung. ' beruntung apanya otak beku oon kaya dia aja dibanggain. ' " Ucap Dinda dan gerutunya dalam hati.


Dania pergi bermain dengan teman sebayanya. Mereka bermain bola bekel, karena dia kurang mahir sesekali bolanya tergelinding.

__ADS_1


"Aduh.. yahh lepas lagi." Ucap Dania berlari mengambil bola.


"Ini sayang bolanya." Ucap seorang wanita memberikan bolanya pada Dania.


"Makasih Tante." Ucap Dania menerima bolanya dan langsung berlari kedalam.


"Anak yyang baik, cantik pula. Tapi wajahnya seperti tak asing." Ucap wanita itu, diapun pergi kembali kerumahnya.


"Kita pulang sekarang yaa.." ajak Tiar yang diangguki Dinda.


Mereka berpamitan dengan Ibu Jannah dan pergi.


Tira sudah menyetir mobil selama hampir 4 jam. Dia berncana mampir ke rumahnya untuk istirahat.


"Kita mampir yaa aku capek banget." Ucap tiar pada Dinda.


Dinda ingin menolak tapi Tiar terlihat sangat begitu lelah, tak tega ia menolaknya.


"Yasudah, kita mampir.. tapi dimana?" Tanya Dinda.


"Rumahku." Ucap Tiar cepat dan menambah kecepatannya.


"Apaa!!! Apa tidakada tempat lain?" Tanya Dinda lagi.


"Aku tidak nyaman ditempat lain. Tidak bersih." Ucap Tiar.


Dari kecil dia terkenal angkuh, dingin, tak pernah senyum, bahkan gila dengan kebersihan.


"Yasudah iya." Jawab Dinda sebal namun tak dapat menolaknya.


Mobil mereka sudah tiba dipintu gerbang rumahnya, Tiar menekan pin gerbangnya dan dengan otomatis gerbangnya terbuka.


Kawasan perumahan elit dengan jarak yang lumayan jauh antara tetangganya. Disitu pula para orang sibuk bersemayam. Tidak akan ada gosip untuk mereka bila bersama.


Tiar langsung masuk kerumah, merebahkan tubuhnya ke sofa dengan kasar. Danda menaruh haikal yang tengah tertidur kesofa dengan Dania.


Dia mengambil minum untuk mereka. Seusai minum mereka tertidur pulas disofa. Karena sofanya luas dan panjang, mereka dapat menyelonjorkan tubuhnya disana. Sedangkan Dinda yang tak dapat tempatpun duduk dilantai beralas karpet tebal dan bersender pada sofa.


Tiar terbangun karena merasa memegang sesuatu yang lembut. Benar saja saat ia membuka matanya, dia mendapati bahwa tangannya berada diatas dada Dinda. Ada rasa senang bercampur gemas ia rasakan. Ingin rasanya lebih lama dan bahkan memainkan benda itu, namun niatnya ia urungkan saat melihat wajah Dinda yang kelelahan.

__ADS_1


"Kasihan kamu ngurusin dua anak manusia nakal ini." Ucap Tiar lirih. Dia memindahkan tubuh Dinda ke kamarnya.


Dia juga memindahkan Dania dan Haikal ke kamar Tamu. Seusai itu dia membersihkan dirinya dikamarnya. Dinda terbangun saat mendengar suara guyuran Tiar.


__ADS_2