Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 20 ( Panti Asuhan )


__ADS_3

"Iya Pah.. makasih banget kalian udah mau ngertiin kemauan Dinda." Ucap Dinda menyeka airmatanya.


Mama dan Papa nya tak menyangka Dinda sedewasa ini. Sedari dulu dia hanya dimanja, pernah ia tak dimanja saat Mama Papanya bertengkar. Tapi setelahnya ia malah semakin dimanja.


Waktu berlalu begitu saja. Dinda mengemas barang yang akan ia bawa nantinya, Dia hanya membawa satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel.


Kopernya diisi beberapa baju Dania dan baju Haikal. Sedangkan ranselnya diisi bajunya sendiri. Dania juga membawa tas ransel yang diisi jajanan dan juga susu untuk Haikal.


Setelah menyiapkan itu Dinda beristirahat agar besok tubuhnya kembali vit. Susan yag membantunya menyiapkan semua itupun ikut tidur di kamar Dania.


Pagi yang cerah menyapa mereka, Dinda sudah memberi tahu Dania bahwa hari ini mereka akan mencari Bundanya. Dengan penuh semangat Dania akan menyiapkan bajunya.


"Sudah Kakak kemas semua. Ayo kita makan nanti jam 9 kita berangkat." Ajak Dinda.


"Iya Kak.." jawab Dania.


Dania bergegas cepat, dia menghabiskan makannya lahap. Dia sudah tak sabar menemui Bundanya.


"Kamu yakin ngga aku temenin?" Tanya Susan saat akan berpisah di stasiun.


"Nggapapa ngga usah khawatir. Nanti kalo aku butuh bantuan aku kabarin kok." Jawab Dinda.


"Yasudah... hati* yaa... jangan lupa kabarin aku setiap saat." Kata Susan memeluku mereka bertiga.


"Dada Kak Susan" Ucap Dania menarik tangan Dinda.


"Aku pergi dulu yaa..." Ucap Dinda yang dibalas anggukan dan senyumannya.


Satu jam kereta melaju dari Stasiun Mutiara sampailah mereka di Stasiun Karang Kerang, dari sana Dinda butuh waktu 15 menit menaiki angkutan umum.


Dinda menuju tempat Panti Asuhan Ujung Tengah, sampai disana dia mencari Ibu pegurus panti. Dia menanyakan tentang orangtua Dania.


"Jadi ngga ada informasi tentang Ibunya Buu?" Tanya Dinda pada Ibu Jannah selaku pengurus panti.


"Tidak ada nak.. Waktu itu Dia hanya meninggalkan Dania di gerbang, hanya secarik kertas yang ia taruh di saku Dania." Jelas Ibu Jannah lagi.


"Siapa yang mengantar Dania ke rumah saya waktu itu?" Tanya Dinda.


"Saat itu ibu masih sakit, yang mengantar Almarhum Suami Ibu. Ibu tak tau kabar Dania setelah itu karena suami Ibu meninggal saat mengantar Dania. Dia terkena serangan jantung. Ibu juga tidak tau Dania sudah dirumah keluarganya apa belum." Tutur Ibu Jannah.


"Saya turut berduka cita Bu.." Ucap Dinda tulus.

__ADS_1


"Terimakasih nak.. apa kamu kemari ingin mengembalikan Dania?" Tanya Ibu Panti yag lain penasaran.


"Tidak Buu dia adik saya." Jelas Dinda cepat.


"Saya permisi dulu Buu... Terimakasih." Pamit Dinda.


Sebelum Dinda pergi Tiar datang keruangan itu. Karena pintu terbuka dia masuk begitu saja.


"Kamu disini?" Tanya Tiar saat melihat Dinda disana, dia senang bisa bertemu Dinda.


Dia tidak menjawab, Dinda masih bingung harus bersikap bagaimana karena Tiar pernah ingin melamarnya.


"Kamu kenapa? Apa kamu kekurangan uang sampi mau menitipkan adikmu?" Tanya Tiar bingu.


"Tidak nona ini mau.." ucap Ibu Jannah namu sudah didahului Dinda.


"Aku mau nyari Bundanya." Jawab Dania menatap Dania.


