Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 5 ( Godaan dari Bidadari )


__ADS_3

"Heeyy sudah liat nya. Ayo ikut aku ke ruang keluarga." Ajak Dinda


"Mahh Pahh ini Susan sahabatku." Jelas Dinda pada orangtuanya.


Susan menyalami tanyan mereka dengan sopan, Susan masih diam belum berani berbicara


"Jadi kamu Susan yaa, Dinda banyak cerita lohh tentang kamu. Ayo sini duduk." Jelas Mama Dinda mencairkan suasana


"Iya tante, maaf pakaian saya lusuh. Tapi Dinda itu siapa tante?" Jawab Susan menjelaskan sebelum ia duduk di sofa yang bersih itu


"Dinda itu aku." Jelasnya


"Bukannya namamu Ayana." Susan menjadi bingung menggaruk tengkuknya


"Iya. Itu cuma nama samaran nama asliku Dinda." Jelasnya


"Ohhh begitu rupanya. Patas waktu itu kamu aku treakin responnya lama... kukira kamu rada tuli" jawab Susan sambil terkekeh


Suasana disana semakin mencair, obrolan banyak kesana kemari tentang Dinda. Susan sesekali membuat lelucon yang menjadi bahan candaan mereka.


Rumah itu menjadi ramai, Dinda juga telah kembali ceria seperti dulu membuat orangtuanya senang. Biasanya mereka hanya bercanda bertiga sekarang mereka tambah rame karena candaan Dinda yang dibalas Susan.


"Ngomong* orang tua kamu kerja dimana Susan." Ucap mamanya


"Di perusahaan tante. Cuma jadi pegawai biasa." Ucap sudan sambil menyembunyikan kesedihannya


"Ohyaa... bagaimana kalau papa mu bekerja di perusahaan papa." Jawab Dinda antusias


"Iya nanti om bisa menerima papa mu dibidangnya. Gimana?" Tanya Radit


"Makasih om.. tapi Bapak saya sudah di syurga." Ucap Usan dengan senyum yang menyembunyikan kesedihannya


"Maaf kami tak tau nak." Mamanya kini memeluk Susan. Begitu juga dengan Dinda.


"Apa kamu punya adik?" Tanya Dinda


"Aku anak pertama dan aku juga tidak punya adik." Jelas Susan.


"Sama aku juga, padahal aku ingin punya saudara." Ucap Dinda


"Apa kau ingin adik sayang?" Tanya Radit semangat.


"Diam kamu." Gerutu Mia sambil mencubit perut Radit


"Awawawa... sakit* sayang.. apa salah ku aku hanya bertanya pada putri kita." Jelasnya membela diri


"Omm sama tante lucu yaa pasti Dinda seneng banget bisa bercanda tiap hari begini." Kata Susan


"Kata siapa? Kita juga pernah mempunyai masalah yang orang lain tidak tau. Mereka hanya memandang luar kita. Bahkan om sama tante pernah akan bercerai." Jelas Radit pda Susan

__ADS_1


"Benarkah? Untung tidak jadi." Jawab Susan


"Iya untung tidak jadi. Kalau jadi mungkin aku sudah mati." Jelas Dinda


"Kau ini ngaco kalo ngomong seenaknya saja." Jawab Susan sambil mencubit lengan Dinda


"Memang iya Susan." Jelas mamanya


"Maaf ku kira Dinda bercanda tante." Ucap Susan dengan nada lemas


"Tidak papa, kan kita sudah berkumpul lagi." Jelas Radit


"Lalu bagaimana dengan mama mu? Kapan* kamu kesini ajak mama mu yaa biar nanti tante bisa berteman dengan mama mu.. barangkali mama mu mau bekerja di tempat tante." Ajak mama Dinda


"Makasih tante, ibu saya juga sudah di syurga." Jelas Susan dengan menunduk


Dinda dan orang tuanya hanya saling beradu pandang. Mereka belum tau asal usul Susan.


"Maaf yaa tante ngga bermaksud. Tante ngga tau kalo kamu yatim piatu." Ucap mamanya sambil memeluk erat susan.


Susan yang merasa dekapan seorang ibu yang dirindukannya selama 3 tahun itu menangis sesenggukan. Dinda dan mamanya pun ikut menangis.


