
Pria yang terbaring lemah itu akhirnya membuka matanya, dan orang yang pertama kali dia lihat adalah seorang gadis yang merupakan adik dari orang yang membuatnya seperti ini.
Pria itu rasanya ingin mengatakan sesuatu namun bibirnya terasa masih belum membunyai kekuatan.
Dokter yang tadinya di panggil gadis itu saat dia yang tersadarkan kalau pria bernama arian itu perlahan pulih.
" Nona, kau harus menjaga nya dengan lebih wasapada ya. Karna kondisinya saat ini belum pulih sepenuhnya, kalau ada masalah silahkan panggil saya lagi. Suster yang akan berjaga nantinya. "
Dokter muda itu memperhatikan shiera yang senang karna pasien yang dia tangani telah sadarkan diri.
" Terimakasih "
Shiera tersenyum manis kepada dokter muda yang ada dihadapannya ini.
" sama sama nona, jagalah suamimu dengan baik "
" Suami? ,ayolah dokter apa saya terlihat sudah menikah? dan saya tidak mau punya suami seperti dia "
gadis itu hanya sedikit berbisik agar tidak didengar oleh arian karna tidak mau membuatnya tambah sakit lagi.
" Maaf nona, saya pikir dia suamimu karna kau sangat mencemaskan dia "
" Dokter sangat pandai bergurau, itu tidak mungkin. Aku dia ahh aneh kan? "
" iya nona, kalau begitu izin keluar "
" baiklah, terimakasih "
Dokter muda itu beranjak berjalan keluar dari ruangan itu, ditemani dengan suster yang canti disampingnya memegang tempat yang ada beberapa alat jarum dan obat.
" dokter apa kau terpukau dengan gadis imut tadi? "
suster canti yang berjalan beriringan dengan dokter muda itu, yang sendari tadi memperhatikan bibir sang dokter yang sedikit tersenyum sejak keluar dari ruangan tadi.
" kamu ini aneh "
Dokter muda itu hampir saja salah tingkah dihadapan suster cantik yang yang memperhatikannya.
" AHHH dokter suka padanya? "
wanita itu mencoba menggoda dokter yang salah tingkah dengan perkataannya.
" kamu kebanyakan nonton drama ya? apa kau kira jatuh cinta itu semudah itu? "
" jadi dokter tidak suka melihatnya? "
" siapa yang tidak tertarik pada gadis itu, dia cantik dan imut seperti kau katakan tadi. Tapi kau lihatlah juga siapa dia, gadis itu punya kakak yang sangat kaya dan hebat. Dan dia pastinya akan mendapatkan pria yang sama hebatnya dengan kakaknya. "
" Apa hubungannya? "
Dokter itu mengentikan langkahnya, dan mereka saling bertatapan oenuh heran.
" kau tau, terkadang kita tidak boleh memimpikan hal yang akan membuat kita sakit hati nantinya. Cobalah cintai apa yang sudah diberikan dihadapan mu dulu mengerti? "
" aku mengerti "
" itu baru pintar "
Dokter itu tersenyum kearah suster yang sudah sangat dia kenal karna sering bertugas bersamanya.
" cintai apa yang dihadapan mu dulu ya? emm baiklah "
suster cantik itu berkata pelan pada dirinya sendiri, kembali dia mengikuti dokter muda itu yang sudah lumayan berjarak dengannya.
Dokter tampan itu sudah lama sekali dia idolakan, sampai dimana dia mulai menyukainya. Namun dia mencoba menutupinya sendiri, karna dia merasakan tidak pantas untuknya.
Namun cahaya terang seakan menyinari harapannya, saat pria yang dia idamkan mengatakan hal yang membuat dia sadar untuk memastikan perasaannya.
**** kembali lagi ***
Arian hanya bisa berdiam karna dia belum bertenaga, didalam pikirannya hanyalah shiera.
" Kalisa!"
__ADS_1
Suara lemah itu memanggil gadis yang tengah merapikan selimutnya, sungguh dari tadi dia sungguh tidak ebak hati pada pria itu sehingga menyapanya saja dia tidak sanggup.
" kau memanggilku?"
Kalisa gadis yang membawanya kerumah sakit dan setia menemaninya tadi, merasa heran dengan apa yang ingin dikatakan pria itu.
" tidak, aku memanggil mayat dikamar sebelah, kebetulan namanya kalisa. "
Sunguh nyawanya arian seakan berkumpul kembali saat gadis itu membuatnya kesal meskipun dengan keadaannya yang belum pulih.
" ummm aku masih hidup, dan kau gila ya panggil mayat. Mungkin salah satu saraf otakmu ketinggalan di mobil kali ya, atau aku akan panggilkan dokter lagi biar dia periksa bagian kepalamu ."
Dengan gayanya yang bertingkah imut namun dengan kata kata yang menusuk merupakan keahlian gadis bernama kalisa tersebut.
