Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 32


__ADS_3

"Pagii Nona." Sapa rapa staf kariyawan saat bersimpangan denganya.


"Pagi..." sapa Dinda balik pada mereka. Dia masuk menuju lift khusus agar cepat sampai di kantornya.


"Pagi Nona." Anton sapanya berdiri saat melihat Putri majikannya lewat.


"Pagi Sekertaris Anton." Sapa Dinda ketus dan segera masuk ke ruangannya.


"Kenapa Nona begitu? Apa saya berbuat salah? Apa dia sedang datang bulan jadi ketus kepada saya?" Tanya Anton dalam hatinya.


"Aku buatkan saja susu coklat, emm coklat panas aja mungkin yaa biar tambah enak. Kan cewek suka banget coklat." Ucapnya lagi.


Anton segera menuju pantry dan membuatkan coklat panas untuk Dinda. Saat Citra masuk kedalam pantry dia berpapasan dengan Anton.


"Bapak perlu saya buatkan minum apa?" Tanya Citra sopan.


"Buat kan saya Coklat panas yaa satu. Dan jangan terlalu panas." Pinta Anton yang diangguki Citra.


"Laki laki kok suka coklat." Gerutu Citra saat membuatkan minuman Anton.


"Ini Pak coklat panas nya yang nggak terlalu panas." Kata Citra menyodorkan cangkirnya.


"Terimakasih..." ucap Anton meninggalkan pantry.


Dinda tengah sibuk membolak balikkan kertasnya. Mejanya terlihat berantakan tak karuan. Saat pintu ruangannya diketuk, segera ia merapihkan berkas berkas itu.


"Nona , ini saya bawakan coklat panas." Ucap Anton saat sudah dipersilahkan masuk oleh Dinda.

__ADS_1


"Berapa kali aku harus bilang padamu?" Tanya Dinda ketus.


"Bilang apa Nona, saya salah apa?" Tanya Anton bingung.


"Jangan panggil aku Nona!! Nama ku adalah Dinda." Ucap Dinda tegas pada Anton.


Anton terdiam sesaaat Dinda, betapa kagumnya Anton pada Dinda. Wanita yang sangat anggun namun berwibawa.


"Kalau kamu masih panggil aku Nona, lebih baik kamu pindah ke devisi saja." Ucap Dinda mengancam, dia hanya tidak mau dipanggil Nona karena risih.


"Baik baik Nona.. ehhh Dinda." Jawab Anton cepat.


"Apa tadi Nona ketus kepada saya gara gara ini? Sungguh wanita yang luar biasa, andai dia gadis biasa tanpa status tingginya. Pasti aku sudah nikahi dia." Ucap Anton dalam hatinya dan ia pun tersenyum.


"Kenapa kamu?" Tanya Dinda heran melihat sekertarisnya tengah senyum senyum sendiri.


"Bagus. Biasakan panggil Nama ku. Oh iya kamu ada perlu apa?" Tanya Dinda.


"Aku hanya mengantarkan ini. Dan lagi apa perlu saya siapkan dokumen laporan dari bulan lalu untuk kita bahas?" Tanya Anton balik pada Dinda..


"Iya tolong siapkan dalam sepuluh menit kita bahas disini." Jawab Dinda tegas.


"Baik Nona." Ucap Anton, dia lupa lagi dengan nama Dinda.


"Ehmm..." Dinda berdehem mengingatkan.


"Maaf, sepertinya saya tidak bisa memanggil anda Dinda." Kata Anton bersedih, ia sudah terbiasa dengan sebutan Nona. Mungkin ini juga yang memperingatinya agar tak berharap lebih.

__ADS_1


"Sudahlah terserah kamu saja." Jawab Dinda pasrah, Anton pamit undur diri.


Tak berapa lama kemudian Anton kembali datang dengan setumpuk berkas. Mereka mengeceknya bersama.


"Aneh sudah dua kali aku cek, bahkan sudah empat kali sama kamu tapi hasilnya nihil. Tapi kenapa bisa? uangnya kemana coba." Ucap Dinda keheranan sendiri.


Begitu juga dengan Anton, dia juga bingung kenapa bisa sampai tidak ketahuan begini.


Satu hari penuh mereka mencari bukti penggelapan uang. Waktu tetap berjalan hingga sore hari, mereka memutuskan untuk kembali memeriksanya esok.


"Ayo kita pulang, aku lelah." Ajak Dinda yang langsung diangguki Anton.


Sudah tiga hari Dinda dan Anton menyelidiki kasus itu. Akhirnya mereka menemukan petunjuk.


"Jebak dia agar masuk dalam perangkap!! Aku sudah menyiapkan perangkapnya, kamu jalankan saja sendiri!" Perintah Dinda pada Anton.


"Merinding aku barusan, kaya ada aura pembunuh diruang ini." Ucap Anton dalam hatinya.


"Siap Nona, saya akan berusaha semaksimal mungkin sampai kertas terakhir." Jawab Anton siap.


"Apa maksud dari kertas terakhir?" Tanya Dinda tak paham.


"Kan kalo di medan perang titik darah penghabisan. Ini dikantor jadi sampai kertas terakhir." Jelas Anton sungguh sungguh.


"Benar juga kamu bwhahahahahaha." Tawa Dinda saat menyadari maksud Anton.


Hari ini dia pulang lebih cepat, karena besok hari libur dan Tiar akan datang melamarnya.

__ADS_1


Diluar Negri , Haidar tengah asyik menata kopernya. Dia berencana memberi kejutan dengan merahasiakan kepulangannya ke tanah air. Dia mengambil penerbangan malam dengan perkiraan jam 9 waktu setempat tiba di bandara.


__ADS_2