Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 16 ( Sandiwara )


__ADS_3

Didalam Pendopo taman nampak Dinda sedang terengah engah dengan nafasnya. Tetapi tidak dengan Tiar, dia hanya berlari santai mengejar Dinda. Bisa saja dia mempercepat larinya menangkap Dinda.


Dengan Dinda yang terengah engah dengan nafasnya dan tenaganya sudah habis. Dia tak punya tenaga lagi untuk mendorong tubuh Tiar.


"Sudah sudah hah..hah...hah...." Ucap Dinda menepuk nepuk dada bidang Tiar yang sudah didepannya.


"Aku tak sanggup berlari lagi." Ucap Dinda lagi disela engahannya.


"Siapa yang menyuruhmu berlari?" Ucap Tiar cepat.


"Lantas untuk apa kau mengejarku?" Tanya Dinda menatap Tiar.


"Ini." Jawab Tiar sambil memberi uang kembalian Dinda.


"Cuma karena ini?" Kata Dinda sebal dan menendang batu dengan kakinya kencang.


"Aauu... aishh sakit." Gerutu Dinda


Tiar panik dan langsung jongkok di Depannya, membuka sepatu Dinda untuk memastikan kakinya baik baik saja.


"Kamu mau apa?" Tanya Dinda heran


"Diam aku cuma mau lihat." Ucap Tiar membuka kaos kaki berwarna merah marun milik Dinda.


"Auuu auu adedeh pelan sedikit dong." Teriak Dinda pada Tiar.


Tiar melihat jari jemari kaki Dinda memerah. Dia memakaikan sepatunya kembali dan langsung membopong Dinda ke mobilnya. Banyak mata yang menatap mereka tetapi tak membuat Tiar berhenti. Dinda yang malu dilihat orang banyak pun menenggelamkan wajahnya di Dada Tiar.


Saat sampai didalam mobil Dinda memberanikan diri untuk bertanya, ada rasa takut untuk mengikuti Tiar.


"Maa mau kemana kita?" Tanya Dinda penasaran juga takut


"Kerumahku." Jawab Tiar sembari menekal pedal gas mobilnya.


"Apa?" Teriak Dinda kencang tepat di telinga Tiar.


"Suara mu itu melebihi suara kelelawar." Ucap Tiar menutup telinganya.


"Yaa maaf." Jawab Dinda ketus


"Jangan berfikir macam* dulu. Aku hanya mau mengobatimu." Jelas Tiar saat melihat ekspresi muka Dinda yang seperti kelinci hendak di panah


***


Setelah satu jam perjalanan, tibalah mereka dirumah yang tak begitu luas tetapi sangat rapih dan bersih. Rumah pribadi Tiar.


Tiar mendendong Dinda memasuki rumahnya. Karena ini hari minggu ada pelayan dari Rumah Utama yang datang mebersihkan. Dia lebih suka mempekerjakan pelayan laki* untuk datang.


Dinda melihat kebelakang, menatap aneh dua pelayan itu. Begitu juga dengan mereka yang menatap aneh Tuannya. Pasalnya mereka tak pernah melihat Tiar membawa gadis. Jangankan membawa dekat saja tidak.


Tiar hendak mengobati luka Dinda di kamarnya. Karena dibawah masih dibersihkan oleh dua pelayan tadi.


"Tadi itu petugas kebersihan apa?" Tanya Dinda memecah keheningan.

__ADS_1


"Tadi pelayan." Ucap Tiar sambil membuka laci di meja samping tempat tidurnya.


"Kok pakai sarung tangan" Tanya Dinda lagi ingin tau


"Yaa biar ngga kotor." Jawab Tiar singkat


Tiar sudah menyiapkan antiseptik dan juga beberapa obat oles. Dia melepas sepatu Dinda.


Dinda tersipu malu mendapat perhatian besar dari Tiar. Wajahnya bersemu dengan senyuman


"Auuu!!" Pekik Dinda memejamkan matanya


"Apa terlalu sakit?" Tanya Tiar khawatir, Dinda hanya menggeleng.


"Tahan yaa sebentar lagi." Ucap Tiar mengoleskan salep di setiap ujung jari Dinda agar tak membengkak.


Saat sudah selesai Tiar memberikan sandal lantai untuknya.


"Maaf untuk waktu itu.. aku benar benar tak ada maksud untuk melecehkan mu." Ucap Tiar tulus, baru kali ini dia berbicara tak berani menatap wajah lawan bicaranya.


"Sudahlah aku sudah memaafkan mu. Itu juga aku ikut bersalah." Jawab Dinda enteng membuat Tiar perasaan lega.


"Benarkah kau sudah memaafkan ku?" Tanya Tiar bahagia.


