Suamiku Presdir Kejam

Suamiku Presdir Kejam
SO HAPPY


__ADS_3

 


" Presdir Liu, apa ada yang bisa saya bantu? " kata sekretaris wanita pribadi rendra padanya.


 


Wanita cantik dan dengan kenggunannya memang pantas menjadi pekerja untuk sang presdir. Baju pink soft casual serta rok hitam yang dia padukan dengan sepatu high heels menambah pancaran cantiknya.


" Panggil mahen menghadapku! " Kata rendra tampa lepas sedikitpun pandangannya lepas dari layar komputernya.


 


Dia sangat tidak peduli dan tidak mau tau tentang orang yang ada disekitarnya hingga orang itu akan langsung berpikir uantuk segera pergi darinya,dan bahkan dapat dihitung berapa huruf yang keluar dari bibir mahal sang presdir.


 


Dimata orang dia adalah presdir yang misterius, dingin namun ditambah kegagahan dan ketampanannya akan membuat karisma yang istimewa di mata orang banyak.


Apa sekretarisnya presdir itu ada perasaan dengan bosnya sendiri? Maka dia sendiri akan mengatakan dengan keras dan lantang bahwa itu tidak mungkin, mengapa? karna dia adalah wanita normal yang tidak mau menyukai batu yang bahkan tidak mempunyai mimik muka yang sebenarnya.


" Gie! aku memberimu waktu sepuluh menit untuk membawanya kemari! " kata rendra pada sekretarisnya itu, yang dengan tingkahnya kegirangan.


Gadis itu kegirangan saat membayangkan melihat orang kedua populer di perusahaan liu tempatnya bekerja. Dia lebih suka dengan mahen sahabatnya rendra karna sifatnya yang ramah dan sangan humoriis yang sangat mempesona baginya. Kakinya berjalan berjikrak jikrak sakin bahagianya mempercepat jalannya karna bosnya hanya memberi waktu sepuluh menit saja.


" Oh no! " pekiknya saat sudah berada didepan ruangan mahen. " Aku tidak mungkin mengahadpanya dengan wajah begini kan? " Katanya berbicara sendiri.


Dia memutar balik karna merasa tidak percaya diri, langsung menuju toilet terdekat dari sana.


Umm aku cantik, menawan, dan seksi


Gumam gadis itu dalam hatinya, dia melirik bagian tubuhnya, memperhatikan secara mendetail dari ujung rambut sampai ujung sepatu yang dia kenakan agar benar terlihat sempurna. Dia oleskan Lip Glosh pink yang serasi dengan baju yang dia kenakan,ditatanya rambutnya yang dia rasa kisut, lalu wajahnya dia taburi bedak padat yang mebuat wajahnya segar kembali.


Begitulah wanita, dia akan meperlihatkan sesuatu yang terbaik pada dirinya, tidak peduli betapa sulit dan repotnya itu baginya itu tidak masalah selama orang yang dia suka bisa memandang padanya.


" Tuan, ini saya Gie sekretaris Presdir! " katanya lembut setelah dia melatih vokal suaranya agar terdengar anggun.


" masuk! " teriak suara itu dari balik pintu.


Crek


Gie membuka pintu ruangan itu perlahan, dia bisa mengendus aroma tubuh sang pria idamannya yang memnuhi ruangan itu.


Pikirannya langsung melayang dan seperti dia mabuk akan mahen.


Mahen meliahat Gie merasa kebingungan karna gadis itu tersenyum sendiri dengan memjamkan matanya, Mengapa banyak keanehan yang terjadi ! katanya dalam hati melihat gie.


" Ada yang bisa saya bantu? " tanyanya mebuyarkan kesadaran wanita itu. wajahnya langsung memerah dan telinganya merona hanya dengan mendengar suara itu. Namun tiba tiba ada suara yang terlintas ditengah hayalannya.


" Sepuluh menit !" Suara itu terngiang ditelinganya membuat dai menjerit dan mulai menyadarinya.

