Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 38


__ADS_3

Hari pernikahan Dinda dengan Tiar kian dekat, mereka sibuk dengan mempersiapkan Pernikahan itu.


Dinda yang sedang ditugaskan Papa Radit pun tengah sibuk menyelesaikan nya.


Didalam ruangannya...


"Anton apa kau yakin Budi yang dari departemen keuangan itu sudah menerima hukuman?" Tanya Dinda menyelidik.


"Hari ini kepolisian akan memberi nya surat penangkapan Nona." Jelasnya.


"Lalu bagaimana dengan si biang kerok itu? Mau kita apakan dia?" Tanya Anton.


Dinda tak bergiming, segera ia menekan telepon yang ada di atas meja nya.


Di dalam pantry Citra melamun sedang gelisah, bingung dengan apa yang akan ia lakukan setelah ini.


Bunyi telepon mengangetkan nya. Dengan segera ia menyaut gagang telepon.


"Yaa selamat siang, dengan Citra. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Citra ramah.


"Siang, datang keruangan saya sekarang!" Jawab Dinda tegas dan menutup telepon langsung.


"Cihhh!!! Tau gitu mending aku ngga angkat ni telepon. Menyebalkan !!!" Umpat nya kesal.


Citra langsung menuju ke ruang kantor Dinda. Sepanjang jalan ia sudah menerka nerka bahwa ia akan dijebloskan ke penjara bersama Budi.


Tok tok tokk ...


Citra segera masuk saat sudah mendengar sautan Dinda.


"Ada apa Nona memanggil saya?" Tanya Citra pura pura tak tau.


"Apa perlu saya putarkan rekaman cctv?" Tanya Anton gemas. Begetu sengit ia pada Citra yang hanya baik diluar.


"Anton!!" Bentak Dinda lantang.


"Maaf Nona." Ucap anton melirik Citra geram.


"Apa Budi kekasih mu?" Tanya Dinda langsug.


"Bukan! Dia hanya masalalu saya!" Jawab Citra cepat.


"Sudah jatuh masih ingin menggali lobang." Umpat Anton tak sabar.


Citra menjelaskan kejadian hari itu. Dia berkata jujur tanpa menyembunyikan apapun.

__ADS_1


"Sesuai peraturan Perusahaan, Budi akan dipenjara." Kata Dinda.


"Saya tau Nona." Jawab Citra tertunduk.


"Jadi kamu juga harus mendapat hukuman!" Timpalnya lagi.


"Baik. Saya akan menetima konsekuensi nya. Saya mengaku bersalah." Jawab Citra lemas.


Ia tak bisa menghindar dari kesalahan nya.


"Tapi.... saya tidak akan menyeretmu kedalam penjara bersama Budi." Anton langsung geram dan angkat bicara " Nona mana bisa! Dia juga bersalah!" Protes Anton namun tak Dibalas Dinda.


" Karena kamu hanya membantunya mengganti file. Dan kamu tidak menerima uang juga dari Budi." Jelasnya lagi.


"Bagaimana mungkin." Teriak Anton kesal. Dia sangat tak rela bila Citra tak mendapat hukuman.


"Sejak kapan kau belajar memotong omonganku?" Tanya Dinda datar namun terkesan tegas.


"Maaf kan saya." Ucap Anton lagi.


"Kamu juga adik Mbak Muti, saya tidak mau membuat dia bersedih karena kelakuan mu."


"Terimakasih Nona, saya sungguh menyesal dengan apa yang telah saya perbuat." Ucap Citra sungguh sungguh.


"Kamu saya pecat!! Hari ini terakhir kamu bekerja disini. Dan jangan mengulang hal ini kembali!" Perintah Dinda tegas.


"Sial !!" Umpat nya kesal.


"Aku memang menyesal telah mau dibodohi si Budi brengsek itu! Tapi kenapa aku harus dipecat?" Gumam nya dalam hati.


"Hehhh... jangan harap dengan kau tidak memenjarakan ku dapat memadamkan api." Umpat nya lagi.


Ditempat lain, Budi sudah ditangkap oleh pihak kepolisian saat berada di apartemen nya.


***


Dua hari sudah Citra tidak bekerja. Hanya berdiam diri di tempat kost nya yang sudah tak nyaman ia tempati.


"Aku tiba tiba kangen Mbak Muti. Apa aku kesana saja?" Citra langsung mengemasi semua baju nya kedalam koper kecil. Berpamitan dengan Ibu kost dan membayar uang sewa bulan ini.


Citra langsung pergi ke stasiun dan hendak datang ke rumah majikan Kakaknya.


Selah lama menempuh perjalanan, sampailah dia di kota itu, segera ia naik taxi menuju ke rumah majikan Kakak nya.


"Untung pesangon ini lumayan banyak. Paling tidak bisa membeli keperluan aku sampai bulan depan." Ucap nya senang saat tiba di depan rumah Pramestu.

__ADS_1


"Mau cari siapa Mbak?" Tanya penjaga.


"Mbak Muti, saya adik nya." Jawab Citra.


Penjaga memberitahukan kehadiran Citra pada Majikannya.


"Masuk." Kata Penjaga saat sudah menerima persetujuan majikannya.


"Terimakasih." Jawab Citra senang seraya masuk menyeret koper nya.


"Citra . Kamu mau apa?" Tanya Muti heran.


"Muti, adik kamu baru datang kok malah gitu. Ajak dia istirahat dulu." Ucap Nyonya Nia.


"Baik Bu.. saya permisi kekamar dengan adik saya." Balas Muti sopan.


"Ayoo..." Muti menarik tanya adik nya kasar.


"Mbak sakit, pelan dong!" Bantah Citra pada Kakak nya.


"Dasar!! Mau apa dia kemari." Ucap Tiara dengan nada tak suka melihat kedatangan Citra dari lantai atas.


Muti langsung menutup rapat rapat kamar nya. Dengan segera ia mengintrogasi adiknya.


"Mbak.. aku belum makan, berikan aku makanan dulu supaya aku dapat menjawab pertanyaan mu itu!" Tawar Citra memaksa.


"Kamu kesini malam malam, bawa koper, minta makan lagi !! Tunggu sebentar." Muti segera mengambilkan makanan dan minuman untuk adiknya.


Citra dengan lahap menghabiskan makanan itu. Perjalanan sore tadi membuatnya lelah.


"Kamu kenapa kesini bawa koper? Kamu mau apa?" Tanya Muti saat sudah mengembalikan piring kotor ke dapur.


"Aku bosan Mbak... aku kangen Mbak.." jawab Citra menatap wajah Kakak semata wayang nya.


"Jawab yang benar!! Tak mungkin hanya itu sebab nya!" Bentak Muti.


"Aku dipecat." Jawab Citra lirih.


"Aappaa!!" Muti tertegun dengan jawaban adik nya.


"Bagaimana bisa? Apa yang sudah kamu perbuat?" Bentak Muti lagi.


Citra menjelaskan bahwa Budi memanfaat kan nya untuk menggelapkan dana perusahaan. Dia juga bilang bahwa Budi telah mengkhianati cintanya.


"Kakak kan sudah menyuruh kamu ngga usah deket deket Budi lagi. Jadi gini kan, untung kamu nggak ikut di penjara." Respon Muti kesal.

__ADS_1


"Sudah kak aku ngantuk banget mau tidur, capek." Kata Citra bosan mendengar ocehan Kakak nya.


Citra satu kamar dengan Muti, mereka mengistirahatkan tubuhnya dengan nyaman.


__ADS_2