"Hmmm tapi jangan diulangi." Jawab Dinda cuek


Mendengar jawaban itu Tiar yakin


"Apa kau lapar? Aku akan memasak untukmu." Kata Tiar sembari membuka lemari pendingin.


"Hmmm.." jawab Dinda melihat segala arah rumah itu.


Tiar melihat lemari pendinginnya kosong. Hanya ada minuman disana.


"Apa tak ada makanan?" Tanya Dinda menebak ekspresi Tiar.


Tiar menggelengkan kelapanya dengan berat.


"Kita belanja dulu saja." Ajak Dinda


"Untuk apa aku akan pesankan makanan cepat saji saja." Ucap Tiar mengotak atik handphone nya.


"Aku tak bisa makan makanan itu." Jelas Dinda cepat


Akhirnya Tiar mengiyakan ajakan Dinda. Dia memakaikan sepatu Dinda dengan lembut. Dia ingin menebus kesalahannya dan berharap Dinda akan menyukainya. Tiar melajukan mobilnya menembus panasnya udara siang itu.


"Kita kepasar tradisional saja ya.." Pinta Dinda lagi pada Tiar.


"Aku tak bisa berada ditempat itu." Jawab Tiar tegas.


"Baik." Ucap Dinda menundukkan kepalanya, dia takut kalau Tiar akan marah padanya.


Tiar melihat kesedihan diwajah Dinda, dia tak mau melihat wajah yang ia cintai sendu.

__ADS_1


"Yasudah kita kepasar tradisional yaa.." ucap Tiar lembut sambil mengelus puncak kepala Dinda.


Dengan cepat Dinda menganggukkan kepalanya. Ekspresi wajahnya berubah sangat cepat sekali, membuat Tiar tersenyum geli melihat itu.


***


Terik matahari sudah terasa di atas kepala, sudah pukul 11 siang rupanya. Keadaan pasar tak terlalu ramai karena sudah siang. Tetapi bahan bahan makanan tetap segar karena tidak diletakkan dibawah terik pas.


Dinda menarik tangan Tiar kedalam pasar, dia sibuk memilih banyak sayuran dan bumbu-bumbu disana. Sedangkan Tiar hanya diam tak mau membantunya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Dinda pada Tiar


"Apa aja yang penting bisa dimakan." Ucap Tiar cepat


Setelah Dinda selesai berbelanja dia memutuskan untuk pulang.


Saat diparkiran dia melihat ada penjual rujak. Dinda ingin sekali memakan rujak karena semanjak dia pulang ke tanah air dia tidak memakan itu. Dulu waktu sekolah ia sering memakan rujak.


Dinda menarik tangar Tiar cepat dan berlari kecil ke Ibu pejual rujak.


"Kamu jangan lari* dong." Kata Tiar kesal karena luka kaki Dinda belum sembuh.


"Iya.. iyaa aku pengen ini." Rengek Dinda seperti anak kecil didepan ibu penjual rujak.


"Kita pulang aja yaa kamu ngga boleh banyak jalan dulu, kamu harus istirahat." Perintah Tiar.


"Bentaran aja yaa.. yaayaya... boleh yaa..." Ucap Dinda menggoyang* kan lengan Tiar


"Udah Denn kalo istrinya lagi nyidam mah turutin aja... kalo udah makan rujak baru pulang istirahat." Kata si Ibu menengahi keduanya.


Tiar dan dinda hanya saling menatap. Mereka berfikir pasti sang Ibu sudah salah faham mengartikan ucapan mereka.


Tapi tanpa fikir panjang Dinda berusaha merengek lagi, omongan ibu itu menjadi senjatanya.


"Sayang kamu tega banget sii masak aku pengen ini aja ngga boleh." Ucap Dinda pura * dengan nada sebal


Mendengar kata sayang dari Dinda membuat Tiar berbunga* yah meski itu hanya bercanda.


"Nanti ngiler loh bayinya.. kan kasihan kalau tidak dituruti." Ucap Ibu itu lagi agar Tiar menuruti Dinda dengan begitu dagangannya akan dibeli.


"Aku ngga mau anak kita nanti ileran.." Kata Tiar menatap wajah Dinda dengan senyuman liciknya.


"Buatkan satu porsi komplit utuk istri saya Buu..." pinta Tiar pada ibu itu dan langsung menjualinya.


"Makasihh..." ucap Dinda senang


"Apa yang nggak buat kamu sayang.. habis ini istirahat yaa.." Dinda mengartikan bahwa ini karena kakinya yang sakit.


"Iya neng kasihan bayinya kalu eneng kecapekan." Jelas Ibu itu


"Kamu dengar sayang, kalo kamu capek ngga baik buat anak kita." Sambung Tiar hendak mengelus perut Dinda dan langsung ditepis tangannya.


Terimakasih telah setiaa , aku cinta kaliann😍

__ADS_1


__ADS_2