" Kalisa sebaiknya kau panggil suster untuk menyuntikkan obat tidur padaku "
" Apa kau ingin tidur, apa perlu aku kipasin dan nyaikan lagu nina bobo untukmu? "
kalisa tersenyum kearah arian, sungguh terlihat polosnya dia dengan tawarannya kepada arian.
" Ahhh aku ingin kau panggil dokter saja suruh dia bawa racun "
Arian memjamkan matanya, sungguh dia tidak sanggup lagi berdebat dengan gadis yang ada di hadapannya kini.
" racun? untuk apa? "
sungguh perkataan arian membingungkan kalisa, matanya masih menelusiri gerak geriknya.
" untuk kau minum "
Arian memaksakan berteriak pada kalisa, hingga membuat bibirnya nerasakan sakit karna ada bekas luka lebam.
" Aku tidak suka minum racun, aku suka susu hangat,kalau kau mau minum racun itu terserah kamu ."
" Ya ya bawa racunnya biar aku minum"
" serius mau minum racun? emang rasanya enak? "
" enak sekali "
" serius kau mau racun "
Kalisa memilin milin jarinya, masih dengan hal yang tidak masuk akal di otaknya saat ini.
" Kalisa ambilkan saja pisau "
" untuk apa pisau?, kau ingin lakukan apa? "
kalisa mendekatkan wajahnya menatap arian yang menutup matanya.
" aku ingin membunuhmu "
kata kata terakhir itu sungguh membuat gadis itu kaget, karna arian menekankan nadanya sambil membuka matanya dan hampir saja kalisa jantungan.
" HUU dasar tidak waras "
" Aku memang tidak waras karna kau "
" Aku? apa yang aku lakukan? "
Kalisa mengacungkan jarinya kearah wajahnya sendiri.
" terserah kau saja "
Arian mencoba mengalah dan membalikan posisi tidurnya sehingga membelakangi kalisa.
" arian! "
kalisa dengan hati hati menyentuh punggung pria yang membelakanginya dengan telunjuknya.
__ADS_1
" emm "
erangan singkat itu dengan malasnya mencoba untuk meladeni kalisa.
" apa kau lapar? "
" tidak "
Arian tetap berbicara tanpa membalikkan pungungnya.
" tapi arian... "
kalisa tidak melanjutkan kata katanya, sepertinya dia merasa segan pada pria itu.
" Trimakasih sudah memperhatikanku, tapi aku tidak lapar. "
Arian merasa tidak enak hati merasa kalisa sangat peduli padanya dari tadi. Sehingga dia dengan perlahan mengerakkan tubuhnya sehingga kembali bisa menatap gadis itu.
" Ehhh bukan itu maksudku "
kalisa mengerakkan tangannya mencoba meluruskan maksud arian.
" Lalu? "
" Maksudku aku lapar, kalau kau tidak lapar aku ingin memakan makan siangmu ini "
Kalisa menunjuk kearah makanan yang tersaji dengan menu sederhana yaitu dengan bubur dan sup ayam yang ditempatkan pada wadah mangkuk berukuran kecil.
" jadi maksudmu itu kalau kau lapar? "
" iya tentu itu adalah maksudku "
Arian menghela nafatnya dengan terasa berat, sungguh pikirannya yang terlalu jauh.
" ya sudah kalau mau makan "
kalisa yang sudah diberi izin oleh arian, dengan sigapnya langsung menarik kursi dan makan diranjang arian.
" ehh kau kan bisa makan disana "
Arian menunjuk kerah tempat sudut ruangannya.
" disini lebih enak, mana tau kau ingin makan aku bisa lebih mudah menyuapi mu. "
" haaa siapa juga yang mau kau suapi "
" Terserah dirimu saja "
Arian sungguh menikmati pemandangan saat kalisa dengan lahapnya memakan makanan rumah sakit.
" Apa sebegitu enaknya masakan rumah sakit?"
" arian kau pernah dengarkan, saat lapar kita adakalanya tidak memilih makanan "
" apa sebegitu laparnya? ,emangnya dari tadi kau tidak ada makan? "
" bagaimana aku bisa makan, aku dari tadi sibuk menjagamu, meskipun aku mengawasimu dalam tidurku hehehe maaf aku sangat ngantuk tadinya. "
kalisa masih dengan asiknya bebicara tanpa mengalihkan pandangannya dari makanannya.
" kau ini kan punya hand phone untuk memesan makanan online "
" Kau tau aku sangat panik tadi, bahkan aku tidak punya waktu berpikir untuk makan "
***DUGGHHH
Apa sebegitu kahwatirnya padaku, sampai sebegitunya kah***?
Arian masih asik menyaksikan kalisa melahap habis makanan yang tadinya disajikan untuknya,entah mengapa rasa lapar yang tadi sedikit muncul perlahan menghilang saat melihat kalisa yang bertingkah mengemaskan.
__ADS_1
Jangan lupa ya ,mohon kerjasamanya ya 🙏🙏😘😘