Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 27 ( Kepulangan dengan Perjodohan )


__ADS_3

Sudah tiga hari semenjak kejadian itu, Tiar berkunjung ke kantor Dinda untuk makan siang bersama di dekat kantornya.


"Sayang hari ini aku ngga bisa nemenin kamu makan siang, aku mau jemput mama dibandara." Ucap Dinda pada Tiar dari sambungan telepon.


"Yahhh... kok kamu baru bilang sih! Tau gitu aku ikut ke bandara aja." Gerutu Tiar sebal.


"Sudahlah nanti kalau sudah waktunya akan aku kenalkan kamu ke mereka." Ucap Dinda lagi.


"Yasudah kamu hati hati sayang, aku ada rapat. Sampaikan salamku kepada mereka, bilang bahwa calon menantu akan segera datang." Ucap Tiar dengan bangga.


"Iyaiya.. sudah yaa byee sayang." Dinda memutus sambungan.


Dibandara nampak jet pribadi milik keluarganya sudah mendarat dengan sempurna. Dinda dan Susan beserta adiknya tak menemukan sosok yang ia cari.


"Kok mama sama papa ngga ada sih? Dimana coba. Dania sudah tidak tahan ini mau pipis." Kata Dania yang sudah mulai bosan.


"Yasudah ayo kakak antar biar kak Susan aja yang tunggu." Ucap Dinda.


Dania ketoilet diantar Dinda, karena Dinda juga sudah kebelet.


"Kak tolong ambilkan tisue toilet, disini habis." Teriak Dania namun Dinda baru saja masuk ke toiletnya.


Toktoktok.. pintu kamar mandi Dania diketuk. Diapun segera membukanya.


"Kak tunggu betulkan baju dan celanaku." Pinta Dania tanpa melihat orangnya.


"Kakak betulkan." Ucapnya saat keluar dari toilet.


"Nenek siapa? Dimana kakak ku? Apa nenek yang tadi memberi tisu untukku?" Tanya Dania bertubi tubi.


"Iya.. sini biar nenek bantu. Wajah kamu tidak asing buat nenek." Ucap Tante Nia, ada rasa senang ketika ia dipanggil nenek.


"Makasih nek." Ucap Dania saat Nia sudah membantunya membenahkan pakaian.


"Nenek pergi dulu yaa... semoga bertemu lagi." Ucap Nia meninggalkan Dania.


"Kamu tadi ngomong sama siapa?" Tanya Dinda saat keluar dari toilet.


"Itu nenek yang membantu Dania pakai celana." Jawab Dania menarik Dinda berjalan cepat agar dapat melihat nenek tadi.


"Yah sudah tidak ada." Kata Dania kecewa.


"Sayang...." teriak Mama Mia yang tak berada jauh dari mereka.

__ADS_1


"Mama...." jawab Dinda dan Dania. Memeluk erat mamanya yang dirindukan nya.


Setelah tiba dirumah mereka beristirahat. Hingga tibalah saat makan malam. Meja makan yang tadinya longgar kini terasa sesak lagi, seusai mereka menghabiskan makanan mereka duduk santai di ruang keluarga seperti biasanya.


"Dinda kamu sudah dewasa, ada yang ingin kami sampaikan nak." Ucap Papanya membuka pembicaraan.


"Ada apa Pah?" Tanya Dinda penasara, ia mengira akan menjadi Presdir di perusahaannya.


"Sepertinya aku tidak bisa." Ucap dinda langsung.


"Loh kamu belum tau belum nyoba kok langsung nolak?" Tanya mama Mia.


"Mengurus perusahaan sangatlah sulit Pah..." rengek Dinda tak suka.


Radit dan Mia tertawa kecil.


"Kenapa Mama sama Papa malah ketawa?" tanya Dinda heran.


"Bukan itu maksud kami, kamu harus menikah ini sudah waktunya." Ucap Mia langsung.


"Apaaa!! Tapi Dinda baru 20 tahun Mah Pah." Jawab Dinda tegas.


"Apa salahnya? Dulu Mamah juga umur 20 tahun." Timpal Mamanya enteng.


"Kamu akan menikah dengan anak sahabat Papa dulu." Kata Papa Radit.


"Kenapa harus dengan anak sahabat Papa?" Tanya Dinda kecewa.


"Karena Papa sudah banyak berhutang budi padanya. Perjodohan ini sudah kami tetapkan sebelum kamu lahir jadi kamu ngga bisa nolak!" Ucap Papanya tegas.


