Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 14 ( Diluar Kendali )


__ADS_3

" Dia masih bernafas, mungkin dia cuma tertidur." Ucap Bu Yanti


"Mana mungkin, tadi aku denger dia bilang mati." Jelas Dinda sambil mengacungkan jari telunjuknya ke Satria


"Saya? Maaf Nona saya tidak mengatakan apapun." Elak Satria dengan tuduhan Dinda


"Jadi aku salah dengar?" Tanya Dinda bahagia


"Tentu." Jawab Satria singkat


"Kamu tidak salah dengar kata mati Nona, cuma yang akan mati itu saya bila berani merebut anda." Kata Satria dalam hatinya.


"Huufffft syukurlah tidak mati betulan" Kata Dinda merebahkan tubuhnya disamping Tiar. Dia duduk di sebelah Tiar kini jarak mereka hanya satu jengkal saja.


"Ibu balik dulu keruang ibu ya.." Pamit Bu Yanti mengelus kepala Dinda dan diangguki olehnya.


"Kenapa ada manager yang sangat baik pada pelayannya? Padahal dia sudah membuat banyak kekacauan disini." Batin Satria dalam hatinya.


"Kamu kenapa disamping aku?" Tanya Tiar pura* dengan suara serak khas bangun tidur.


"Kamu sudah bangun? Tanya Dinda membantu membetulkan posisi duduk Tiar.


Tiar memberi kode pada Satria, menyuruhnya meninggalkan mereka.


"Ehhmmm saya mau ke kantor Tuan ada file yang harus saya selesaikan." Ucap Satria langsung saat melihat Tiar memberi kode kepadanya


"Batalkan rapat sore ini. Aku tak bisa bekerja dalam beberapa hari ini." Jelas Tiar dengan menekankan intonasi pada setiap katanya.


"Rapat apanya.. memang hari ini jadwal kita kosong. Kan mau bertemu dengan Tuan Daniel." Gerutu Satria dalam hatinya


"Baik Tuan saya permisi." Jawab Satria cepat sambil berlalu meninggalkan mereka.


"Apa terlalu sakit sampai harus tidak bekerjaa..?" Tanya Dinda dengan nada lemas


"Tak apa.. bukan masalah besar." Ucap Tiar santai


"Maaf atas semuanya.." Ucap Dinda tulus


"Aku tadi tak bermaksud mempermalukan mu... aku hanya kaget. Tadi aku dorong kamu juga gasengaja.. cuma reflek aja kamu peluk aku sembarangan sih." Jelas Dinda


Tiar sudah tak tahan dengan godaannya. Tak ada orang didalam pintu pun sudah di tutup. Pastilah Satria sudah melarang mereka masuk.

__ADS_1


Dinda masih terus berbicara mengutarakan maafnya. Tiar benar* sudah tak kuat menahan lagi.


"Kamu makan apa saja tidak usah bayar, aku akan menanggung semuanya aku benar* minta maaf dan lagi aku eemmhh" Ucap Dinda terputus. Tiar sudah ******* bibirnya cepat.


Dinda melawan tapi tenaga Tiar jauh lebih besar darinya. Hingga Dinda menyerah tak melawan lagi. Tiar memper lembut ciumannya tanpa sadar Dinda menikmatinya. Dia mulai memejamkan mata dan melingkarkan tangannya pada bahu Tiar.


Begitu sangat dalam ciuman mereka hingga nafas keduanya sudah tak beraturan. Tiar sudah membuka Jas nya melemparnya kemeja, dia merebahkan tubuh Dinda disofa. Tangannya megang erat tangan Dinda dan yang satu membuka satu persatu kancing kemeja hitamnya.


Saat semua sudah terlepas dia mengecup lembut leher Dinda. Membuat Dinda mendesah kecil, desahannya sangat indah membangkitkan gairahnya.


Sedari tadi Dinda merasakan ada yang aneh di selangkangannya. Desahan Dinda membuat junior Tiar meronta* dibalik celananya. Saat Dinda sudah menyadari bahwa itu adalah alat milik Tiar segera ia mendorong kencang tubuh Tiar.


"Kamu dorong aku lagi?" Tanya Tiar kesal


Plaakk!! Telapak tangan Dinda mendarat tepat di pipi kiri Tiar. Dia langsung bembetulkan bajunya dan berlari keluar ruangan.


