Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 37


__ADS_3

Mereka masih terjaga dalam kantuknya. Duduk disofa memandangi kota dari sana. Banyak lampu yang menghiasi kota itu, namun mereka sama sama merasa gelap.


Gelap akan cahaya dalam hatinya, cahaya yang selama ini terang itu sudah padam. Tak ada lagi harapan bagi Haidar untuk mendekati Dinda. Dan tak ada lagi kata maaf yang akan Citra berikan untuk Budi.


Haidar menatap wanita cantik di sampingnya. Wajahnya yang cantik, dengan kulit putih bersih dan mata nya yang indah.


Teringat kata Tiar bahwa dia telah mencium Dinda. Dengan emosi Haidar meraih dagu Citra dan seketika mengucupnya.


"Kamu!!" Plakkk tamparan Citra mendarat di pipinya.


Haidar tersadar apa yang telah ia lakukan.


"Maaf, aku tak bermaksud." Ucap Haidar merasa bersalah. 'Apa kau bodoh!!! Kenapa kau mencium nya?' umpatnya dalam hati.


"Sudah lah itu ciuman pertama ku!! Tapi sekarang sudah tak guna lagi. Sudah tak ada orang yang kupertahankan untuk mendapatkan nya." Jawab Citra singkat.


"Itu juga yang pertama bagiku." Ucap Haidar cepat. Sama halnya dengan Citra, kini sudah tak ada guna untuk mempertahan kan nya.


Haidar kembali meraih dagu Citra , mengecup sekilas dibibir nya.


Kali ini Citra tak melawan. Haidar langsung mencium Citra dan memeluk tubuhnya dari samping.


Sama sama lelah dengan hal percintaan yang mempertemukan mereka.


Ciuman yang semakin dalam dan semakin ganas, tanganya ikut bermain mencopot kancing satu persatu kemeja nya.


Bibirnya berpindah mengecupi leher Citra, Kini baju nya sudah dilempar entah kemana. Keduanya menikmati setiap momet malam itu. Melepaskan kejenuhan mereka bersama sejenak disana.


"Pindah ke sana ya.." kata Haidar berbisik ditelinganya dan menunjuk ranjang hotel.


Dengan sigap ia membopong tubuh Citra. Melanjutkan aktivitasnya kembali di atas ranjang.


Haidar kembali ******* bibirnya, tangannya mulai membuka satu per satu pakaian Citra.


"Ini? Pertama kalinya bagimu?" Tanya Haidar.

__ADS_1


"Tak apa, lakukan saja." Jawab Citra mengangguk.


"Mungkin akan sakit, tahan ya.. aku juga baru pertama." Ucap Haidar kembali mengecup bibir Citra.


"Ahhh sakit... sakit.." kta Citra menggigit bibir bawahnya.


Citra menetes kan air matanya, kini kehormatannya sudah ia serahkan kepada laki laki didepannya. Setidaknya dia sudah menyelamatkan nya dari para preman tadi. Tapi kini dirinya juga yang memberikan nya pada dia.


"Tahan , aku akan melakukannya dengan pelan." Bisik Haidar ditelinganya. Haidar kembali ******* bibirnya, sesekali ia melepas ciumannya dan menciumi leher Citra.


Desahan desahan mereka beradu di dalam kamar itu. Melupakan segala masalah hari ini bersama sama.


...


Cahaya mentari telah menembus jendela, menyinari segala penjuru didalam sana.


Citra mengerjapkan matanya, dia melihat sosok laki laki yang menolong nya tadi malam.


"Wajah mu begitu teduh.. Tampan." Ucap Citra membelai wajah Haidar.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Citra kaget. Dia pun menutupi tubuhnya dengan selimut dan menggenggam nya erat di dadanya.


"Kenapa? Apa kau malu? Semua sudah ku lihat." Ucap Haidar tersenyum.


"Kau !! Pergi sana!!" Teriak Citra kesal.


Haidar pun bangkit dari tidurnya, tapi ia tak segera turun dari ranjang.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Citra ketiak Haidar gendak membopongnya.


"Mandi. Bukan kah kau meruruhku pergi? Tak mungkin aku pergi dengan seperti ini." Jawab Haidar membawa Citra ke dalam kamar mandi.


"Apa hubungannya dengan ku?" Tanya Citra kesal dan berusaha melepaskan diri.


"Kau membantuku mandi." Jawab Haidar dengan tersenyum. Pagi yang melelahkan untuk mereka, namun juga pagi yang menggairahkan kala itu.

__ADS_1


Seusai menuntaskan kegiatan mereka dikamar mandi, Haidar mengajak Citra pergi untuk sarapan di dekat Hotel.


"Kau mau makan apa?" tanya Haidar lembut.


"Bubur itu saja." jawab Citra menunjuk kedai kecil di pinggir jalan.


"Kau yakin?" tanya Haidar lagi. Citra mengangguk tersenyum.


Seusai sarapan Citra mengajaknya ke taman kota yang tak begitu jauh dari sana. Haidar memarkirkan mobilnya disana.


Mereka menghilangkan rasa penat yang masih tersisa, sesekali Haidar menatap lekat wajah Citra.


"Aku akan belajar mengikhlas kan Dinda. Dan aku akan belajar menyukaimu." gumam Haidar dalam hatinya seraya mengelus puncak kepala Citra.


"Aku yakin banyak Pria brengsek yang suka mengambil keuntungan dari wanita lemah sepertiku." ucap Citra memandang sembarang arah.


"Kau memang wanita yang lemah." kata Haidar datar membuat genangan di sudut mata Citra.


"Maka dari itu harus ada yang melindungi mu. Aku akan berusaha melidungimu." ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Benarkah?" tanya Citra menatap Haidar.


Haidar hanya membalas dengan senyuman nya lagi. Tangan nya kini sudah memeluk tubuh Citra dari samping.


"Aku tau kau orang baik, kau berkata demikian karena kau merasa bersalah sudah merenggut mahkota ku, Aku tak akan berharap lebih padamu. Karena semalam juga aku yang mengizinkan mu." ucap Citra dalam hatinya.


**


Di kediaman Rahardian, nampak Mama Susan Dinda Tiara dan Dania sudah rapih dengan penampilan yang kece.


Mereka hendak fitting baju pengantin,


"Bukankah yang mau fitting aku? Kenapa kalian semua ikut?" Tanya Dinda keheranan.


"Kita kan juga mau fitting baju sarimbit, biar couple semua gitu..." jawab Mama nya singkat.

__ADS_1


Mereka pergi fitting baju di tempat butik milik teman Mama Nia. Karena disana sudah aja ukuran Nia jadi dia tidak perlu ikut dengan mereka. Sedangkan Papa Radit dan Daniel akan disamakan ukuran bajuya.


__ADS_2