"Apa ketemu? Apa ibunya kerja disini?" Tanya Tiar.


"Tidak, ibunya hanya meninggalkan Dania." Jelas Dinda.


"Apa Bibi tau dimana Bundanya." Tanya Tiar pada Ibu Panti.


"Yasudah Bu.. saya pamit pulang." Pamit Dinda lagi.


Dinda pergi meninggalkan Panti, Tiar mengekorinya berjalan ke pintu gerbang dwngan terus bertanya.


"Kamu kenapa bawa koper? Rumah kamu dijual?" Tanya Tiar.


"Iya sudah aku jual dan sekarang aku gembel gelandangan." Jawab Dinda ketus karena dia sebal dengan pertanyaan Tiar yang tiada henti.


"Ayoo kerumahku." Ucap Tiar menyambar koper yang Dinda seret. Dia juga mengambil ransel Dinda.


"Ehhh aku belum bilang iya." Gerutu Dinda sebal.


"Itu udah bilang iya." Jawab Tiar memasukkan tas dan koper Dinda ke bagasi.


"Sudah masuk cepat." Perintah Tiar.


"Iyaiyaa..." jawab Dinda singkat.

__ADS_1


Dinda duduk di depan sedangkan Dania di belakang. Tiar melajukan mobilnya menuju rumah makan pondokan sekitar sana karena waktunya sudah hampir makan siang.


"Kamu disini mau apa?" Tanya Dinda penasaran.


"Aku dulu tinggal disini." Jawab Tiar tetap fokus mengemudi.


"Ohh yaa? Aku juga dulu tinggal didekat sini. Tapi rumahku masih jauh kesana." Jelas Dinda.


"Kita makan dulu ya." Ucap Tiar saat sudah tiba didepan rumah makan pondokan itu.


Mereka turun dari mobil dan memasuki area pondokan. Mereka memilih pondok pojok karena disana ada kolam ikannya. Tiar memanggil pelayan.


"Saya pesan ayam bakar 3, gurame asam manis 1 dan kamu mau nambah apa sayang?" Tanya Tiar ke Dinda.


"Kak aku mau udang. Sama alpukat bodong." Ucap Dania cepat.


"Udang bakar madu aja buat Dania. Sama jus alpukat saja 2." Pinta Dinda. Dia tidak menambahkan nasi karena dipaket ayam bakar sudah ada nasinya.


"Saya Jus Sirsak. Sudah." Ucap Tiar.


"Ada tambahan lagi bu?" Tanya pelayan setelah mengulang pesanan.


"Ahh air putih hangat saja mbak." Pinta Dinda.


"Untuk apa sayang." Tanya Tiar.


"Buat susunya Hai." Ucap Dinda cepat.


Pelayan itu kembali untuk menyiapkan pesanan. Sedangkan Haikal merengek tak karuan, dia menangis tak henti*.


Dinda mengira Haikal sedang lapar, karena pelayan itu tak kunjung datang dia mengeluarkan jurusnya.


"Apa yang kamu lakukan? Aku tau kamu mau nggoda aku jangan disini dong." Ucap Tiar cepat saat melihat Dinda membuka kancing atas kemejanya.


"Enak saja, otak bekumu itu kronis, terlalu bodoh kamu ini." Celetuk Dinda mengejek Tiar yang tak masuk akal.


Dinda sudah mengeluarkan payudaranya dan menyodorkannya kepada Haikal. Tiar yang melihat pemandangan indah itu tanpa sadar diam menikmatinya hingga pelayan datang.


"Maaf Pak bapak ilernya mau netes." Ucap Pelayan itu ragu.


"Ahh iya. Kamu itu apa* an sih main buka aja ditempat umum gini." Gerutu Tiar sebal saat sadar melihat Dinda dia mencopot jaketnya dan menutupi dada Dinda.

__ADS_1


"Wajar saja Pak... namanya sudah jadi Ibu yaa mau dimana saja ngga masalah yang penting anaknya tidak menangis." Jelas Pelayan sembari menurunkan Kronjot (Piring Rotan) dan menu lainnya, setelah itu ia pergi meniggalkan mereka.


__ADS_2