
Mereka berdua sampai di apartemen. Setelah menurunkan Dina di depan, Vano langsung pergi lagi tanpa berkata apa-apa ke Dina.
"Dia mau kemana sih?", gumam Dina.
Dina langsung masuk ke apart.
Ternyata Vano pergi beli mobil lambhorgini untuk antar jemput Dina.
Vano berpikir kalau memakai mobil tidak akan ada yang tahu, kalau pakai motor pasti langsung dikenali orang.
Vano jarang memakai mobil, dia pakai mobil kalau ada perlu saja, dia lebih suka naik motor.
Saat Vano sampai di depan apart beserta mobil barunya yang diangkut truk. Dina mendengar keributan langsung keluar.
"Mas itu mobil si siapa?, tanya Dina
"Itu mobil kita", Vano
"Kok beli mobil buat apa?", tanya Dina lagi
"Buat antar jemput kamu, kalau pakai motor terus nanti bisa dikenali orang", jelas Vano
"Ooh.. Terserah mas saja", Dina
Mobil sudah diparkirkan, mereka berdua masuk ke apart. Vano masuk ke kamar langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak butuh waktu lama Vano selesai mandi.
Vano keluar kamar dengan berpakaian rapi. Di ruang tamu ada Dina ..
"Mas mau kemana lagi? ini sudah hampir malam", Dina
__ADS_1
"Aku lagi ada pemotretan majalah, nanti sekitar jam 8 malam aku sudah pulang kok", Vano
"Hati-hati ya mas"
"Iya", Vano langsung pergi.
Vano menaiki motornya padahal punya mobil baru.
Disaat Vano melakukan pemotretan
Hpnya bergetar ada pesan masuk "Vano bentar lagi aku akan pulang". Vano hanya melihat pesan itu tanpa membalasnya. Hpnya dimasukkan kembali ke dalam tas.
Vano selesai dengan pekerjaannya langsung pulang. Vano sampai di apart masuk ke kamar mendapati Dina sedang belajar.
Dina masih fokus belajar, dia tidak tahu kalau suaminya sudah pulang dan sudah berada di kamar. Vano mendekati Dina dari belakang.
"Apa kamu sedang belajar?", tanya Vano
"Eh iya.. Mas baru pulang?",
"Iya", jawab Vano
"PR kamu banyak yaa?", tanya Vano
"Gk kok", Dina
"Kalau sudah selesai belajar langsung tidur ya, nanti kamu kecapean", Vano
__ADS_1
"Iya mas"
Dina pun selesai belajarnya langsung naik ke ranjang samping Vano.
Vano belum tidur, dia hanya memejamkan matanya. Dina diam-diam menatap wajah suaminya.
"Dia benar-benar seperti pangeran yang ada di dongeng", ucap Dina dalam hati
Vano tahu kalau Dina sedang diam-diam menatapi dia, Vano matanya melek dan berkata
"Kenapa? ganteng ya?", tanya Vano dengan pedenya sambil tersenyum
Dina hanya diam, "ternyata dia narsis juga" ucap Dina dalam hati.
Dina sangat malu ketahuan diam-diam menatapi wajah suaminya. Dina menutup wajahnya dengan selimut. Akhirnya mereka berdua tertidur.
-----
Dipagi hari sang mentari masih malu untuk menampakkan diri. Dina mengerjap ngerjapkan matanya, tubuhnya terasa berat, ternyata Kaki dan tangan Vano menindih tubuhnya.
"Emangnya aku guling?", gumam Dina
Dina berusaha terlepas dari kaki dan tangannya Vano, akhirnya berhasil. Dina masuk ke kamar mandi dan cukup 15 menit Dina selesai mandi. Dina membuka sedikit pintunya celingukan memastikan Vano masih tidur. Dina lupa bawa pakaian
"Untung dia masih tidur", gumam Dina yang masih bisa didengar oleh Vano
Sebenarnya Vano sudah bangun, dia hanya pura-pura tidur. Vano melihat Dina berpakaian di depan lemari. Dina telanjang bulat tanpa sehelai benang pun dia dengan cepat-cepat memakai seragamnya. Vano melihat semuanya.
Vano seorang pria normal, melihat tubuh istrinya tanpa baju membuat si junior bangun.
"Apakah ini yang dinamakan godaan setan?", pikir Vano.
__ADS_1