
"Ngga ahh aku tungguin sini aku pijitin sekalian.." tawar Tiar, dia pun memijit kaki Dinda dengan cekatan.
Haidar sudah sampai di apartemennya, terlihat sang ayah sedang asyik menonton pertandingan bola disalah satu siaran tv internasional.
"Kamu sudah pulang, Ayah kira kamu akan kabur bunuh diri." Canda Ayahnya yang langsung mengenai sasaran dengan sempurna.
"Ahh ayah, aku kan sudah besar. Lagi pula ayah dari dulu sudah bilang bahwa aku hanya pengawalnya." Jelas Haidar menutupi kesedihannya.
"Bagus kalo kamu sadar diri, meski mereka menganggap kita keluarganya tapi kita harus tau batasan kita. Dan lagi anak itu adalah anak sahabat Radit. Mereka saling membantu dari dulu. Saat dia dijodohkan pun dia melarikan diri ke rumah Mas Bambang.." kata Ferdian mengenang kejadian muda mereka.
"Hemm... tapi kalo yang dijodohkan dengan Dinda orang gila aku siap menggantikan nya." Canda Haidar.
"Kau ini !! Bicara omong kosong apa! Mana mungkinlah."
"Ceritakan saja padaku, aku akan mendengarkan keluh kesalmu nak.." ucap Ferdian lagi.
"Aku benar benar tidak apa yah... mungkin aku telah kehilangan namun aku juga telah menemukan.. mungkin juga rasa yang aku punya ini hanya sekedar rasa sayang kakak kepada adik perempuannya.." jelas Haidar tersenyum.
"Kau kian dewasa... tapi apa maksudmu kehilangan dan menemukan? Jadi kamu sudah menemukan cinta mu yang asli?" Tanya Ferdian menatap Puteranya.
"Memang cintaku pada Dinda tidak asli?" Tanya Haidar.
"Cinta dan sayang mu pada Dinda hanya rasa kakak kepada adiknya, kalau ini cinta asli pujaan hati." Jelas Ferdian menepuk bahu.
"Iya yaa.." haidar mangut mangut.
"Mungkin Ayah.. tapi aku belum yakin, aku akan meyakinkan diriku secepatnya... tapi... apa ayah akan kecewa dengan apa yang telah ku perbuat?" Tanya Haidar ragu.
__ADS_1
"Aku yakin apa pun itu yang kau putuskan, pasti sudah difikirkan matang matang olehmu.." katanya.
"Terimakasih ayah.." jawab Haidar memeluk tubuh sang ayah nya..
Mereka terus mengobrol sepanjang malam.
Citra dimarahi habis oleh Kakaknya. Namun dia seperti sudah biasa dengan hal itu dan mengabaikan nya begitu saja.
"Huooekk huooekk" Citra berlari kekamar mandi menutup mulutnya. Perutnya serasa diaduk aduk saat meminum coklat macha yang dibuatkan Muti.
"Kamu kenapa Cit? Kok tiba tiba gitu?" Tanya Muti saat adiknya sudah memasuki kamar.
"Ngga tau mbak.. coklat nya nggaenak." Jawab Citra.
"Lohh ini kan coklat macha kesukaan kamu? Mbak juga bikinnya kaya biasa kok." Jelas Muti bingung.
"Tadi aku kepuncak sama temen, dia minta aku temenin terus pulangnya cuma makan ikan gurame sama cumi dan udang." Jelas Citra mengingat ingat makanan yang ia makan.
"Pantas saja, kamu kan tidak suka gurame.. dulu pun kamu selalu begini bahkan tubuhmu akan memerah dan berjentol. Sudah tau nggak bisa makan gurame masih tetep aja dimakan." Gerutu Muti menyalahkan adiknya.
"Ini minum, kalo besok kamu jentol jentol kakak yang repot ngolesin dipunggung kamu." Ucap Muti memberikan obat penghilang alergi.
"Iyaa iya.." sahut Citra meminum obatnya. Dia pun lekas tidur sebelum kena marah kakaknya lagi.
"Iya juga yaa.. kenapa aku tadi tiba tiba makan gurame? Biasanya makan sedikit saja aku muntah dan langsung gatal gatal. Kenapa tadi aku makan habis sampai sekarang tidak gatal.." gumam nya dalam hati.
Tak pikir panjang lagi dia memilih tidur karena badannya begitu lelah.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 malam, Tiar sudah terlelap disebelah Dinda. Sedangkan dirinya tetap terjaga dari kantuknya.
"Apa aku salah? Tapi aku benar benar belum siap untuk itu.." katanya lirih memandangi wajah suaminya.
"Maafkan aku.. karena aku berbohong jadi kamu harus mijitin aku, meski kaki ku pegal tapi tak sepegal lari keliling kamar 100 kali. Aku hanya belum siap.."
"Tapi aku sudah janji padamu.. yasudah lah aku buatkan kamu kopi dulu." Katanya dan beranjak menuju dapur.
"Apa aku yakin? Bagaimana kalau sakit? Kata Susan itu sangat menyakitkan bahkan aku tak bisa jalan satu minggu.." ucapnya lagi ragu saat sudah membawa secangkir kopi dan bolu dinampannya.
"Sudahlah.. toh tujuan menikah salah satunya memperbanyak keturunan.. kalau aku menghindar pasti akan tetap terjadi dikemudian hari." Ucapnya meyakinkan dirinya sendiri setiba dipintu kamar.
"Nggak !! Aku belum bisa." Ucapnya lagi.
Dinda meletakkan nampan di meja dekat sofa, membaringkan dirinya ditempat tidur bersama Tiar. Posisinya yang gusar gusur sana sini membuat Tiar tak nyaman.
"Sayang..." kata Tiar sayup sayup namun nyaring ditelinga Dinda. Spontan membuatnya kaget.
"Bayi kingkong datang.. ehh bayi kingkong datang.." ucapnya latah bercampur gugup tak karuan.
"Mana bayi kingkong? Apa kamu melihara kingkong? Bukannya itu dilarang ya.." tanya nya menarik tangan Dinda agar duduk disampingnya.
"Kamu bayi kingkong nya." Jawab Dinda lirih, dia masih begitu gugup harus bagaimana.
"Apa kamu sudah tidak capek?" Tanya Tiar.
"Nggak aku ngga capek." Jawab Dinda cepat.. "aduuhh ini mulut.." gumamnya menutup mulutnya.
__ADS_1
"Berarti bisa dong sekarang?" Kata Tiar senang, rasa kantuknya sirna begitu saja.. bahkan rasa capeknya sudah tak ia rasakan.