Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 29 ( Tunangan Yang Konyol )


__ADS_3

Dinda terbangun saat ada yang menggoyangkan tubuhnya. Dia menuruti perintah Mamanya untuk mandi membersihkan diri.


Seusai itu mamanya dan Susan membatu dia mengenakan pakaian. Dinda hanya diam tak bicara, dia tak dapat menolak. Niatnya untuk menolak sudah hilang. Tiar sudah meninggalkannya.


Mamanya dan Susan sengaja turun terlebih dahulu. Memberi waktu Dinda untuk menyiapkan mentalnya.


Dinda masih kecewa dengan Tiar. Cintanya pada Tiar begitu besar, tak sanggup rasanya bila harus menikah dengan orang yang tak ia cintai.


"Aku ngga bisa, aku harus memperjuangin cinta aku sama Tiar. Aku yakin dia cinta sama aku. Aku harus membatalkan ini." Ucap Dinda yakin.


Ada rencana yang terlintas dibenaknya, Dinda tertawa cekikikan saat mencoba rencananya.


"Pasti berhasil !! Semangat Dinda kamu harus merjuangin cinta kamu,." gumam Dinda saat bercermin.


Dibawah sangat begitu ramai, suara bisingnya terdengar hingga kedalam kamarnya.


Radit dan Mia menyambut kedatangan calon besannya dengan hangat. Susan hanya mematung melihat kedatangan mereka.


"Apa yang Dinda lakukan.. kenapa calonnya itu harus kakak dari pacarnya? Bagaimana dia bisa menghadapi ini? Apa yang akan terjadi di rumah tangga mereka nantinya?" Gumam Sudan dalam hatinya.


Setelah mempersilahkan tamu nya duduk, Mama berniat untuk memanggil Dinda.


"Saya panggil anak saya dulu yaa Mbak.." ucap Mia beranjak pergi.


"Biar aku saja." Ucap Susan langsung.


"Susan kamu disini saja , biar Mama yang panggil." Ucap Radit.


Susan pun mengurungkan niat nya. Dia berniat untuk memberi tahu Dinda bahwa yang akan menikah dengannya itu Kak Daniel.


Berbeda dengan Daniel. Dia berasumsi bahwa kakak Susan yang akan menjadi iparnya.


"Dindaa.. sayang calon kamu sudah datang cepat nak." Ucap Mamanya didepan kamar.


"Iya Mah.." sahut Dinda membuka kamarnya.


"Kok suara kamu aneh? Kenapa juga kamu nutupin mulut?" Tanya Mamanya penasaran.


"Ngga papa mah, aku tadi minum susu nya kecepatan jadi tersedak, aku udah ngga sabar liat calon aku.. yok mah" ucap Dinda penuh semangat. Mamanya pun tak menghiraukan lagi suaranya. Yang terpenting sekarang Dinda sudah tidak menolak lagi.


Dinda menuruni anak tangga dengan mamanya, semua terkagum kagum akan aura kecantikannya yang memancar.


Gaun diatas lutut yang agak ketat diatas namun megar dibawah berwarna merah maron tanpa lengandan menggantung dipilihkan Mamanya. Gelang pita dan hels warna senada dengan gaunnya. Sangat serasi dengan warna kulitnya, ditambah rambut terurai dengan kepangan simpel yang ditata mama.


"Apa!!! Jadi sahabat Papa itu Tante Nia?" Ucap Dinda dalam hati.


Dia tak melihat keberadaan Daniel karena sedang menghubungi Tiar.

__ADS_1


"Mbak ini putri kami." Ucap Radit memparkenalkan.


"Kamu Dinda ya.. wajah kamu seperti tak asing.. apa kita pernah bertemu sayang?" Tanya Nia.


"Tidak Tante. Tidak pernah." Jawab Dinda seditik berteriak dan memberi isyarat menggoyangkan kedua kelapak tangannya ke arah Nia.


Mereka memandang Dinda aneh. Posisi Dinda membelakangi orang tuanya, Namun Dinda dengan sigap menutupi mulutnya lagi.


"Kenapa anak mereka giginya begitu? Mungkin ini memang sudah kodratnya." Ucap Nia dalam hatinya.


Daniel melihatnya dengan tatapan heran.


"Aku juga seperti pernah bertemu tapi wajah kalian hanya mirip." Ujar Daniel sambil duduk di sebelah mamanya.


"Kenapa nasibnya begini? Kasihan dia." Gerutu Daniel yang samar di dengar orang tua Dinda namun tak didengar Dinda dan Susan.


"Apa maksud kamu? Kalo kamu tidak mau menikah dengan anak saya tidak apa apa! Kamu pikir anak saya itu jelek apa!!" Bentak Mia pada Daniel.


Dinda kaget saat melihat wajah Daniel, dia meneteskan air matanya. Bagaimana bisa dia menikahi kakak pacarnya sendiri. Apa yang akan terjadi bila mereka satu atap bersama. Dengan sigap Mamanya memeluk tubuh Dinda.


