Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 25 ( Untung Tidak Marah )


__ADS_3

Tiar menyenggol kantung plastik dan membuatnya jatuh berserakan.


"Ini... Astaagaaa aku lupa. Cepat ke kantor sekarang!!" Perintah Tiar tegas, duduknya menjadi tak tenang.


Satria melajukan kecepatannya penuh, dia memutar arah kembali ke kantor. Tak butuh waktu satu jam mereka telah sampai ke pintu masuk kantornya. Tak seperti biasanya dia menunggu dibukakan pintu mobil.


Dengan segara Tiar turun dari mobilnya berlari kedalam dan segera meuju lift diikuti Satria. Satria tak tau menau Bosnya itu meninggalkanapa. Saat tiba di kantornya berada dia tak mendapati sosok yang ia cari. Dia pun menanyakan sekertarisnya.


"Apa tak ada wanita datang kesini?" Tanya Tiar dengan wajah serius.


"Tidak Tuan kami sudah mengusir mereka semua." Jawabnya ragu.


"Kamu yakin semua." Tanyanya lagi, dia mulai menyipitkan matanya tajam.


"Sebenarnya ada satu yang tenangah menunggu dilobi." Jawabnya gemetar.


Tiar berlari menuju lift dan memencet angka 1. Saat lift sudah terbuka dia mencari cari keberadaannya. Terlihat wanita dengan anggun sedang tertidur disofa.


"Kamu disini... maafkan aku." Gumam Tiar pelan membelai wajah Dinda lembut. Dengan segera ia mencopot jasnya dan menutupi tubuh Dinda. Menggendong tubuhnya ke ruangannya.


"Urus semua ini." Ucap Tiar menahan geram dan berlalu meninggalkan lobi. Saat itu masih pukul 3 siang. Hanya ada bagian resepsionis dan beberapa karyawan yang disana.


Tiar membaringkan tubuh Dinda diranjang kamar kantornya. Sesaat kemudian Dinda bangun.


"Kamu udah balik?" Tanya Dinda dengan suara serak, bukan khas bangun tidur tapi karena dia terlalu dehidrasi.


"Maaf aku tak sengaja meninggalkan mu.. tadi aku harus menandatangani kontrak, jadi aku harus kembali kesana." Jepas Tiar menggenggam tangan Dinda.


"Sudah aku ngga papa kok nunggu kamu, lagian aku juga dari tadi tidur." Ucap Dinda membuat Tiar lega.


"Tolong, air." Ucap Dinda lirih.


Tiar segera mengambilkan air untuknya. Satu gelas penuh Dinda meminumnya singkat. Sudah tiga gelas Dinda minum air.


Satria masuk membawakan makanan, dia menata makanan di meja. Dinda segera langsung menyantapnya tanpa basa basi layaknya wanita lain.


Seusai makan Tiar mengobati lengan Dinda yang sudah tidak terlalu merah.


"Apa tidak sakit? Kenapa kamu kaya biasa saja sih?" Tanya Tiar mulai sebal, dia berharap Dinda kesakitan dan memeluknya.


"Tidaklah, gini aja kok sakit aku itu sudah besar." Ucap Dinda membanggakan diri.


"Apanya yang besar, standar gini kok.." goda Tiar jail.


"Huhh menyebalkan sudah aku mau pulang." Kata Dinda ketus.

__ADS_1


"Iya iyaaa maaf.. yasudah ayo aku juga mau pulang." Ucap Tiar mengiyakan.


Keadaan kantor sudah lumayan sepi, para karyawan sudah pulang kerumah mereka masing*. Kali ini supirlah yang menyetir mobil mereka. Tiar mengantar Dinda sampai taman seperti biasa, disana dia sudah ditunggu oleh Susan.


Haikal dan Dania sudah dimandikan para pelayan. Dinda pun bergegas membersihkan dirinya. Seusai itu dia turun untuk makan malam.


Seperti kewajiban untuk mereka berkumpul di ruang keluarga. Dinda menceritakan kejadian itu pada Susan.


"Sudahlah kamu itu jatuh cinta padanya." Ucap Susan singkat.


"Mungkin iya.. aku akui sekarang.. hahaha sikap konyolnya memang membuatku ketagihan." Ucap Dinda membayangkan sikap konyol Tiar.


***


Diluar negri Radit dan Mia sudah menyelesaikan tugas mereka. Radit mengunjungi rumah sahabat lamanya.