"Sudah jangan sedih lagi, ada tante om sama dinda yang nemenin kamu sekarang. Kamu ngga usah sedih lagi ya sayang." Mamanya menenangkan Susan


"Terimakasih tante." Ucap susan senang.


"Kalian lanjut ngobrol dulu ya. Papa mau ke ruang kerja." Jelas Radit meninggalkan mereka


Setelah berbincang* Susan pamit pulang. Dia diantar Dinda dan Mamanya naik mobil


***


Malam harinya setelah makan malam, Radit berbicara dengan istri dan anaknya


"Tadi siang aku langsung menyuruh orang mengecek identitas Susan." Jelas Radit


"Kenapa dengan identitasnya?" Tanya Dinda


"Ibu nya meninggal karena sakit 4 tahun yang lalu. Papanya bekerja diperusahaan Papa. Setelah setahun kematian ibunya, papanya meninggal karena tertabrak mobil." Jelas papa nya


"Kasihan Susan.. pasti dia hidup dengan susah. Rumahnya saja kecil bagaimana dengan uang untuk bertahan hidup." Ucap Dinda


"Ada santunan dari perusahaan untuknya setiap bulan." Jelasnya


"Papa mencari tau tentang kecelakaan mobil papanya, namun nihil." Ucap Radit lagi.


"Susah biarkan tak usah diusut lagi." Ucap Mia


"Maa.. bagaimana kalau Susan tinggal sama kita? Dinda jadi punya teman dirumah. Disekolah juga bisa bareng Susan terus, susan bisa menjaga Dinda." Pinta Dinda

__ADS_1


"Apa boleh.. apa susan mau?" Tanya mamanya


"Kamu kan sudah ada Haidar yang jaga di sekolah." Jelas papanya


Haidar adalah anak dari asisten papanya yang bertugas menjaga susan.


"Tapi kan dia laki* pahh... beda dong." Ucap Dinda ketus


"Yasudah kamu tanya Susan mau tidak." Jawab mamanya


"Yeyyy makasih mama" ucap Dinda sambil memeluk mamanya


"Yasudah sana tidur besok kan sekolah." Perintah mamanya


"Siap komandan."


***


Mia membujuk Radit di kamar nya. Dia tak mau putrinya bersedih lagi.


"Sayang ayolah biarkan Susan menemani putri kita.. kasihan dia." Mohon mia


"Aku juga kasihan tinggal kasih saja dia uang untuk biayanya." Jelas Radit


"Kau lihat penampilannya. Apa dia anak yang mudah dibujuk dengan uang?" Jelas Mia


"Lagi pula dia butuh kasih sayang orang tua meski kita hanya tante dan om saja." Jelanya lagi sambil mengedipkan mata berulang kali


"Yasudah iya iya aku izinkan." Jawab Radit. Ia tak tahan godaan dari bidadari didepannya


"Yeyy makasih sayangku." Ucapnya sambil mencium pipi Radit


" apa hanya itu?" Tanya Radit yang sudah tidak tahan.


"Baiklah sini aku peluk." Saat memeluk Radit mia merasakan sesuatu di sekangkangannya.


"Heeiii lepaskan aku." Pinta mia


Radit tak membalas dia malah mengecupi leher istrinya yang jenjang itu, aroma tubuh mia yang harum membuatnya tak bisa menahan hasrat.


Radit mengendong mia ke atas ranjang. Mia tak memberontak karan ulah suaminya, hubungan mereka juga menjadi penguat rumahtangga nya. Lama radit menciumi leher istrinya.


"Aku tak tahan, aku mau membuatkan Dinda adik." Jelasnya dengan senyum licik.


"Hmmm baikah mari kita buatkan adik untuk putri kita." Goda mia karna dia pun sudah bergairah


Radit ******* bibir Mia tanpa henti, Tangan nya menjelajah setiap jengkal tubuh mia, bermain disana sini sembari melepas satu persatu helai pakaian mereka dan dibuang kemana saja. Permainan jungkat jungkit pun dimulai. Entah sampai berapa ronde yang jelas malam itu sangat panjang dengan suara desahan dua insan yang sedang memadu kasih.


Bersambungg......

__ADS_1


**


Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu buat mampir dan membaca novel ku ini😊 jangan lupa tambahkan kefavorit ya kak😉 jangan lupa ❤ juga... Mwehehehe Tanks semuaa...


__ADS_2