
Bab 3
Ceklak suara pintu terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu.
"Cepat minta maaf padaku." Ucap Tuan Muda itu dingin
Dinda langsung memberi hormat kepada pemuda itu. Satria melihat kejadian itu menahan tawa
"Apa yang kamu lakukan Diin.. Ayana?" Tanya kepala sekolah, hampirsaja dia menyebut nama aslinya
"Bukankah Bapak menyuruh saya hormat padanya?" Tanya Dinda pura* tak tau
"Astagaa... bocah ini sungguh konyol." Ucap Satria
Berbeda dengan pria itu, dia tetap memasang wajah serius dan aura dinginnya semakin keluar membuat orang disekitarnya merinding
Dinda langsung menurunkan tangannya melihat pria itu menatapnya tajam. Nyalinya yang tak pernah hilang sifat yang keras kepala dan tomboynya itu hilang seketika. Dinda diam seribu bahasa.
"Kubilang cepat minta maaf padaku!" Teriak pria itu dengan lantang
Mendengar teriakan itu Dinda emosi dan membalas teriakan itu
"Siapa anda berani mereriaki saya? Apa anda masih ingin hidup." Ucap Dinda berkacak pinggang sambil menggulung lengan bajunya yang pendek keatas, dia berniat menunjukkan ototnya padahal tidak punya otot
"Whahahahahah bocah ini berani pada mu Tuan." Ucap Satria sengaja menekankan kata Bocah
"Diam kau." Ucapnya pada sang Asisten
"Maaf Tuan." ucap Satria menahan tawa
"Kau tak tau siapa aku?"
"Tentu.. dan aku tak mau tau itu!" Jawab dinda ketus.
"Aku Tiar Raditiya Pramestu. CEO Perusahaan Pramestu sekaligus Pemilik Sekolahan ini!" Ucapnya Tegas
Dinda terdiam menganga tak percaya. Laki* tampan didepannya ternyata sangat hebat. Ternyata benar ucapan temanya tadi.
Nyalinya kini tak sebanyak dikelas. Dia hanya tertunduk
"Kenapa kau diam apa kau takut?" Tiar sudah berkacak pinggang meniru gaya Dinda tadi
"Tii tidak. Aku hanya tak percaya kau bos." Ucap Dinda
"Apa! Pasti kau kira aku artis karna aku ganteng iya kan?" Ucap Tiar percaya diri
"Bwhahahahaha... Aduh kau kalo percaya diri jangan kelewat batas, bikin sakit perut saja." Tawa Dinda meremehkan
"Tuan sepertinya anda harus oprasi plastik agar lebih mirip artis." Timpal Satria dengan tawanya
"Heei berani kau padaku, apa kau ingin ku kirim ke afrika?" Ucap Tiar mengancam Satria
"Tidak Tuan jangan.. maaf Tuan" jawab Satria dan berusaha menghentikan tawanya
__ADS_1
"He kalian ini sudah* ini kantor saya. Tuan Muda maaf... tolong jangan perpanjang masalah ini." Jelasnya membuat semua diam
"Hahhh... baik ku maafkan lagi pula bocah tengik ini tak penting. Aku hanya mengurus hal* penting saja." Ucapnya dan beranjak dari kursi akan pergi
"Heii tunggu! Apa maksud mu aku tak penting! Asal kau tau aku bisa mematahkan tanganmu." Ucapa Dinda lantang dan menahan lengan Tiar
"Lepaskan bajuku!." Tiar tak suka disentuh maupun disenggol oleh oranglain karna baginya itu membuat banyak kuman ditubuhnya
"Aku tak kan melepaskan sebelum kau minta maaf padaku atau kupatahkan tanganmu ini!" Dania memperingati lagi
"Kubilang lepaskan tangan kotormu ini!"
"Bocah tolong lepaskan..." Satria memohon pada Dinda
"Tak akan sebelum dia minta maaf."
Kepala sekolah yang melihat ini pun hanya geleng* kepala dan menghela nafas beratnya.
Tiar menarik tangan Dinda dan menahannya di belakang tubuhnya Dinda sendiri membuat Dinda tak bisa apa*. Tak sengaja Tiar memegang luka yang belum sembuh total dan membuat Dinda diujung mautnya
"Aahh sakit.. tolong lepaskan." Ucap Dinda memohon
"Bukankah tadi kau bilang akan mematahkan tanganku? Bagaimana kalau sekarang aku yang mematahkan tanganmu?"