__ADS_1


Suara teriakan gadis itu membuat mahrn bukan main dan tidak sengaja melempar kertas dokumen yang dia pegang tadinya.


" Untung cantik! " kata mahen dengan suara kecil.


" Ayo! " Gie menarik tangannya, sontak membuatnya berdiri dari duduknya dengan cepat tanpa ada aba aba. Gadis itu tertawa karna berhasil membawa kabur sang pangeran hatinya, meski dia harus menyerahkannya pada orang lain.


Dia begitu manis dan aku suka dia karna kepolosan pada dirinya, tawanya membuat hatiku langsung melupakan bebanku dalam sekejap.


Mahen hanya mengikuti dan pasrah saja ketika mereka berlari menuju ruangan presdir tanpa ada kata yang dia ucapkan.


Astaga gie! kamu begitu arogan padanya, kamu tidak takut dia akan menjahuimu setelah melihat tingkahmu yang tidak jelas ini.Gie hanya mengigit kecil bibirnya menahan perasaannya yang mengebu gebu, ingin dia berteriak sekencang mungkin saat ini juga.


" Hu hu hu " desah mereka saat mereka akhirnya bisa bernafas juga setelah berlari dari jarak yang lumayan jauh.


" Waktuku terbuang Lima menit menunggu kalian! " tegas Rendra setelah melihat yang di tunggu datang.


" Maaf Tuan! " kata gie menundukkan kepalanya.


" Gajimu di potong bulan ini dengan perbandingan waktu dari Lima menit presdir " kata rendra kembali dengan kegiatannya pada dokumrn dihadapannya.


(membelalakan mata ) " Apa tuan sedang becanda? " Jawabnya tidak percaya.


Dia membayangkan gajinya akan dipotong dengan harga lima menit presdir, hatinya syok karna itu sangat besar sekali.


" Aku bukan pelawak! " tegasnya singkat.


Gie mengendus nafasnya pasrah, sementara mahen yang dari tadi diam dan tidak tahu menahu mengenai ini merasa harus memberanikan diri.


" Dalam bisnis dan pekerjaan, tidak pernah ada yang namanya memandang pria dan wanita. Kalau kau menerapkan dalam prinsipmu hal yang diluar teori itu, kau akan kalah " Ungkapnya memperjelas kata kata nya.


" Ayolah Rendra jadilah manusia walau hanya sekali! " ungkapnya tanpa dia sadari keluar dari mulutnya.


Gie menatap ngeri mahen, dia mengigit jari telunjuknya karna gemas sendiri pada pria ini.


" Apa aku tidak manusia selama ini?" Rendra menghempaskan berkas yang ada ditangannya begitu saja, wajah dinginnya sedang mengancam. Sedangkan mahen hanya bersikap santai tanpa ada rasa bersalah.


" Tugasmu selesai sekarang, kau bisa lanjut bekerja di luar ruangan ini! " Suruhnya pada gie hanya dengan tatapannya.


***


Setelah gie pergi mereka hanya berdiam sejenak hingga saatnya Rendra mengangkat tangan kanannya kearah wajah mahen.


Mahen spontan menutup matanya mempersiapkan diri menerima sesuatu dari rendra.


Hal yang terjadi diluar dugaannya sendiri, rendra malah menyentil keningnya pelan.


" Kau mau aku tidak terlihat mempunyai harga diri didepan gadis itu? " kata mengomel pada sahabatnya itu.


" Apa kau mati kalau kau menurunkan gengsimu itu? " bantahnya kembali.

__ADS_1


Dia membalas menjitak kepala sang presdir bahkan lebih terasa lagi.


" Sakit manusia salmon! " gerutunya mengejek, membuat mahen geram dan memukul kepalanya lagi.


