
"Kamu dengar sayang, kalo kamu capek ngga baik buat anak kita." Sambung Tiar hendak mengelus perut Dinda dan langsung ditepis tangannya.
"Jangan pegang pegang." Gerutu Dinda sebal. Dia sangat kesal karena niatnya mengerjai Tiar malah dikerjai balik.
"Sabar denn... namanya juga ibu hamil emosinya ngga menentu." Kata ibu itu lagi dengan memberikan rujak dipiring kepadanya, tapi langsung disambar Dinda
"Yaampun segitunya kamu pengen makan rujak."
Dinda tidak menjawab dia langsung duduk di kursi sebelah Ibu penjual rujak.
"Buu buatkan satu lagi dibungkus." Pinta Dinda lagi ,Karena sudah lama ia tak makan rujak ia merasa kurang bila hanya satu porsi.
Tiar menggeleng gelengkan kepalanya. Baru kali ini dia bertemu perempuan seperti Dinda. Penampilan yang sederhana tanpa riasan apapun, tak perduli terik matahari akan membuat wajahnya kusam. Tiar berfikir bahwa Dinda orang yang kurang mampu.
Tapi baginya Dinda sudah sangat istimewa. Dinda dapat membuatnya gusar dan gunda, apalagi dengan tingkah yang kadang konyol membuat ia tertawa. Terkadang Tiar menjadi bodoh di hadapan Dinda.
"Itu jangan dimakan neng, aduh maaf ibu lupa." Ucap Ibu Rujak mengagetkan Dinda.
"Loh kenapa buk?" Tanya Dinda penasaran
"Ini nanas jangan dimakan, neng masih hamil muda ngga boleh, Sini biar ibu ganti." Jelas Ibu Rujak
"Ngga usah buu... biar saya yang makan." Kata Tiar
"Sayang sini jangan dimakan, biar kamu dibuatkan yang baru saja." Kata Tiar lembut meminta piring rujak Dinda
"Tapi akuu mau ... emh " Tolak Dinda malah dicium Tiar.
"Menyebalkan dasar otak beku. Apa kau tak bisa berfikir ini itu tempat umum?!! Apa kau tak punya malu?" Bentak Dinda pada Tiar yang menciumnya tiba tiba.
"Aduhh pasangan muda inii, sudah* neng jangan marah kasihan bayinya." Nasihat Ibu Rujak memberikan rujak yang baru . Dan diterima Tiar sekalian membayarnya.
"Satu lagi dibungkus ngga pake nanas ya." Jelas Ibu Rujak mengulang pesanan.
"Iya buu.." Jawab Dinda singkat menerima piring dari Tiar.
__ADS_1
Dinda menikmati rujaknya dengan penuh penghayatan, Tiar hanya menatap wajah cantik Dinda tanpa memakan rujak itu.
"Jangan liat aku terus abisin tuh." Ucap Dinda saat menyadari Tiar menatapnya terus.
"Ngga aku ngga suka rujak." Ucap Tiar
"Yaudah." Jawab Dinda ketus
"Belepotan banget si, dasar anak kecil." Ejek Tiar sembari mengelap pinggir bibir Dinda yang penuh sambal rujak.
Dinda tersipu malu karena celemotan, Ibu Rujak hanya diam melihat tontonan romantis life itu.
"Sudah ayo pulang." Kata Dinda mengagetkan Tiar dari lamunannya.
Mereka berjalan menuju Ibu Rujak, mengambil pesanan yang dibungkus.
"Sudah selesai ya.. Ini rujaknya." Ucap Ibu rujak "Ibu doakan anak kalian sehat, kalo perempuan pasti cantiknya kaya neng dan kalo laki laki gantengnya melebihi aden, lebih bagus lagi kalau kembar." Do'a Ibu itu tulus.
"Aamiin... makasih ya bu doa' nya." Balas Tiar, dia berharap suatu saat ucapan ibu itu benar.
"Sayang tali sepatu kamu lepas." Kata Tiar tiba-tiba dan langsung berjongkok di depan Dinda.