"Tapi Pah Dinda sudah.." ul


"Jagan ada tapi! Papa paling tidak suka tapi!" Jelas Papa lagi.


"Aku nggamau pokoknya aku gamau!!" Tolak Dinda pergi meninggalkan mereka.


Dikediaman keluarga Pramestu tengah berkumpul Nyonya besar dengan dua tuan muda dan nona muda mereka.


"Tiar kamu akan menikah dengan anak sahabat Papa." Ucap Mamanya mengagetkan mereka semua.


"Kenapa harus Tiar? Kenapa tidak Kak Daniel dulu?" Tanya Tiar dengan nada tinggi.


"Karena kamu yang sudah dijodohkan. Sudah jangan membantah ini wasiat Papa." Ucap Mamanya Tegas, Nia meninggalkan semua anaknya.

__ADS_1


"Akhhhhh sial!" Umpat Tiar kesal.


"Kakak sudahlah lagi pula kamu itu tidak punya kekasih, kan lumayan tidak pusing milih." Ucap Tiara dengan terkekeh.


Dia adalah adik semata wayang yang Tiar punya, anak ke empat dari keluarga Pramestu, Tiara Rania Pramestu. Tiara mempunyai kemabaran bernama Tifani Rania Pramestu yang sudah tiada.


Dengan kesal Tiar masuk kedalam kamarnya. Dia tidak bisa membayangkan bila dia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Lalu bagaimana dengan nasib cintanya sendiri? Harus bilang apa ia pada Dinda.


Malam semakin larut Dinda dan Tiar larut dalam masalah mereka masing masing. Hingga fajar telah menampakkan sinar namun mereka belum juga memejamkan mata.


Dinda tetap berangkat kekator seperti biasanya.


"Nona anda kenapa?" Tanya sekertaris Anton saat melihat ekspresi Dinda. Dia tak bergeming untuk menjawabnya.


Banyak yang menatap kearah Dinda. Tak ssperti biasanya dia terlihat anggun dan mempesona. Hari ini sungguh berbeda dengan kantung mata yang nampak jelas.


"Ferdi bagaimana keadaan kantor?" Tanya Radit pada asistennya. Diruang kantornya, Dinda dan Anton pun ada disana sebagai penanggung jawab juga.


"Baik Tuan, namun kemarin ada sedikit penyelewengan dana dari pihak tak bertanggung jawab. Nona Dinda dan Anton sedang menyelidiki lebih lanjut." Ujar Ferdi.


"Berapa kerugiannya?" Tanya Radit lagi.


"Hampir 150 juta." Jawabnya singkat.


"Dinda selidiki dengan baik usut kasus sampai ke meja bundar. Papa yakin kamu akan menanganinya dengan baik. Jangan bawa masalah keluarga dalam pekerjaanmu!!" Ucap Radit tegas. Dinda hanya mengangguk dan meninggalkan kantor Papa nya.


"Tuan, sebenarnya beberapa hari yang lalu.. Nona tanganya terluka saat hendak rapat tender." Ucap Anton.


"Terluka bagaimana?" Tanya Radit belum paham maksud Anton.


"Anu... ada ofice gril yang menabrak Nona saat bawa susu panas."


"Dia juga memaki Nona, tapi saat dia tau Nona putri anda dia segera minta maaf dan Nona juga tidak mempermasalahkan." Jelas Anton lagi.


"Sudah biarkan saja mungkin dia tidak sengaja menyenggol." Ucap Radit serta mengibaskan tanganya, memberi isyarat mereka untuk meninggalkan ruangannya.


Dikediaman Pramestu tak ada satupun dari mereka yang beranjak dari rumah.


"Tiar ingat besok kita akan pergi ke rumah Om Radit. Jangan membantah! Dia banyak berjasa pada kita, jika bukan bantuan darinya mana mungkin Papa kamu bisa membangun perusahaan. Ini sudah waktunya membalas budi paham!" Ucap Nia tegas pada putranya.


Dia tau sikap Tiar yang keras kepala, tapi dia yakin anaknya tak akan membantah perintah darinya.


Tiar mengurung diri dikamar, dia tidak bersemangat kekantor.

__ADS_1


'Sayang maafkan aku aku tak bisa menemanimu makan siang. Aku sedang banyak masalah dikantor.'_pesan Tiar pada Dinda.


__ADS_2