
Mentari sudah menyinari bumi dengan sempurna. Semua orang tengah sibuk dengan tugasnya masing masing.
Di dalam kamar hotel, Dinda tengah duduk di depan cermin besarnya. Ada 4 pelayan yang membantu dia disana. Mereka menjalankan tugasnya masing masing.
Nampak Mamanya dan Susan juga tengah sibuk merias diri mereka di ruangan sebelah. Sedangkan Dania dan Haikal diasuh oleh pelayannya.
Dikamar Tiar pun sedang mempersiapkan dirinya. Berbeda dengan wanita, dia sudah rapih sedari tadi. Namun hatinya sangat gelisah lantaran akan menikah, meski semalam Radit sudah menjelaskan beberapa hal tentang kekasihnya membuat Tiar semakin mencintai Dinda tapi ia tak mau ada kesalahan nanti, karena ini tetap merupakan hal yang sakral dan hanya dilakukan satu kali untuk seumur hidupnya.
Para tamu undangan sudah berada di aula salah satu hotel bintang lima milik keluarga Rahardian.
Susan dan Tiara berjalan mengiringi Dinda.
Sedangkan Daniel dan Satria berjalan mengiringi Tiar.
Dinda nampak anggun dan sanggat cantik, dia mengenakan baju pengantin yang berwarna putih tanpa lengan. Rambutnya disanggul indah, menampakkan lehernya mulus nya yang jenjang.
Sangat terlihat alami, make up yang tipis namun tegas membuatnya cantik.
Sedangkan Tiar mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan dasi kupu kupu. Dia mengenakan sepatu dan jam tangan bermerk nya dengan sebengkat bunga mawar merah ditangannya.
"Sayang kamu sangat menawan. Ingin rasanya aku ******* bibir mu saat ini juga." Ucap Tiar bersimpuh di depan Dinda, saat tiba di penghujung karpet merah yang terbentang di tengah aula dan memberi bunga pada Dinda.
__ADS_1
"Disini banyak orang apa kau tak malu?" Tanya Dinda menerima bunga pemberian Tiar.
"Tentu tidak." Jawab Tiar antusias dan segera berdiri.
"Jangan membuat ku malu. Aku takmau lipstik ku luntur belepotan gara gara kamu." Ucap Dinda pada Tiar dengan tertawa kecil.
"Iyaiya sayang..." jawab Tiar cepat. Dia memberi tangannya agar dirangkul Dinda.
Para tamu undangan melihat kedua mempelai yang begitu serasi. Mereka terkagum kagumakan dengan keserasian Dinda dan Tiar.
Tiar dan Dinda duduk dipelaminan.
Sedangkan Mama Nia dan Kak Daniel menjadi saksi Tiar.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan Sodara Tiar Raditiya Pramestu bin Bambang Pramestu dengan Sodari Dinda Alisa Rahardian binti Raditiya Rahardian dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni seberat satu kilo gram dengan berlian seberat 500 gram dibayar Tunai .." Ucap Bapak Penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Alisa Rahardian binti Raditiya Rahardian dengan mas kawin tersebut dibayar Tunai .." ucap Tiar.
"Para saksi sah..." ucap Bapak Penghulu.
"Sahhhhh.." jawab saksi dan yang lainnya serempak.
__ADS_1
"Alhamdulillahirabbilalaamiin...." Ucap Bapak Penghulu seraya membacakan do'a.
Tiar menyematkan cicin dengan berlian berbentuk hati dijari manis tangan kanan Dinda. Dinda juga menyematkan cicin yang sama tetapi tanpa berlian dan polos pada Tiar lalu mencium tangan Tiar. Dengan segera Tiar mencium kening Dinda, sangat lama...
Betapa bahagianya dia telah menikahi wanita cinta pertamanya. Wanita yang sangat ia sayangi. Sebulan yang lalu ia sangat takut akan kehilangan sosok Dinda, memang sudah takdir mereka untuk bersama.
Dinda hampir meneteskan air matanya. Tak tebayang bila perjodohannya bukan lah dengan Tiar, apa jadinya nanti hidupnya.
Kedua nya sama sama bersyukur atas pertemuan dan segala kejadian mereka, hingga perjodohan yang tak terbayangkan mereka alami berujung bahagia.
Setelah mencium tangan orangtua mereka.
Dinda merangkul lengan Tiar menuju ke panggung pernikahan.
Para tamu undangan dari kedua perusahaan menyalami mereka. Memberi selamat dan mendoakan kan terbaik untuk mereka berdua.
"Mama Nia jadi ngundang Mbak Muti kan?" Tanya Dinda pada Nia saat mereka berkumpul bersama di meja dekat panggung.
"Sayang, jadi kok Mama undang Mbak Muti. Mungkin lagi di lobi atau dijalan." Ucap Nia.
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca novel saya😊
__ADS_1