"Jagoan Papa sudah makan rujaknya yaa.. kita pulang istirahat." Ucap Tiar didepan perut Dinda yang arat itu, mengelus lembut seolah benar* ada janin didalamnya.
Cuupp kecupan Tiar mendarat di perut Dinda, membuatnya tambah kesal dan geram. Ingin rasanya Dia memaki Tiar.
Dinda hanya berusaha tersenyum palsu, giginya dirapatkan kuat kuat. Dia langsung menuju mobil.
"Sayang tunggu aku, Terimakasih buu.. doakan juga supaya kita bersama sampai tua punya cucu dan hanya maut yang memisahkan." Pinta Tiar yang langsung di Aamiin oleh ibu itu.
Dia mengejar Dinda menekan remote kontrol mobilnya agar Dinda bisa langsung masuk, mereka melakukan perjalanan menuju rumahnya.
***
Setelah selesai memasak , Dinda pamit akan pulang. Tiar mentantarnya ke taman Kota lagi. Disana dia sudah dijemput oleh Susan.
__ADS_1
"Sampai ketemu lagi, hati* yaa sayang." Ucap Tiar saat didalam mobil.
"Apaan sih ini sudah tidakada siapa* tak usah berpura pura lagi." Jawab Dinda ketus melepas sabuk pengaman.
"Aku betulan kok. Hati hati yaa sayang." Ucap Tiar lagi mengelus lembut puncak kepala Dinda.
"Jaga diri baik baik, kamu ngga boleh kecapek an dan jangan banyak berjalan dulu." Ucpanya lagi.
"Iya iyaa kan cuma bengkak sedikit." Gerutu Dinda sebal membuka pintu mobil dengan kasar.
Tangan Tiar menahan Dinda, dia memeluk tubuh Dinda pelan,
"Aku tak mau kamu kelelahan, kasihan anak kita." Bisik Tiar ditelinga Dinda, dan mendapat hantaman ringan di lengannya.
Mobil Tiar sudah berlalu dan sudah tak terlihat. Susan menghampiri Dinda , mereka pulang menuju rumahnya menggunakan mobil Dinda yang tadi pagi.
Disepanjang jalan Dinda menceritakan kekonyolan Tiar, Susan tertawa terbahak bahak karena tak percaya Dinda dikerjai orang lain. Mereka tertawa riang di tengah kemacetan sore itu.
***
Semenjak kejadian itu, Tiar tak canggung lagi dengan Dinda. Dia sering berkunjung ke restourant nya, Dia juga meminta nomer ponsel Dinda.
Tanpa terasa sudah 2 bulan berlalu, sudah berkali kali juga Tiar mengutarakan isi hatinya kepada Dinda namun ia tak pernah menerima balasan dari Dinda. Lagi lagi Dinda menyelimurkan percakapannya saat dia mengungkapkan perasaannya.
Malam hari saat keluarga Rahardian berkumpul setelah makan malam,
"Dinda.. Mama sama Papa lusa akan pergi ke luar Negri sayang. Papa ada urusan Disana." Ucap Mama Mia
"Iya.. Papa juga nemu alamat Sahabat Papa dulu yang pindah kesana, mungkin setelah selesai urusan Papa, kami akan menginap di tempatnya beberapa hari." Jelas Papanya
"Berapa lama kira* nya Pah?" Tanya Dinda yang sedang sibuk menggoda Haikal
"Satu Bulan, ditambah jalan* mungkin bisa sampai 2 bulan. Kan Papa sudah lama tak bertemu dengannya." Jelas Papanya lagi
"Yasudah tak apa... kan ada Susan sama Dania disini." Jelas Dinda mengiyakan
__ADS_1
"Haikal kami tinggal sayang." Ucap Mamanya lagi.
Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu untuk mampir dan membaca novel saya😊 jangan lupa like, komen dan vote yaa kak😊 Biar saya tambah semangat buat Updatenya. Dukungan dari kalian adalah semangat untuk saya Terimakasih.