Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 7 ( Bertemu kembali Dengan Tuan Muda )


__ADS_3

"Sayang Papa pulang." Teriak Radit seperti biasa


Dinda dan Mia hanya membalas tatapan tajam sambil menaruh jari telunjuk mereka di depan bibir.


Radit langsung diam. Dia melihat anak kecil itu dan menatapnya lekat.


"Bawa dia ke kamarmu sayang." Perintah mamanya


"Baik maa.." jawab Dinda singkat


"Siapa anak itu sayang?" Tanya Radit sambil memeluk dan mencium kening istrinya.


"Baca ini." Perintah Mia


"Apa* an ini!" Teriak Radit kesal


"Jangan emosi, selidiki dulu dan biarkan bocah itu tinggal di sini, kasihan dia." Mohon Mia


"Baiklah akan ku suruh Ferdian menyelidiki ini." Jawab Radit sambil mencoba menghubungi seseorang


Setelah selesai Radit menghubungi orang kepercayaan nya dia bergegas membersihkan diri.


Tak lupa ia mengajak istrinya bermain air. Setelah puas bermain air mereka menuju meja makan untuk makan malam.


Disana sudah ada Susan yang menunggu. Mereka tinggal menunggu Dinda yang tak kunjung turun.


Dinda menuruni anak tangga dengan menggendong bocah cantik disana. Mereka terlihat cocok sebagai kakak adik.


Mama dan Papa nya tak terkejut dengan itu. Berbeda dengan Susan yang memiliki ratusan pertanyaan di otaknya.


Makan malam mereka hening seperti biasa, hanya ada suara gesekan antara garpu dan sendok mereka.


Dinda tengah asyik menikmati makanannya dan menyuapi bocah yang adik barunya itu.


Setelah makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga seperti biasa untuk berbingcang. Tak seperti biasanya mereka ribut dengan banyak ocehan.


Mereka hanya diam, Radit membuka keheningan itu


"Kita harus waspada. Mungkin ini jebakan lagi." Ucap Radit dengan nada cemas


"Papa jangan tega sama Dania, dia masih kecil belum tau apa* pa..." Jelas Dinda


Susan hanya diam sembari menyenggol lengan Dinda. Mengisyaratkan siapa dia


"Baca ini Susan." Jelas Tante Mia memberi surat


Susan hanya mangut*. Dia tak berani ikut campur masalah ini


"Sudahlah sayang biarkan dia disini. Toh Dinda menerimanya dengan senang hati, Dia bisa menjadi temannya kan." Jelas Mia


"Iya selama ini kan Dinda tak ada yang menemani Paah.." Rengek Dinda


"Kamu itu dulu waktu Susan juga bilangnya biar ada yang menemani. Sekarangkan kamu sudah ada Susan yang menemani." Jelas Radit tegas

__ADS_1


"Berbedaa Paa... Susan itu teman Dinda, Dinda ingin punya adik sekarang." Rengeknya lagi


"Adik yaa.." ucap Radit mangut* sambil melempar senyum licik pada istrinya.


"Yasudah Papa akan mengizinkan itu. Tapi setelah Papa menyelidiki semua tentang dia." Ucap Radit


"Yeee makasih Pah.." ucap Dinda senang


"Susan batu aku merawatnya." Pinta Dinda yang diangguki Susan


"Maa Paa aku ke kamar dulu."


Dinda membawa Dania kekamarnya diikuti Susan.


"Kau dengar tadi sayang? Putri kita ingin adik. Haruskah kita memberinya adik sungguhan?" Goda Radit


"Bukan kah itu juga sungguhan?" Tanya Mia bingung


"Huuuuhh... maksud ku adik yang satu rahim dengan nya." Jelas Radit kesal


Mia mangut mangut. Senyum suaminya sudah diartikan dengan baik olehnya.


Tanpa pikir panjang Radit mengajaknya kekamar.


"Aku mau istirahat, aku capek." Mia berbohong dia hanya ingin menggoda suaminya


"Sayang bukankah Putri kita minta adik?" Sahut Radit sebal


"Bukankah kita selalu membuatkannya?" Tanya balik Mia


"Bukankah kita selalu berusaha? Apa kau sanggup bila setiap saat.." goda Mia lagi


"Apa kau meragukan stamina suamimu ini? Aku terlalu lembut ternyata padamu." Goda Radit, kini mia yang tersipu


"Bukan begitu sayang aku haann emmhemmh" belum Mia menyelesaikan ucapannya Radit langsung melahap bibirnya.


Pertempuran dimulai, entah sampai kapan mereka bergulat. Malam itu terasa sangat panjang.


