
Ada rasa sedih dan juga senang Muti rasakan, sekarang Dania sudah tumbuh besar. Usianya sudah 5 tahun dan dia terlihat sangat bahagia bersama Ayahnya.
Namun hati nya teramat sakit, Dania sudah tak mengenali ibunya sendiri.
Seusai berbincang, Nia meminta Dinda membuka kadonya yang secara khusus ia siapkan.
Ada banyak hadiah yang mereka bawa, tetapi Nia hanya memberi Dinda tiga kotak agar langsung ia buka.
Kotak pertamanya berisi peralatan make up, semua jenis make up dengan merek terkenal yang belum pernah Dinda lihat.
"Makasih Tante.. Dinda akan berusaha Dandan." Ucap Dinda malu, ia mengira pasti karena dirinya tak pernah berdandan sampai dibelikan make up.
Kotak kedua berisi Mukenah dengan Sajadah lengkap dengan Al - Qur'an dan Tasbihnya.
"Makasih Tante." Ucap Dinda lagi dengan tersenyum.
"Tantee ini..." ucap Dinda takjub melihat perhiasan yang sangat cantik itu. Kalung anting gelang dengan cicin dan mahkota dihiasi dengan berlian yang sangat indah.
"Kamu tau dari makna ini semua?" Tanya Nia pada Dinda.
"Dinda ngga pernah dandan mungkin?" Tanya Dinda polos.
"Sayang kamu itu tak perlu dandan buat aku kamu itu selalu cantik kok." Celetuk Tiar yang langsung dicubit Mamanya.
"SEJATINYA SEORANG WANITA AKAN CANTIK WALAUPUN TANPA MAKE - UP , KARENA DENGAN KEIMANAN NYA LAH IA AKAN TERLIAHAT CANTIK DAN SEMPURNA. HINGGA DIA SEPERTI PUTRI RAJA." ucap Nia menjelaskan.
"Tantee... makasih banyak..." ucap Dinda dengan berlinang air mata.
"Panggil aku Mama. Karena kamu juga anak ku." Ucap Nia memeluk tubuh Dinda.
__ADS_1
"Sosssweeettt..." kata Tiara ikut memeluk
Mama dan Kakak Iparnya.
"Tiar!!" Tegur Radit saat melihat Tiar hendak ikut memeluk putrinya.
Semua nya sudah sibuk berbincang masing masing. Radit pun lupa menanyakan hal penting pada putrinya.
"Dinda Papa lupa. Kamu sudah menangkap koruptor itu?" Tanya Papa nya serius ditengah tengah kebahagiaan itu.
"Belum Pah.. tapi Dinda sudah tau siapa dan motif apa dia melakukan ini." Jawab Dinda cepat dengan melirik Anton.
"Apaaa!!! Dia sudah tau yang menggelapkan dana itu Budi?" Tanya Citra dalam hatinya.
Budi adalah kekasih Citra yang seudah tiga tahun bekerja di perusahaan itu. Umurnya hanya beda 5 tahun dengannya.
"Apaan sih kamu itu Pah.. masalah kantor kok dibawa bawa kesini." Kata Mia yang tengah asyik membahas cucu dengan Nia.
"Dan pelakunya akan segera kami tangkap Pak. Dia adalah," ucap Anton tiba tiba dan dicegah Dinda.
"Dia adalah orang perusahaan sendiri. Papa jangan khawatir." Timpal Dinda cepat.
Anton membaca isyarat apa yang dibicarakan sorot mata Dinda.
"Maaf Pak Radit Nyonya Nona dan yang lain, saya pamit undur diri dulu." Ucap Citra cepat.
"Kamu mau kemana?" Tanya Kakaknya, dia tak bisa bila ditinggalkan dalam kedua keluarga itu.
"Makan siang dulu saja.. ini sudah mau jam makan siang loh.." ajak Mia ramah.
__ADS_1
"Anuu.. saya mau makan siang. Iya saya sudah janji makan siang dengan teman." Jawab Citra gugup.
"Yasudah kalo gitu, kamu pergi saja ngga apa apa kok. Kan sudah ada janji." Kata Dinda mengiyakan.
"Iya baik, saya permisi dulu." kata Citra meninggalkan kediaman Rahardian.
Tak lama kemudian semuanya menuju ke meja makan. Mia sudah menyuruh para pelayannya memasakan untuk tamu nya.
"Maaf Nyonya.. saya.. saya tidak pantas untuk makan satu meja dengan anda." Kata Muti saat disuruh duduk.
"Muti, kamu itu sudah seperti saudara saya, kamu seperti anak saya sendiri. Kalau kamu tidak enak panggil saya Ibu." Kata Nia tulus pada Muti.
Dua tahun sudah dia mengabdi padanya. Tak ada penghianatan atau pun niat jahat dari Muti untukya, hingga Nia menaruh kepercayaan besar padanya.
"Tapi Nyonya.." bantah Muti.
"Panggil saya Ibu dan jangan membantah." Kata Nia lagi.
"Baik." Jawab Muti dan langsung duduk ditempatnya.
Meja makan diperluas, dua meja kini sudah dijadikan satu oleh pelayan.
"Nona, kenapa anda tidak bilang saja kepada Tuan bahwa wanita tadi juga terlibat?" Tanya Anton penasaran.
"Aku tak mau acara ini berantakan. Dan lagi dia itu adiknya Mbak Muti. Mungkin saja dia didesak jadi melakukan itu." Jawab Dinda cepat.
"Sudah jangan dibahas lagi." Ucapnya lagi yang diangguki Anton.
Dibandara Pesawat telah mendarat dengan sempurna. Haidar turun dan mengambil satu koper besar, menyeretnya menuju tempat tunggu taxi.
__ADS_1
"Pak ke Alamat ini ya." Ucap nya memberitahukan alamat yang ia tuju.
Haidar mengistirahatkan tubuhnya sejenak di dalam taxi.