" Ehh petir goreng! jangan karna kamu jadi presdir disini lupa dengan temanmu yang berjasa dalam hidupmu ini ya! "


Ingatan masalalu kembali menghampiri mereka, betapa serunya ketika mereka masih remaja, dan betapa asiknya masa masa itu. Mereka menjadi peguasa ketika masa itu, masa dimana mereka masih memakai seragam. Bukan karna mereka jahat atau terkenal dengan membuli murid lain melainkan mereka terkenal dengan prestasi dan jiwa semangat yang tinggi.


" Kau ingat saat ada gadis yang bilang suka padamu waktu itu, dia begitu cantik dan lembut ketika berbicara ." Ceritanya pada rendra mengingat kejadian yang dulu pernah terjadi.


" Jangan ingatkan lagi! " wajah rendra merah seketika, dengan santainya dia memasukkan gumpalan kertas yang telah dia ulum tadi.


" Uhuk uhuuk huk.. kau mau buat aku mati, apa kau malu mengingat aibmu?" ungkapnya dengan tawa yang meledak.


" Kau! " dengan geram menunjuk mahen.


" Hahaha kau bilang kau tidak mau buang waktumu dengan pacaran, tapi gadis itu malah membuatmu malu. Apa dia bilang waktu itu? ohh iya! dia katakan kalau kau sebenarnya gay dan kau menolaknya karna kau punya kelainan pada punyamu " Tawanya benar pecah membuat isi ruangan itu penuh dengan suaranya.


Rendra kali ini menampakkan sisi malunya, sahabatnya ini malah membuka lagi rasa trauma itu. Waktu itu gadis gila itu berteriak dengan kencang padanya hingga membuat dia menjadi tontonan satu sekolah,hingga dia mendapat julukan petir goreng karna gadis itu mengatai benda pusakanya petir goreng. Untung saja teman temannya sangat ahli dalam menyelesaikan masalah dan membuat keadaan membaik, namun percaya atau tidak rasa trauma itu masih dia simpan dan dia kubur dalam ingatannya.


" Kau mengejek bosmu? apa kau jadi pengangguran?" ancamnya " ancamnya.


Mahen masih bertahan pada humornya malah lebih parah hingga karna senangnya dia memukul pundak rendra beberpa kali.


" Rendra jangan mengancamku dengan pangkatmu! kau harus ingat jasaku dulu, tanpaku kau hanya akan jadi bahan bully an dulu " katanya tanpa ragu.


" Hey kau semakin berani ya! lagi pula itu tidak benar, kata katanya itu menistakannku.Kalau tidak mana mungkin aku punya istri! " bantahnya dengan banga.


" Hahaha Rendra Liu! kau harus ingat kalau kau punya istri karna kau yang memaksanya " tawanya lagi.


" Tidak juga! " hatinya semakin panas karna mendengar kata kata sahabatnya. " kau mau bukti kalau itu tidak benar? " katanya pada mahen.


" Hey hey tidak! aku normal jangan merusak kepolosanku " katanya mengelengkan kepalanya dan membuat tangannya menyilang.


" Aku harus ungkapkan kebenarannya sekarang! " Rendra yang sudah terbawa perasaannya mencoba membuka resleting celana nya.


" Rendra kau gila! kau mau menodai mataku! " teriaknya, dia mencoba menghalangi tangan rendra yang mencoba dengan resletingnya.


" Aku harus mengembalikan nama baikku! " tangakasnya.


Tangan mereka menyatu pada area sensitif rendra, dimana rendra yang berusaha membuka dan mahen yang mengahalangi itu.


" Hey jangan gila! Hahahah " tawanya.


Mreka tertawa dengan humor yang mereka ciptakan sendiri.


Tanpa mereka sadari pintu ruangan kerjanya terbuka dan tampak sosok orang yang sangat mereka kenal, tampak mematung dengan sekujur tubunhnya gemetaran .


" KALISAAA " Triak mereka berdua serentak.

__ADS_1


"KALIAN BERDUA... TIDAK " kata kalisa setelah menahan kekakuan tubuhnya hingga dia terjatuh pingsan dengan bayangan fantasinya.


__ADS_2