***


Pagi harinya, Dinda turun menggendong Dania dengan wajah ceria. Dia dan Susan menunggu orangtuanya turun untuk sarapan


Mia dan Radit melihat anaknya cerah bagaikan mentari pun ikut bahagia, begitu juga dengan Susan


"Mama kenapa? Kok jalannya aneh, kaki mama sakit?" Tanya Dinda polos membuat Mia tersipu malu. Sementara Papanya hanya nemahan tawa


"Sayang tumben kamu pakai pakaian casual biasa? Apa kamu mau bermain?" alih Mia pada Putrinya


"Nggak maah.. aku mau ngajak Dania beli baju, mungkin nanti juga ketaman bermain." Jelas Dinda


"Apa perlu Papa siapkan pengawal sayang?" Kata Radit karna dia sedikit cemas pada putrinya.


"Ngga usah paah. Nanti Dinda ditemenin Susan kok, iya kan." Berontaknya pada papa dan menyenggol kaki Susan

__ADS_1


"Iya om nanti Susan ikut Dinda, Susan mau beli baju untuk kerja." Jelasnya agar Radit tak memberi pengawalan mereka


"Yaaudah.. nanti kalau ada apa* langsung hubungi Papa ya nak.." Ucap Radit, dia tau keinginan Putrinya tak bisa diganggu oleh siapapun.


Setelah selesai sarapan, Radit berangkat kerja sedangkan Mia kembali dengan kesibukannya merawat taman bunga.


Dinda Dania dan Susan pergi ke mall di pusat kota dengan mobil pribadi tanpa pengawal maupun supir. Mereka hanya menggunakan pakaian casual biasa, jadi tak ada yang akan mengenali mereka dengan jelas karena mereka juga memakai kaca mata.


Sesampainya di mall, mereka berkeliling di lantai 3 yaktu tempat fashion, Dinda membeli beberapa baju untuk dibawanya ke Amerika dan Susan lebih memilih pakaian kemeja untuk bekerja.


Tak lupa dia membelikan banyak pakaian Dania, karena Dania tak membawa pakaian.


Mereka makan siang di lantai 1 mall itu, tak terasa semakin sore, Dinda melirik jam tangan ber merk dilihatnya sudah menunjukkan pukul 3 sore.


Mereka memutuskan untuk pulang, saat perjalanan pulang Dinda melihat taman pusat kota yang cukup ramai. Dia berniat mengajak Dania bermain sebentar.


"Susan kita mampir ke taman ya sebentar. Dania mau main." Jelas Dinda sambil memarkirkan mobilnya


"Jangan sore* loh pulangnya nanti dimarahin om sama tante." Jawab Susan memperingati


"Iya iyaa boss" Goda Dinda pada Susan yang suka memperingatinya. Tapi dia suka perintah Susan


Mereka turun dari mobil, Dinda menggendong Dania . Mereka berjalan memutari taman sambil bercanda


"Dinda aku ke toilet dulu yaa udah kebelet nihh.." Ucap Susan cepat dan berlari meninggalkan Dinda


"Yaudah jangan lama* yaa." Jawab Dinda teriak


"Dania haus nggak? Kakak belikan es krim itu yaa sebentar. Kamu disini aja jangan kemana*." Ucap Dinda lembut pada Dania


Dinda membeli es krim sendiri, meninggalkan Dania di bangku taman. Tak ada yang mengenalinya karna dia hanya mengenakan pakaian biasa dan karena dari pagi mereka jalan* jadi penampilan Dinda sekarang bisa dibilang kucel, tapi tetap cantik yaa


Setelah mendapat 3 es krim corn Dinda menuju bangku taman tadi. Dia hanya melihat Susan yang telah menunggunya.


"Lohh Susan Dania mana?" Tanya Dinda panik


"Bukannya tadi sama kamu? Aku kira kamu sama Dania pergi jadiaku tungguin disini." Jawab Susan yang ikut panik


"Enggak tadi aku nyuruh dia nunggu disini." Dinda menepuk* bangku taman itu


"Tadi aku kesini ngga ada siapa* Din," Kata Susan menjelaskan lagi


"Ngga mungkin Dania pergi sendiri. Jangan* dia diculik lagi." Guman Dinda


"Kamu jangan gitu dong ngomongnya, yaudah yok cari." Ajak Susan


Mereka berpencar mencari Dania, Dinda berlari kesana kemari berteriak memanggil nama adiknya yang entah dimana.


Tiba * brukk..!! "Aduhh maaf." Ucap Dinda sambil mengelap jas orang yang ia tabrak


"Heeii sudah jangan sentuh* aku!!" Teriak laki* itu


Dinda mendongak kan kepalanya menatap wajah laki* tapan didepannya.

__ADS_1


"Cihh ternyata kamu!" Oceh Dinda sambil menepuk* tangannya yang bekas memegang orang itu


__ADS_2