"Maaf maaff... bukan maksud anak saya begitu.. Radit dia Daniel." Jelas Nia.


"Emang kamu kenapa si?" Tanya Susan pada Dinda, dan dia hanya menggeleng.


"Jangan menangis sayang... kamu anak Mama yang paling cantik." Ujar Mia menghapus air mata Dinda.


"Appaaaa!!" Teriak Dinda melepas tangannya dari mulut.


"Kamuuu!!!" Kata Radit geram dengan tingkah konyol Dinda.


Ingin rasanya mereka tertawa, tapi tak ada satupun orang yang berani menertawakan Dinda.


Bagaimana tidak, Dinda mengenakan gigi palsu yang merongos, mulutnya tak bisa tertutup rapat dengan ekspresi menahan giginya agar tak jatuh. Membuat orang yang memandang ingin melepas tawa besar.


"Susan...." ucap Dinda pada Susan.


Dia teramat bahagia mendengar bahwa yang akan dijodohkan adalah kekasihnya sendiri.


Tiar datang dengan mengenakan kemeja putih dan jas berwarna hitam, mengenakan dasi merah maron senada dengan gaun Dinda, ditambah jam tangan hitam kesayangannya.


"Maaf aku terlambat." Ucap Tiar lemas.


"Sayang duduk." Ucap Nia menyuruh anaknya duduk disampingnya.


"Jadi kamu Tiar? Ini anak saya yang akan dijodohkan dengan kamu." Jelas Radit.


Dinda dan Susan tak bersuara. Dinda masih tak percaya bahwa dia dijodohkan dengan Tiar.

__ADS_1


"Iya Om saya Tiar." Jawab Tiar singkat.


Dia sudah mendapat pesan dari kakaknya bahwa jodohnya adalah Kakak Susan, parahnya lagi giginya merongos.


"Sayang sapa calon suamimu.." perintah Mamanya.


"Tiar.." teriak Dinda senang. Suaranya sangat nyaring, Tiar dan Daniel saling memandang, suara Dinda sangat aneh dengan gigi palsunya.


Ada beberapa suara tawa tertahan diantara mereka.


"Dinda kamu yang sopan dong sama Tiar." Ucap Radit.


"Kamu??? Nama kamu Dinda?" Tanya Tiar penasaran.


"Apa kalian pernah bertemu?" Tanya Nia penasaran.


"Dia pacar aku Tante." Jawab Dinda cepat.


Nia membelalakkan matanya. Bagaimana bisa anaknya menyukai gadis seperti Dinda.


Begitu juga dengan Daniel dan Tiar, mereka masih tak percaya, seingat mereka Dinda hanya gadis biasa dan sederhana. Terlebih lagi Daniel belum tau nama asli Dinda.


"Apa kamu Dinda? Ayana? Belahan jiwaku?" Tanya Tiar mendekat kearah Dinda.


Dengan cepat Tiar memeluk Dinda, mereka yang belum tau hanya tergetun keheranan.


"Kamu apa apaan sih copot nggak." Pinta Tiar menyuruh Dinda mencopot gigi palsunya.


"Aku tu gini biar orang yang mau dijodohin ke aku ilfil jadikan ngga jadi nikah. Aku maunya sama kamu." Jawab Dinda sebal, dia melakukan ini demi Tiar namun malah diomeli olehnya.


Banyak dari mereka tertawa lepas, ekspresi Dinda sangat lucu ketika berbicara dan menahani giginya sendiri.


"Yaudah iya kan aku yang mau dijodohin ke kamu, udah ah lepas. Liatnya aneh tau." Gerutu Tiar lagi.


"Nggak ah biarin aja Hiiii hiiii hiiii." Tolak Dinda malah menunjukkan gigi palsunya pada Tiar.


"Jorok ihhh buang!!" Bentak Tiar pada Dinda.


"Kok kamu malah ngomel terus ke aku sih? Kamu berani bentak aku. Yaudah kalo kamu gamau sama aku." Ucap Dinda ngambek.


"Sayang... bukan aku mau bentak kamu itu giginya aku ngga suka.. jangan dipake lagi yaa... aku mau kok nikah sama kamu." Rengek Tiar pada Dinda.


"Ehhheemm ..." Papanya mulai bosan dan memberi kode pada keduanya.


Yang lain pun ikut kaget dan terdiam, sedari tadi mereka asyik menyaksikan putri majikannya dengan gigi palsunya yang merongos.


"Pah Dinda mau kekamar!" Ucap Dinda langsung berlari kekamarnya dengan menyangking hils nya yang tinggi.

__ADS_1


"Sayang... akhhh sudah 2 hari tidak bertemu pas ketemu lagi diduain. Tambah ini malah kena damprat!! Sial !!." Gerutu Tiar sebal.


__ADS_2