"Tolong jangan ini sangat sakit.. aku tak bohong." Dinda sudah lemas dan tak melawan lagi
Tiar melepaskan cengkramannya. Membuat Dinda jatuh kelantai karna dia sudah lemas.
"Heii kau tak apa? Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Tiar panik tapi tak dijawab Dinda
Kepala sekolah pun ikut panik saat Melihat keadaan Dinda ia langsung lari keluar menuju UKS dan memanggil Dokter yang telah disuruh papanya berjaga* disana
Tiar melihat bekas cengkraman tangannya..
"Apa ini bekas luka jahitan?" Tanya Tiar menyelidik
Dinda hanya mengangguk sambil menahan rasasakit.
"Maaf aku tak tau." Ucap Tiar memohon
Satria membelalakkan matanya saat mendengar kata maaf dari bosnya.
"Tak apa aku baik* saja.. bukankah kau ada urusan penting? Bukankah aku itu tak penting?" Ucap Dinda agar Tiar tak menyelidik lebih jauh
"Itu kan tadi, sekarang situasinya berbeda." Jawab Tiar serius
Dokter keluarga Rahardian langsung masuk ke ruangan itu.
"Nona apa anda baik* saja? Maaf saya terlambat." Ucapnya sambil mengecek keadaan tuang nya.
"Aku tak apa Pak Budi." Jawabnya
"Anda tanggung jawab saya, nona juga belum pulih sepenuhnya." Jelasnya
__ADS_1
"Kau siapa? Apa kau kenal dengan bocah ini?" Tanya Tiar
Tak ada yang menjawab disana. Kepala sekolah tak berani memberitahu dan Dokter itupun tak bisa memberitahu.
"Dia itu paman ku." Ucap Dinda asal
"Yasudah. Kalau kau tak apa* aku bisa pergi sekarang." Tiar meninggalkan ruang itu tapi dia berbalik lagi
"Satulagi maaf." Ucapanya langsung pergi
"Dia meminta maaf lagu?" Tanya Satria pada orang yang ada diruang itu.
Baru kali ini Satria mendengar 2 kata maaf yang tulus dadi Bosnya yang terkenal dingin dan angkuh itu.
Mereka hanya mengangguk.
"Sudahlah... Maaf semua." Ucap Satria seraya pergi mengejar bosnya itu.
***
Didalam mobil Tiar sedang melamun memikirkan Dinda tadi, Kenapa tangannya terdapat goresan luka yang dijahit.
"Anda kenapa Tuan?" Tanya Satria membuyarkan lamunan Tiar.
"Ahh aku tak apa. Tapi kenapa dengan tangan bocah tengik itu." Jawabnya ingin tahu
"Saya tidak tau Tuan. Apa perlu kita selidiki?"
"Tidak usah. Dia tidak penting, aku hanya penasaran." Ucap Tiar
"Itu sama saja anda perduli." Satria menahan tawa sikap bos nya yang angkuh itu
"Heh enak saja, Dia itu cuma bocah tengik sialan." Gerutu Tiar
"Tapi anda yakin tidak kenapa* Tuan? Tanya Satria, seingatnya bos nya itu tak suka bersentuhan dengan oranglain.
"Memangnya aku kenapa?" Tanya Tiar yang belum menyadari
"Anda biasanya tak suka disentuh orang lain bahkan ini anda sendiri yang menyentuh bocah tadi." Jelas Satria
"Benar juga... apa spesialnya bocah tadii..." Tiar kembali melamun. Benar kata Satria, hanya ada satu sentuhan yang dapat diterimanya.
"Apa dia orangnya? Mana mungkin.... seingat ku dia tinggal di desa dan orangnya lembut. Tidak seperti bocah tadi yang kaya orang kesurupan." Ucap Tiar tak percaya
"Entahlahh Tuan, mungkin hanya kebetulan saja.." jawab Satria tak mau pusing karna ulah bocah tadi.
"Apa semua sudah beres?" Tanya Tiar yang ingat meeting nya di Luar Negri
"Sudah Tuan. Semua sudah saya siapkan sekarang kita langsung berangkat." Jelasnya
"Okee bagus."
Bersambungg......
__ADS_1
**
Terimakasih buat kakak kakak yang mau meluangkan waktu buat mampir dan membaca novel ku ini😊 jangan lupa tambahkan kefavorit ya kak😉 jangan lupa ❤ juga... Mwehehehe Tanks semuaa...