"Bodoh kamu Dinda bodohh!!!" Umpatnya dalam hati dirinya sendiri.


Tiar hanya duduk mematung. Dia baru sadar saat Dinda menamparnya. Dia merasa bersalah pada Dinda.


Plaakkk!! Tamparan yang amat keras dari tangannya sendiri di wajah kanannya.


"Kenapa kamu lakukan itu? Apa kamu bodoh? Kenapa kamu diluar kendali gini si?" Ucapnya kesal, dia langung mengambil jas nya menuju kamar mandi di dalam ruangan itu.


"Apa dia sudah pergi?" Tanya Dinda pada pelayang yang lewat


"Sudah Mbak... baru saja." Jawab pelayan itu singkat


Para karyawan tidak tau apa yang terjadi disana, Dinda pun langsung menghapus rekaman Cctv ruang itu.


Berbeda dengan Susan, dia tau betul Dinda kenapa.


"Apa dia nyium kamu lagi?" Tanya Susan saat diruangan Dinda


"Hmmm " jawab Dinda tanpa menoleh ke arah Susan


"Haahhhh sudah dapat disimpulkan." Kata Susan membuat Dinda menengok ke arahnya


"Apa maksud mu?" Tanya Dinda


"Ituu.. aku sudah tau ceritakan saja." Jawab Susan sambil membuka baju Dinda menunjukkan bekas ciuman Tiar di leher bawah Dinda

__ADS_1


Dinda menceritakannya. Dia menangis tak karuan.


"Untung tadi aku langsung sadar." Ucap Dinda disela isakannya


"Sudah jangan sesali lagi.. kamu juga kenapa nggak nolak dari awal." Tanya Susan


"Aku juga ngga tau, aku akrrghhh entahlah." Ucap Dinda sebal


Hari semakin sore, Dinda dan Susan pulang dahulu dari karyawan yang lain. Tak ada yang membicarakan masalah tadi lagi. Semua sudah berlalu.


***


Ditempat lain 3 pemuda yang tumbuh bersama sedang berkumpul , tetapi Tiar sedang menyesali perbuatannya pada Dinda. Pastilah kini Dinda menganggap bahwa Tiar laki* brengsek.


Kegusaranya dirasakan oleh Kakaknya dan Satria.


"Kamu itu kenapa? Kok malah bengong dari tadi. Katanya perusahaan sedang pesat* nya berkembang." Tanya Daniel melihat ekspresi adiknya yang tak enak itu


"Bukan begitu Kak, dia tadi bertemu pujaan hatinya." Goda Satria pada Tiar, dia hanya melirik tanjam Satria.


"Apa perempuan yang waktu itu?" Tanya Daniel menyelidik, pasalnya adiknya itu tak pernah dekat dwngan wanita manapun kecuali Dinda.


"Kak Daniel tau? Akhh kukira hanya aku yang tau masalah besar ini." Ucap Satria sebal, dia belum menceritakan soal Dinda tapi Kakaknya sudah dapat menebak.


"Kau tau kak tadi mereka berdua sangat lamu di ruangan VIP." Goda Satria lagi


Tiar hanya diam tak terasa cairan bening dari matanya jatuh.


"Kamu nangis? Kenapa bisa sampe kayak gini? Bwhahahahahaha apa dia begitu hebat sampe bisa buat kamu nangis? Aku bangga padanya." Ucap Daniel dengan nada puas, Dia dan Satria tertawa terbahak bahak.


Sedangkan Tiar malah semakin menjadi cengeng.. Dia menutupi wajahnya yang sudah basah semua itu.


"Aku tadi melecehkannya." Ucap Tiar lirih dengan suara gemetar, hampir tak terdengar oleh keduanya.


"Aappaa!!!" Bentak Daniel


Buuagghh!! Buuagghhh!!! Buuuaaggghhhh!!!


Tiga pukulan yang diterima Tiar dari sang Kakak. Dia hanya diam menerima pukulan dan tak melakukan perlawanan sedikitpun.


"Kau tauu harusnya kau menghormati harkat dan martabat wanita!!" Teriak Daniel lantang dan menggema di ruang tamu rumah Tiar itu.

__ADS_1


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih


__ADS_2