Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 19 ( Merasa Gagal )


__ADS_3

"Dimana Ayana?" Tanya Tiar pada semua pelayan yang ada disana. Semuanya diam membisu bukan karena tak tau, tapi karena ketampanan dan kharisma yang sangat kuat pada diri Tiar.


"Dia sudah tidak bekerja disini." Ucap Bu Yanti selaku orang yang dihormati setelah Dinda dan Susan.


"Apaaa!!! Kemana dia kenapa kalian tak ada yang memberitau ku?" Bentak Tiar pada semua kariyawan.


"Tuan tenang dulu tadi saya liat Nona ada disini tadi siang." Jelas Satria gugup. Dia juga tidak tau kalau Dinda sudah tak bekerja disini.


"Sialan,! Sia sia aku menyiapkan ini." Gerutu Tiar dalam hati. Dia meninggalkan restourant dengan emosi.


Disepanjang perjalanan pulan Tiar masih tetap marah dengan menceramahi Satria. Dia masih tidak habis fikir Satria bisa kecolongan informasi.


"Maafkan saya Taun, tapi pikah sana tidak memberikan informasi sedikitpun tentang Nona. Dan lagi pula Tuan melarang saya memberitahu tujuan Anda pada mereka. Yaa mana saya tau akan seperti ini. Andai saya kasihtau mereka niat Tuan untuk melamar ya pasti mereka memberitahu lebih awal." Ucap Satria membela diri, dia tak mau jadi amukan Tiar.


"Aalah sudahlah kau itu sukanya berandai andai terus." Bentak Tiar kesal.


***


Dirumah Dinda, dia sedang asyik menonton tv besama Susan dan adik adiknya. Semenjak orantuanya pergi dia sudah terbiasa memomong adiknya.


Dinda menggantikan Papanya dikantor dibantu oleh sekertarisnya. Karena Paman Ferdian juga ikut keluar negri, jadi dia yang memegang kekuasaan penuh dengan arahan dari Papanya.


Walaupun sangat lelah, tapi rasa itu akan hilang bila ia tiba dirumah bertemu dua manusia cilik yang sanggat menghiburnya.


"Dinda aku dapat kabar dari Bu Yanti, katanya Tiar datang memboking dan langsung menata dekorasi tadi." Ucap Susan cepat.


"Jam berapa dia datang?" Tanya Dinda sembari mengunyah kripik pisang kesukaannya.


"Sore ini, sebelum maghrib. Tapi dia langsung pergi lagi..." lanjut Susan terpotong.


"Pantas aku tak jumpa." Jawab Dinda


"Dia datang lagi jam 7 tadi... dan memarahi para karyawan." Ucap Susan lagi.


"Kekacauan apa lagi yang dia buat. Dasar tidak punya otak!!" Gerutu Dinda sebal, dia tak terima anak buahnya dimaki oleh orang lain. Dia saja tidak pernah memarahi mereka.


"Santay dulu... dia marah karena kamu tidak ada disana."


"Apa hubungannya denganku?" Tanya Dinda heran.


"Dia itu menyiapkan kejutan buat kamu. Dia mau melamar mu tapi tak memberitahu semua orang. Makanya dia marah pas tau kamu ngga disana. Ditambah lagi Bu Yanti bilang kamu udah ngga kerja disana." Jelas Susan lagi tetap memakan snack.


Dinda diam saat Susan menjelaskan. Dia tak menyangka kalau Tiar benar* tulus padanya. Dia berfikir bahwa Tiar hanya main* padanya.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana ini? Apa aku jelaskan saja padanya?" Tanya Dinda pada Susan.


"Entahlahh... aku tak mau ikut campur, aku cuma mau kasih saran kamu ya tinggal terima saja dia." Nasehat Susan.


"Bukan begitu, aku selama ini ngira dia cuma main* ehh taunya betulan." Jawab Dinda cepat.


Dinda melamun membayangkan keromantisan Tiar tadi, andai dia tau pasti dia tadi tidak pulang. Tiba* Dinda mendengar isakan yang hampir tak terdengar.


"Siapa yang nangis?" Tanya Dinda penasaran. Susan hanya mengangkat bahunya menandakan bahwa ia juga tak tau.


"Dania kamu denger ngga ada yang nangis?" Tanya Dinda pada Dania yang membelakanginya.


Dinda mengira Dania sedang bermain game atau apa siapa sangka yang mrnangis itu dia.


"Heeyyy sayang kamu kenapa? Apa kamu sakit?" Tanya Dinda pada Dania saat melihatnya matanya sembab.


