Suamiku Planet Es

Suamiku Planet Es
BAB 24 ( Menunggu )


__ADS_3

Para perwakilan dari Perusahaan sudah berkumpul di ruang Rapat.


"Kenapa lama sekali.. tidak seperti biasanya, ini sudah telat 5 menit." Ucap seorang.


"Mungkin ada sedikit kendala." Timpal seorang lagi.


Tiar yang sudah menunggu pun mulai tak betah. Dia pergi dari ruangan dan menyuruh Satria untuk tetap disana.


"Kau tetap disini mewakili Perusahaan kita. Aku bosan." Ucap Tiar dingin.


Sekertaris Siska yang ada disana menyambut para Pengusaha itu pun ketar ketir. Tatapan orang disana sudah tidak mengenakkan. Dia pun segera memanggil Bosnya.


"Nona, Pak Ferdi rapat harus segera dimulai." Ucapnya dari sambungan telepon.


"Ahhh iya astaga saya lupa. Dalam 5 menit kita sampai disana." Ucap Sekertaris Anto yang mengangkat telepon kantor.


"Pak kita harus rapat segera." Ajaknya pada Bos kedua dan Nona besar nya.


"Paman aku ketoilet dulu. Paman duluan saja." Ucap Dinda yang diangguki Paman Ferdi.


Satria mencari keberadaan Tiar yang entah dimana. Dia sudah tak tahan ingin buang hajat. Dia pun permisi dan pergi ketoilet.


"Nona Ayana? Anda bekerja disini?" Tanya Satria saat melihat Dinda keluar dari toilet.


"Ahh iya. Saya kerja disini." Jawab Dinda gugup.


"Maaf saya harus kembali bekerja." Pamit Dinda hendak menuju ruang rapat.


"Hp ku dimana yaa... kayaknya diruang tadi deh." Gumamnya kembali ke dalam ruang rapat tadi.


"Kamu dari mana? Kenapa ada disini kan sudah ku bilang ikuti rapat tendernya!!" Bentak Tiar pada Satria.


"Maaf Tuan tadi saya buang hajat dulu." Ucap Satria cepat.


"Kenapa tidak menungguku dulu? Kamu harus menangin tender ini!! Tidak ada tawar menawar!!" Perintah Tiar geram.


"Tapi ada yang lebih penting dari tender itu.. tadi saya melihat Nona Ayana di toilet. Dia sepertinya bekerja disini." Ucap Satria cepat sebelum mendapat amukan lagi dari Tiar.


"Yang benar? Kamu tidak sedang merayuku agar aku tak marah kan?" Tanya Tiar tak yakin.


"Benar saya tidak bohong." Jawab Satria lagi.


"Dimana toiletnya?" Tanya Tiar.


"Lurus belok kanan. Nanti ada di pojok"

__ADS_1


"Kamu cepat ikuti rapatnya!" Perintah Tiar, Satria pun masuk mengikuti rapat tander besar itu.


Dinda sudah mengambil Hp nya, dia berjalan cepat sambil melihat jam di hand phone nya.


"Aduhh... maaf saya tidak sengaja." Ucap Dinda hendak bangun.


Tiar yang merasa tak asing dengan tubuh dan suara itu pun membantu Dinda berdiri.


"Ayana... kamu ngga papa?" Tanya Tiar membolak balik kan tubuh Dinda didepannya.


"Ihhh apaan sihh ngga papa kok. Udah yaa aku buru buru." Ucap Dinda namun sudah dicegah Tiar.


"Tangan kamu? Ini kenapa bisa sampe kaya gini sih?" Tanya Tiar melihat pergelangan legan Dinda merah.


"Auuu iyaiyaa lepas sakit tau." Dengus Dinda kesal.


"Dasar bodoh!! Sudah tau ini luka malah dipegang." Gerutunya lagi.


"Kau yang bodoh!! Harusnya kau jaga diri baik baik!" Bentak Tiar lagi.


Teriakan Tiar seakan menggema di lorong itu, membuat mereka berdua menjadi tontonan karyawan yang lewat disana. Tapi karena Pimpinan mereka sendiri, jadi mereka tak berani mengkritiknya hanya melempar semyum kepada keduanya.


Handphone Dinda berdering, tertera nama Anton disana.


"Apa anda lupa nona? Kami sedang menunggumu memulai rapat." Ucap Anton mengingatkan.


"Asstaggaaa... aku lupa." Ucap Dinda, hp nya pun direbut Tiar.


