
Keesokan harinya, semua pelayan tengah sibuk menyiapkan jamuan untuk calon besan Tuannya.
Mama dan Susan tengah berada di kamar Dinda, membantunya berdandan dan menata penampilannya.
Sama hal nya dengan keluarga Pramestu. Mereka juga bersiap siap untuk bertamu.
Saat semua sudah siap, Tiar sengaja terlebih dahulu pergi menggunakan mobilnya dengan Satria dan membawa beberapa barang. Ada tiga mobil yang menuju ke rumah calon mertuanya.
Ketika Nia hendak masuk ke dalam mobil. Seseorang datang kepadanya.
"Nyonya ada dua orang wanita mencari anda." Ucap Bi Iyah sopan.
"Siapa bii...?" Tanya Nia penasaran, dia tak mengingat ada janji dengan seseorang.
"Pagi Nyonya.." sapa Muti kepada Nia.
"Muti.... yaampun saya kira siapa.." sapa balik Nia pada Muti seraya memeluknya.
Daniel dan Tiara hanya saling menatap satu sama lain, mereka belum mengenal siapa wanita ini.
"Ini siapa?" Tanya Nia. Karena seingatnya ia hanya menyuruh Muti kembali bekerja dengan nya.
"Ohh ini adik saya Nyonya.. Namanya Citra." Kata Muti memperkenalkan adiknya. Citra pun menyalami Nia.
"Eehhemm .." dehem Tiara berat, ia mengingatkan Mamanya kalau mereka tengah terburu buru.
"Saya buru buru... kamu sekalian ikut aja yokk adik kamu juga. Biar tambah rame ayoo." Ajak Nia.
Setelah bujuk membujuk akhirnya Muti dan Citra ikut, entah kemana mobil itu melaju.
Daniel menyetir sedangkan Mamanya duduk disebelah kirinya. Tiara duduk di belakang bersebelahan dengan Citra.
"Aku seperti tak asing pada wajahnya.. tapi kapan ketemu? Apa dia mirip seseorang?" Tanya Daniel dalam hatinya, ia juga sesekali melirik pada Muti.
Tiara tak begitu suka dengan Citra, tatapan mata Citra sangat tak nyaman untuknya. Bahkan Citra pun kerap sengaja memojokkan posisi duduknya.
Nia sibuk memperkenalkan anaknya pada Muti dan Citra. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama mereka telah sampai di pekarangan rumah yang luas milik keluarga Rahardian.
"Nyonya.. maaf kita mau apa kemari?" Tanya Muti penasaran.
__ADS_1
"Saya mau melamar, ini rumah sahabat saya." Ujar Nia setelah turun dari mobil.
Terlihat Tiar dan Satria tengah menunggu mereka dengan bersandar pada mobil.
"Ayo sayang." Ajak Nia menggandeng putra kedua nya.
"Bismillah." Ucap Tiar mantap, hatinya berdegub kencang kala itu. Ada tatapan heran juga pada kedua wanita di belakang Kakaknya.
"Itu pelayan Mama di luar negri." Kata Nia langsung saat melihat Tiar menatap kedua wanita itu.
Terlihat keluarga Rahardia sudah menyambut mereka di depan rumah. Mereka mengenakan pakaian seragam batik seperti Keluarga Pramestu namun berbeda warna.
Tuan Rumah menyambut kedatangan calon besannya dan mempersilahkan mereka masuk.
"Ayo Mbak masuk, semuanya ayo mari masuk." Ucap Mia ramah.
"Kenapa ada biang kerok disini?" Gumam Anton dalam hatinya.
"Tante , emmm Dinda mana? Kok belum ada?" Tanya Tiar mulai gusar mencari sosok yang ia cintai.
"Masih dikamar, panggil aja sendiri. Biasanya juga langsung panggil." Jawab Mia dengan tertawa kecil.
