Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 28 ( Saling Merahasiakan )


__ADS_3

Dinda membuka pesan Tiar, dia membuang nafas lega setelahnya.


"Setidaknya aku masih bisa menghindar dengan situasi ini untuk bertemu dengannya. Kalau sudah waktunya aku akan bilang pada Tiar, lagi pula dia sedang banyak masalah kasihan kalau aku tambah dengan perjodohan ini." Gumam Dinda pada dirinya sendiri.


Anton yang duduk di depannya pun mendengar, dapat disimpulkan bahwa dia sedang dijodohkan Tuannya.


"Nona, masalah ini biar saya selesaikan sendiri dulu, nanti anda tunggu laporan dan hasilnya saja." Ucap Anton agar Dinda dapat mengurus masalahnya dulu.


"Maaf merepotkan mu Anton." Jawab Dinda singkat, Anton langsung meninggalkan ruang kerjanya.


Tak terasa sudah semakin sore, para karyawan sudah meninggalkan pekerjaan mereka. Anton berjalan menuju lift, dia melihat Dinda sedang dalam mood yang kacau.


"Nona apa mau saya temani makam malam?" Tanya Anton, dia tau bahwa Dinda tidak makan siang. Hari juga semakin gelap.


"Tak usah aku pulang saja." Ucap Dinda mengambil mantelnya.


Anton berjalan mengikuti Dinda. Saat tiba didepan lobi kepalanya terasa berat, untung Anton dengan sigap menopang tubuh Dinda dari samping.


"Nona anda tidak punya tenaga lagi, lebih baik kita makan dulu." Aja Anton lagi.


Dinda hanya tersenyum dan mengangguk, Anton membukakan pintu mobil untuk Nona muda nya. Dia mengendarai mobil Dinda menuju restourant milik keluarganya.


Nampak parkiran besment kantor, Tiar melihat sendiri dengan mata kepalanya Dinda tengah bermesraan dengan pria lain. Satria melajukan mobilnya mengikuti kemana mereka pergi.


Dia juga sudah menyuruh orang untuk mencari tahu siapa laki laki tadi.


Tiar sangat geram, dia berniat mendiskusikan masalh perjodohan ini dengan Dinda. Agar Dinda mau dikenalkan dengan Mamanya dan tidak ada perjodohan lagi.


"Tuan informasinya sudah lengkap, silahkan anda lihat." Ucap Satria saat menerima email dari anak buahnya.


"Jadi dia sekertari itu!! Yang dimaksud dengan rapat itu dengan sekertaris sialan ini!! Bisa bisanya dia main dibelakangku!" Umpat Tiar yang sudah emosi.


Anton sudah memarkirkan mobilnya, dia membukakan pintu mobil Dinda.


"Nona mari saya bantu, anda sangat lemas." Ucap anton sopan.


"Jangan terlalu sungkan, panggil saja namaku." Ujarnya pada Anton.


"Iya Nonaa... ehh Dinda." Jawab Anton, ada rasa senang saat memanggil nama Dinda dihatinya.


Anton memesankan makanan untuk mereka, dia hafal betul apa yang disukai Dinda. Wajar saja dia sudah menaruh hati untuknya sejak 2 tahun yang lalu sebelum Dinda pergi kuliah.


Tiar sudah tak dapat menahan amarahnya. Rahangnya sudah mengeras dan nafasnya sudah menggebu gebu. Sakit rasanya melihat wanita yang ia cintai bermesraan dengan laki laki lain.

__ADS_1


"Jadi ini kelakuan mu dibelakangku!!" Bentak Tiar menggebrak meja mereka.


"Sayang.. kenapa kamu disini?" Tanya Dinda kaget melihat Tiar didepannya, senang rasanya ia dapat bertemu Tiar.


"Siapa pria brengsek ini?" Bentak Tiar lagi.


"Dia Anton." Jawab Dinda cepat.


"Semesra itukan panggilan mu untuknya? Bukankah dia hanya sekertaris?" Tanya Tiar geram.


"Apa salahnya kalau saya sekertaris?" Tanya Anton balik pada Tiar.


"Kau harus ingat!! Dia itu pacar saya!!" Teriak Tiar lagi.


"Sudah cukup!! Apa kalian tidak malu dilihat orang?! Tiar cukup tak usah diperpanjang. Aku sudah kenyang Anton antarkan aku pulang." Ucap Dinda pada keduanya.


"Kamu!! Kenapa kamu yang marah?" Tanya Tiar mengejar langkah Dinda.


Satria segera menghadap manager restourant itu, kini kedua kalinya Tiar membuat masalah disana dengan orang yang sama. Setelah selesai dia langsung mengikuti Tuannya lagi.