"Heiii dia sedang terluka tangannya. Jangan biarkan dia bekerja terlalu banyak!! Dia itu wanita!! Dan lagi kenapa kalian membiarkan pacar saya terluka!!" Bentak Tiar teriak ditelepon.


"Apaan sih kamu dia itu Sekertaris. Dia manusia kali jangan diteriakin!" Bentak Dinda balik ke Tiar.


"Anton jalankan saja saya mau mengobati luka saya." Ucap Dinda mematikan sambungan.


"Kamu tuu yaa bikin malu saja." Dengus Dinda kesal berjalan ke ruangannya.


"Ayo ikut aku aja ke Kantor." Ajak Tiar menggandeng tangan Dinda yang tidak luka.


"Ini kan juga kantor! Kalo aku pergi ngga izin terus dipecat gimana?" Tanya Dinda pura pura.


"Sudah jangan membantah." Ucap Tiar lagi.


Dia akhirnya membawa Dinda menuju basment, membawanya ke Perusahaan untuk mengobati lukanya.


"Kamu turun dulu. Aku mau ke Apotik sebentar. Kamu bilang aja aku nyuruh kamu tunggu di ruanganku." Ucap Tiar saat tiba di pintu masuk perusahaannya. Namun ia menurunkan Dinda di jalan masuk, dengan terpaksa Dinda berjalan kaki 50m menuju gedung itu.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" Tanya seorang resepsionis yang melihat Dinda.


"Ruangan Tiar dimana ya mbak?" Tanya Dinda ramah.


"Apa mbak sudah buat janji?" Tanya seorang lagi.


"Belum, tapi barusan saya ketemu kok. Dia bilang suruh tunggu di ruangannya." Ucap Dinda lagi.


"Maaf mbak, demi keamanan kami mbak tunggu saja disana." Ucap Resepsionis menunjukkan sofa disudut lobi.


"Ahh yasudah saya tunggu disana." Jawab Dinda mengiyakan.


Ponsel Tiar berdering, tertera nama Satria disana. Dia pun langsung mengangkatnya.


"Halo kenapa ada apa?" Tanya Tiar sambil membayar obat.


"Tuan anda harus kesini langsung. Kita menang tender dan langsung menanda tangani kontrak." Jelas Satria.


"Yasudah aku kesana. Tunggu sebentar." Ucap Tiar mematikan telepon.


"Harus cepat nih! Bolak balik jauh banget lagi." Gumamnya.


Dilobi Dinda setia menunggu kedatangan Tiar. Dia melihat kearah pintu masuk kantor dan sesekali melihat layar hp nya. Namun sudah jam makan siang Tiar tak kunjung datang.


"Tuan ayo cepat mereka sudah menunggu." Ucap Satria saat melihat Tiar datang. Dia pun menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya.


Seusai menandatangani kontrak Paman Ferdi menawari mereka untuk makan siang bersama. Tak enak hati bila mereka menolak. Mereka pun memutuskan untuk makan di restourant Dinda menggunakan mobil kantor.


Tiar merasa ada yang dia lupakan, dia terlihat gelisah.


"Anda kenapa gelisah Tuan Muda? Apa mobil ini kurang nyaman?" Tanya Pama Ferdi saat perjalanan pulang ke kantor setelah makan siang.


"Tidak Pak.. mungkin ada yang tertinggal saja dikantor." Jawab Tiar dengan nada datar.


"Betul kata orang anda memang sangat berwibawa." Timpal Paman Ferdi.


"Kami juga baru mengenal Perusahaan kapal ini 1 tahun Tuan Muda, entah kenapa mereka mempercayakan terndernya ke kami. Sudah berkali kali kami menolak namun gagal. Mereka akhirnya meminta bantuan kami untuk merapatkan hal ini di perusahaan kami. Katanya mereka akan membuka cabangnya disini." Jelas Paman Ferdi memecah keheninga.


"Oh yaa.. itu akan lebih bagus Pak. Jadi perusahaan yang sudah terikat kontrak tak perlu merepotkan anda lagi." Ucap Tiar.


Sepanjang perjalanan mereka membahas bisnis. Tiar dan Satria pamit undur diri. Satria mengemudikan mobilnya dengan santai karena mereka sudah memenangkan tender.


"Tuan apa perlu kita kekantor lagi?" Tanya Satria yang tak ingin ke kantor. Perjalanan mereka cukup jauh dan menguras tenaga.


"Sudahlah tidak usah. Aku capek." Ucap Tiar merebahkan tubuhnya di kursi mobil.

__ADS_1


__ADS_2