"Apa? Dindaa... dan iniii bukankah ini Pak Anton? Sekertaris itu? Jadi ini..." gumam Citra dalam hatinya dan menatap wajah Mbak Muti.
"Apa ini rumah keluarga Rahardian? Dan.. Bapak ini adalah Pak Radit? Apa Mbak juga udah tau sebelum nya?" tanya Citra dalam hatinya.
"Kenapa wanita ini tidak begitu asing? Apa pernah bertemu..?" Tanya Radit dalam hatinya.
Semua mata tertuju pada pasangan calon pengantin yang sedang menyusuri anak tangga. Bak sepasang kekasih yang turun dari kahayangan.. Dinda sangat anggun menggunakan dres berwarna pink yang panjangnya hanya seatas lututnya.
Rambutnya dikuncir rapi dengan anak rambut yang agak panjang terlepas. Sepatu sandal yang tak bertumit berwarna coklat muda yang warnanya lebih tua dari kulitnya.
Sanggat cocok dengan Tiar yang hanya mengenakan pakaian casual berwarna sama dengannya, celana baggy berwarna coklat muda dan jam tangan hitamnya.
"Calonnya sudah datang." Ucap Nia memeluk tubuh Dinda erat. Bergantian menyalami Kak Daniel dan Tiara.
"Ehh... Mbak Muti.." sapa Dinda menyalami Mbak Muti "kamu? Citra?" Kata Dinda kaget dengan kehadiran Mbak Muti dan Citra disana.
"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Mbak Muti balik pada Dinda.
__ADS_1
"Mbak ini aku Ayana." Sapa Dinda menjelaskan.
"Yaampun Mbak pangkling liat kamu... kamu beda banget." Kata Mbak Muti memeluk tubuh Dinda.
Mereka yang tidak tau hanya diam tanpa komentar.
"Ayana itu Nama panggung aku Mbak." Kata Dinda sambil duduk di sebelah orang tuanya.
Dengan cepat Dania memintanya untuk dipangku Dinda.
"Nama aslinya itu Dinda Alisa Rahardian, dan keluarga Rahardian adalah sahabat terdekat kami, bahkan lebih dari kata sahabat." Sambung Nia dengan senyuman dan tawa yang merekah.
"Apaaa!!!" Teriak Muti dengan sontak ia berdiri.
"Kamu kenapa? Kok kaget sampe kayak ditu." Tanya Nia heran. Kenapa dia begitu kaget.
"Ngg nggak papa Nyonya..." sahut Muti langsung kembali duduk diposisinya.
"Mereka ini siapa mbak?" Tanya Radit penasaran.
"Muti ini asisten pribadi saya di amerika. Dan ini Citra adiknya." Jelas Nia.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajah kalian tak terlalu asing bagiku." Tanya Radit pada dua wanita itu.
"Bahkan Om Radit juga tidak asing dengan wajahnya." Gumam Daniel yang didengar Tiara.
"Aku rasa adiknya asisten Mama tidak suka dengan Kakak Ipar." kata Tiara berbisik dan melihat tingkal laku Citra.
"Saya kerja di perusahaan bapak." Jawab Citra cepat.
"Kamu?" Tanya Radit pada Muti.
"Tidak pak tidak. Ini kali pertamanya kita bertemu." Ucap Muti langsung.
"Mungkin terlalu mirip Pah.." jelas Dinda.
"Yasudah ayo kita laksanakan acaranya." Sambung Mia mencairkan suasana.
Mereka terus berbincang bincang.. sedangkan Citra dan Muti hanya diam membisu saling menatap.
__ADS_1
"Mbak jangan disini nangisnya." Kata Citra menggenggam tangan Kakaknya. Dia tak menyangka kalau kakak nya bekerja dengan rekan keluarga Rahardian.
"Itu anakku... dia tak mengenaliku... bagaimana bisaa..." ucap Mbak Muti, getir rasanya melihat sang putri tak mengenalinya.