"Aku capek aku mau pulang!! Jangan bikin masalah lagi." Ucap Dinda.


"Yang bikin masalah itu kamu!! Kamu yang main dibelakang aku! Kenapa kamu yang marah ke aku?!" Tanya Tiar menahan tangan Dinda.


"Oke kalo kamu mau pergi dengannya aku tak melarang. Aku juga sudah dijodohkan dengan Mama. Kita impas!!" Ucap Tiar tegas melepaskan tangan Dinda.


Dinda membelalakkan matanya. Dia tak percaya selama ini Tiar menyembunyikan hal besar di belakangnya.


"Selamat atas tunangannya." Kata Dinda, dia sudah tak dapat menahan air matanya. Dinda membuka pintu mobil dengan kasar.


"Terimakasih sudah mempermainkan ku! Tak kusangka anda sudah menyandang status tunangan orang namun masih ingin tunangan dengan saya." Ucap Dinda kecewa. Dia langsung masuk kedapam mobil dan menyuruh Anton segera pergi.


"Aarrrkkhh .... Siall !!! Dia yang main dibelakang aku yang salah!! Wanita memang tak pernah mau salah!!" Umapt Tiar.


"Apa yang perlu saya perbuat pada pria itu Tuan?" Tanya Satria


" Laki laki ******** itu akan ku urus sendiri setelah perjodohan ini selesai." Jawab Tiar pergi meninggalkan tempat itu.


Disepanjang perjalanan Dinda tak henti hentinya menangis. Saat sampai di pekarangan rumahnya mereka sudah dicegat oleh Radit.


"Kamu kenapa jadi gini?" Tanya Radit khawatir saat putrinya awut awutan.


Dinda tak menggubris pertanyaan Papanya. Dia hanya berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, saya yang salah!" Ucap anton


Radit hendak memukul sekertarisnya namun sudah dicegah Mia.


"Masuk dulu, jelaskan baik baik." Perintah Mia yang langsung diangguki Anton, beruntung wajahnya tak jadi kena hantam.


Anton menjelaskan semua kejadian tadi dengan detail. Namun ia tak mengatakan nama kekasih Dinda karena dia lupa.


"Terimakasih sudah menemaninya,." Ucap Mia


"Tidak nyonya, itu memang sudah tugas saya. Saya justru merasa bersalah pada Nona Dinda."


"Tidak apa. Itu malah bagus. Dengan begitu dia akan melupakan laki laki brengsek itu. Jadi tidak akan mempengaruhi perjodohan ini." Ucap Radit menjelaskan.


Anton segera pamit dari rumah bos nya itu dan diantar oleh supir mereka.


Dikamar Dinda sedang menangis tak henti henti, ia menceritakan semua pada Susan.


Sedangkan Tiar memilih untuk kembali ke rumah pribadinya, Satria dengan setia menemani Tiar. Mendengar keluh kesalnya yang tak henti henti.


Hingga menjelang pagi, keduanya baru bisa memejamkan mata mereka.


Susan sudah bangun terlebih dahulu, terlihat Dinda tidur mengernyitkan dahinya. Susan tau dia baru saja tertidur.


"Apa Dinda sudah bangun sayang?" Tanya Mama pada Susan.


"Belum Tan... dia baru aja tidur, nanti aja banguninnya pas sebelum mereka datang." Ucap Susan yang diangguki Mama Mia.


Tak berapa lama, Semua sudah siap dengan acara Tunangan itu. Karena Radit dan Mia anak tunggal kerabat lainnya pun sudah tak punya.


Radit hanya mengundang Ferdi , Anton dan Sekertaris Siska. Mia juga hanya mengundang Bu Yanti selaku manager restourant nya.


Memang mereka sengaja menyembunyikan ini karena status mereka akan mebuat kebencian untuk beberapa orang diluar sana.


"Aku mau membangunkan Dinda, Susan ayo bantu Tante." Ucap Mia pada suaminya dan Susan.


"Bantu dia berdandan, setidaknya menampilkan bahwa dia wanita." Ucap Radit.


"Kamu kira putri kita banci? Jelas dia wanita!" Teriak Mia pada suaminya, menurutnya penuturan suaminya diluar akal sehat.


Semua mata memandang sejurus kearah mereka ber tiga. Susan hanya tertawa melihat itu,


"Tante maksud Om itu biar Dinda cantik, kan dia ngga pernah dandan. Mungkin aja kalo dandan malah jadi kaya cowok." Celetuk Susan. Mia mangut mangut mengetri maksudnya.

__ADS_1


"Yasudah sana bangunkan Putri Tidur itu. Yang lain biar membantu menyiapkan disini." Jelas Radit diiyakan semua orang.


__ADS_2