"Kakak... aku ingat Bunda.." ucap Dania sedih.


"Kakak tau kamu pasti rindu Bunda, tapi Kakak Mama Papa Kak Susan tak ada yang tau Bunda ada dimana." Jelas Dinda memeluk Dania.


"Tapi aku rindu, aku ingin bertemu dengannya Kak..." ucap Dania lagi semakin menangis.


Dinda tak kuasa melihat kesedihan Dania, sering ia menangis bila ingat Bundanya. Dia pun mengajak Dania tidur, dia menitipkan Haikal pada Susan.


Setelah Dania tidur dia kembali ke ruang keluarga, disana Haikal sedang tertidur disofa.


"Sudah, aku tak tega melihatnya begitu terus." Ucap Dinda.


"Mau bagaimana lagi... kita nggatau orang itu ada dimana.." jawab Susan.


"Aku akan fikirkan caranya, kita istirahat dulu aja." Kata Dinda mengangkat tubuh Haikal perlahan. Menaruhnya di pelukan dadanya dan beranjak kekamarnya.


Kamar Dania ada di sebelah kamarnya, sedangkan Haikal tidur bersamanya.


Keesokan harinya seusai membersihkan diri Dinda memandikan Haikal, dia ingin membangunkan Dania tapi dia terlihat masih tidur.


Saat sarapan Dinda membangunkan Dania. Dipegang lengan Dania.


"Aahh panas." Ucap Dinda memeriksa tubuh Dania.


"Susan.. Susan.. panggil dokter!" Teriak Dinda dari dalam kamar Dania.


"Iya iya aku panggil sekarang." Jawab Susan sembari memegang hpnya.

__ADS_1


Sembari menunggu Dokter, Dinda mengompres kening Dania. Tak lama dokter keluarga pun datang dan memeriksa Dania.


"Sepertinya dia kurang istirahat. Dia terlalu sedih hingga matanya sangat sembab. Dia butuh istirahat dan hibur hatinya, dia masih kecil untuk menanggung beban." Jelas dokter itu,


"Iya dok, saya akan berusaha menjaganya lebih baik." Jawab Dinda.


Dokterpun segera pamit kembali diantar oleh Pak Imam.


"Kita harus gimana.." Tanya Dinda bingung, dia merasa gagal menjaga amanah orangtuanya.


"Sudah tenang dulu, kamu makan dulu sma Haikal." Ajak Susan.


"Aku mau disini, kalo Dania bangun ngga ada orang kasihan." Jelas Dinda cepat.


"Yasudah kita makan disini. Biar Pak Imam yang membawakan makanan." Kata Susan dan menyuruh Pak Imam membawakan makanan.


Dinda tak nafsu makan, dia hanya menyuapi Haikal, karena bila disuapi Susan, Haikal makannya sedikit.


"Nanti aku mau minta izin Papa Mama ngajak Dania pergi cari Bundanya." Ucap Dinda tiba tiba.


"Kamu yakin? Ini terlalu berat untuk mu menjaga dua bocah."


"Aku yakin, kau urus restourant biar nanti aku menyuruh sekertaris Papa menyelesaikan tugas." Ucap Dinda lagi.


Setelah selesai makan, Dinda langsung menghubungi orangtuanya.


"Mahh Pah.. Dinda mau ngomong." Ucap Dinda melakukan vidio call.


"Kenapa sayang bilang aja..." Jawab Mamanya.


"Dania sakit.. " Ucap Dinda berat.


"Kenapa bisa sakit?" Tanya Mama dan Papanya khawatir.


Dinda menceritakan kejadian semalam, dia juga mengutarakan niatnya pada orangtua nya..


"Baiklah kalau itu maumu, lakukan yang terbaik untuk adikmu." Kata Mamanya.


"Nanti Papa suruh Paman Ferdi pulang mengurus Perusahaan, biar asisten junior sama sekertaris 2 disini bantu Papa." Kata Papanya.


"Makasih Mah Pah.. dan Haikal akan Dinda bawa, dia kalo sama Susan tidak mau makan banyak. Susan juga harus mengurus resto." Jelas Dinda lagi.


"Bawalah dia, yang peting kamu hati* dan jaga jaga selalu." Ucap Mamanya.

__ADS_1


"Papa tidak akan memberimu pengawalan, yang penting kamu selalu mengabari kami ataupun orang rumah agar kami tak khawatir." Ucap Papanya.


"Iya Pah.. makasih banget kalian udah mau ngertiin kemauan Dinda." Ucap Dinda menyeka airmatanya.


__ADS_2