Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 41


__ADS_3

"Iya Mahh.." jawab Dinda.


"Sayang kita makan dulu yok." Ajak Tiar pada istrinya.


"Nanti aja yaa Tiar, kalo makan sekarang make up nya nanti belepotan." Jawab Dinda enggan, dia juga merasa dirinya lapar namun tak bisa makan sekarang.


"Kamu sekarang panggil Tiar jangan nama aja dong nak." Ucap Mama Mia pada Dinda.


"Iya coba panggil nya Mas , atau Suamiku... hahahahha" ejek Papa Radit.


"Suamikuu... hehe" kata Dinda dengan senyum dipaksakan melirik Tiar.


"Jangan terlalu canggung sayang." Kata Tiar agar Dinda tak canggung lagi.


"Iya juga.. mungkin belum terbiasa. Nanti juga akan biasa." Jawab Dinda dengan senyumnya tulus.


"Yaa memang.. nanti kalian canggung tapi Papa jamin kamu akan ketagihan dan akhirnya kewalahan Tiar." Ucap Radit dengan gelak tawanya.


"Pahh !! Apa sii masak nggoda anaknya sendiri." Ucap Mama Mia kesal.


"Aku hanya memberi taunya. Aku yakin kemampuan Putri kita tak beda jauh dari mu. Bahkan mungkin dia lebih mengejutkan lagi." Goda Papa Radit pada kedua wanita pujaan nya.


Dua keluarga kini telah bersatu. Keharmonisan dari mereka sangat begitu enak dipandang orang yang memandangnya.


Dari kejauhan nampak Citra dan Muti berjalan mendekat ke arah mereka.


Ingin rasanya Muti memeluk anaknya kala itu.


"Selamat yaa atas pernikahan kamu." Ucap Mbak Muti.


"Makasih Mbak..." jawab Dinda.


"Selamat yaa Nona.. saya turut senang." Ucap Citra ikut bersalaman dengan Dinda.


"Makasih yaa Citra." Jawab Dinda tersenyum.

__ADS_1


"Apaan sih itu orang, senyumnya nyebelin banget." Ejek Tiara pada Citra.


"Kamu bisa nggak ngausah ngritik orang!" Bisik Daniel tegas.


"Kakak liat dong dia nya aja emang nyebelin dari pertama. Tatapannya ke kakak ipar tuu kaya orang mau ngebunuh." Jawab Tiara semakin sewot.


Saat Nia tau anak sulung dan bungsu nya bertikai ia pun melerai mereka.


Tak lama kemudian, Citra dan Mbak Muti pamit undur diri. Sebenarnya ingin dia disana lebih lama lagi, tapi Citra melarangnya.


Tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan acara. Mbak Muti dan Citra juga akan kembali ke kediaman Pramestu.


"Mbak keluar dulu aja tunggu di Pak Bejo, aku mau ketoilet dulu." Ucap Citra meninggalkan Kakaknya.


"Jangan lama lama kasihan Pak Bejo." Jawab Muti melangkah keluar.


"Itu anak kenapa jadi sering ketoilet sih." gumam nya saat berjalan keluar.


Saat hendak keluar gedung, Citra tak sengaja menabrak seorang Pria yang tengah terburu buru juga.


"Kamuu ... Pria yang menolongku?" Citra membulatkan matanya saat melihat Haidar.


Namun dia ragu, karena penampilan haidar yang awut awutan tak jelas. Haidar pun mendekap tubuh Citra.


"Maaf saya harus segera pulang, saya sudah ditunggu kakak saya." Ucap Citra melepaskan pelukan Haidar.


"Tolong ... kali ini temani aku, aku pernah menolong mu jadi sekarang kamu juga harus menolongku." Pinta Haidar mengejar Citra.


Tak ada pilihan lain selain menemani Haidar, dia memberitahu Mbak Muti kalau dia masih ada urusan diluar dan akan pulang nanti.


Nia dan anak anaknya berencana untuk menginap di kediaman Radit.


Setelah usai mereka pulang menuju kerumah Radit. Tiga mobil tengah beriringan dijalan raya.


"Sayang... apa kamu capek?" Tanya Tiar saat berada dalam mobil.

__ADS_1


"Bangett.. kamu liat sendirikan tadi kita nyalamin banyak orang." Jawab Dinda menyenderkan kepalanya di bahu Tiar.


"Kamu tidur aja. Nanti biar aku bangunin pas udah sampe rumah." Kata Tiar memeluk tubuh Dinda. Ada rasa kasihan ketika melihat wajah Dinda yang kelelahan.


Dinda memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lelah.


Sesampai nya dikediaman Rahardian, semua berkumpul di ruang keluarga untuk beristirahat dan melanjutkan perbincangan hangat mereka.


Tapi tidak dengan pasangan pengantin baru. Saat mobil terlah berhenti Tiar hendak membangunkan Dinda, namun niatnya ia urungkan.


"Kayaknya kamu terlalu capek. Yasudah tidur saja." Kata Tiar mengangkat tubuh Dinda.


Satria membukakakn pintu mobilnya, dia juga menyisingkan gaun Dinda agar tidak jatuh kelantai.


"Apa yang kamu lakukan??" Tanya Tiar melihat Satria hendak membantunya membopong Dinda.


"Ini ini Tua gaunnya menyapu lantai. Kalo keinjak nanti jatuh." Jawab Satria langsung, memberikan gaun Dinda ke tangan Tiar. ia takut,bila Tiar salah sangka padanya.


"Kukira kamu mau membantuku membopongnya. Kau pikir aku tak kuat? Bagusan juga tubuh ku." Ucap Tiar enteng.


"Aduh aduh... yang pengantin baru udah mau mekamar aja niii..." goda Mama Nia.


"Jangan berisik Mah... Dinda sudah tidur. Dia terlihat sangat lelah." Jawab Tiar berlalu meninggalkan mereka.


Tiar membawa Dinda kedalam kamarnya. Dia membaringkan tubuh Dinda ke ranjang. Dan mengunci pintu kamar.


"Rapih juga kamar mu." kata Tiar melihat sekeliling kamar Dinda.


"Bulan lalu aku hanya 5 menit disini. Sekarang aku akan bersama mu selalu disini." Kata Tiar dengan senyuman jahilnya dan berjalan menuju Dinda.


"Cantik.. manis juga kalo diam.. Ehh tapi kamu tidur pake baju kaya gini apa nggak risih?" Tanya Tiar pada Dinda.


"Yaa risih lah.. baju lebar ribet gini kan gerah." Jawab nya sendiri.


"Aku bantu copot yaa.. aku ganti in sekalian, hehehe lumayan pemanasan mata." Ucap nya dengan gelak tawa kemenangannya.

__ADS_1


Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca, terus ikutin yaa biar tau gimana alur ceritanya...


__ADS_2