"Maaf Tuan cari siapa?" Tanya seorang pelayan.


"Saya mencari Mas Bambang. Apa dia ada didalam?" Tanya Radit.


"Silahkan masuk Tuan... duduklah dahulu. Biar saya panggil Nyonya." Ucap pelayan.


"Ada siapa Bi..?" Tanya wanita paruh baya yag tak lain adalah istri sahabatnya.


"Radit.. apa kabar mu? Apa ini istrimu?" Tanya Nia menyapa sahabat suaminya ramah.


"Mas Bambang sudah tiada 10 tahun yang lalu..." ucap Nia memberikan senyuman paksa.


"Innalillahi wainailaihirojiun... Saya tidak tau Mbak, maaf saya tidak datang waktu itu." Ucap Radit sedih.


"Sudahlah itu sudah berlalu." Ucap Nia tegar.


" Apa kalian sedang liburan keluarga?" Tanya Nia.


"Tidak Mbak.. saya cuma sama Mas Radit., ketiga anak kami tidak ikut. Dia ada kakaknya yang menjaga." Jelas Mia.


"Kalian meninap saja disini.. sudah lama kau tak menginap dirumah kami." Ujar Nia.


"Dulu waktu itu kalian pindah tidak bilang kami mbak... terakhir kali bertemu saat Mia hamil Dinda. Itu saja mbak sudah lupa wajah Mia." Kata Radit tertawa kecil.


"Iya juga yaa... Oh ya ngomong ngomong anak kamu beneran cewek Dit?" Tanya Mbak Nia.


"Iya Mbak.. betul kata Mas Bambang anak saya perempuan." Ucap Radit senang.


"Alhamdulillah kalo gitu, jadi aku bisa menyampaikan amanah mas Bambang." Ucap Nia.

__ADS_1


"Iyaa... tujuan kami kesini juga mau bilang itu." Ucap Mia.


Mereka membicarakan banyak hal tentang anak mereka. Tanggal dan segala keperluan sudah dibahas dengan mantap. Selama tiga hari Radit dan Mia menginap disana.


***


Mentari telah menyinari bumi, Dinda dengan penuh semangat segera bangkit dari tidurnya. Hari ini dia sudah ada janji dengan Tiar untuk joging bersama.


"Susan kita berangkat naik motor saja ya... Aku sekalian mau bertemu Tiar." Ucap Dinda.


"Yasudah ayoo.." Ucap Susan mengenakan sepatu olahraganya.


Mereka berangkat hanya berdua. Dania dan Haikal sengaja tak diajak.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di area parkir taman. Dari kejauhan nampak Tiar sudah berlari mendekati mereka. Dia sudah disana sejak satu jam yang lalu. Badannya sudah dipenuhi keringat dimana mana.


"Kamu sendiri?" Tanya Dinda pada Tiar.


"Tuuuuu si keong tidak sampai sampai." Ucap Tiar menatap Satria.


"Ayoo.." ajak Tiar menarik lengan Dinda untuk berlari.


Tiar dengan Dinda berlari kecil. Sedangkan Susan sibuk dengan pemanasannya. Satria hanya menonton dirumput taman, dia sudah tak kuat berlari lagi. Sudah satu jam dia lari tak henti*.


"Udah ah aku capek." Ucap Dinda saat tiba di tempat Susan.


"Baru juga tiga putaran. Ayo lagi." Ajak tiar namun tak direspon Dinda. Dia sedang mengatur nafasnya yang tak beraturan.


"Payah!" Seru Tiar ikut duduk disebelahnya.


"Laparr .. Susan ayo makan." Ajak dinda.


"Kamu baru lari tiga putaran mau makan? Percuma lari yang ada nambah tu lemak." Ejek Tiar.


"Enak saja. Ini tu bukan lemak!" Dengus Dinda sebal.


"Terus apa?" Tanya Tiar penasaran.


"Ini tabungan ku yang berharga." Kata Dinda bangga.


"Yang benar saja. Dimana mana cewek ngumpulin tu baju perhiasan make up. Lah ini lemak di kumpulin." Celetuk Satria.


"Yasudah ayoo... kita makan dulu." Ajak Tiar menuju kedai pasangan didekat taman.


Dia sengaja mengajaknya kesana, Tiar berharap Dinda tak menolaknya. Dengan begitu dia yakin untuk menyatakan perasaannya nanti.

__ADS_1


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like dan komen yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih


__ADS_2