
Keesokan harinya
Dina mengerjap ngerjapkan matanya yang sembab dan bengkak karena menangis tadi malam. Dina bangun dari tidurnya dan langsung menuju ke kamar mandi dan cukup hanya 15 menit Dina selesai mandi. Dina memakai seragam sekolahnya dan keluar kamar menuju ke meja makan untuk sarapan pagi. Dina sudah memikirkan tentang perjodohan ini semalaman, Dina menyetujui perjodohan ini karena Dina gk mau menjadi anak yang pembangkang dan durhaka kepada orang tuanya, meskipun dengan berat hati.
"Yah Bu.. Iya Dina mau menikah", dengan nada menahan air mata.
"Begitu dong nak kan ayah dan ibu gk kecewa, kalau kamu gk mau, kami juga gk enak hati sama penolong ayah", kata ayahnya lega.
"Iya yah", jawab Dina.
Dina sudah selesai sarapan.
"Dina berangkat dulu", kata Dina sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
Adeknya Dina cowok masih kecil kelas 2 SD, adeknya sekolah diantar ayahnya naik motor matic.
Dina setiap hari berangkat sekolah naik angkot.
------
Di rumah Vano
Vano bangun dari tidur langsung mandi, setelah mandi Vano bersiap untuk pergi kuliah karena ada kelas hari ini.
Vano keluar dari kamarnya
"Vano apakah kamu sudah mempertimbangkan kata mama semalam?", tanya mama Nita.
"Terserah mama", jawab Vano cuek.
Vano langsung keluar rumah tanpa sarapan terlebih dahulu karena Vano emang gk pernah ikut sarapan keluarganya. Vano seperti biasa naik motornya itu sudah jadi hobinya.
-----
Dina sampai di sekolahnya dan temennya juga sudah sampai. Mila dan Fina melihat Dina tidak seperti biasanya, Dina terlihat murung dan sedih.
__ADS_1
"Loe kenapa Din? pagi-pagi wajah loe sudah loe tekuk", tanya Mila penasaran.
"mending ini dirahasiakan dulu", gumam Dina dalam hati.
"Gk apa-apa kok, tadi cuma habis bertengkar sama adek gue", jawab Dina berbohong.
"Beneran?", tanya Finaa.
"Loe yakin Din?", tanya Mila.
"Iya lah beneran gue yakin", jawab Dina mencoba meyakinkan kedua temennya.
"Kalau ada apa-apa cerita saja ke kita ya", kata Fina.
Bel masuk pelajaran pertama telah berbunyi.
-----
Vano sampai ke kampus
"Bro muka loe kenapa?", tanya Riyan.
"Nanti habis ini ayo nongkrong di cafe biasanya", imbuh Vano ngajak Riyan.
"Tumben loe ngajak nongkrong"
"Gue bosen yan", Vano melirik
tajam ke Riyan.
Kelas Vano dan Riyan akhirnya selesai, mereka menaiki kendaraan masing-masing, Vano naik motor dan Riyan naik mobil. Mereka sampai di Cafe dan memesan beberapa makanan dan minuman.
-----
Waktu jam pelajaran Dina dkk selesai.
__ADS_1
"Din Fin ayo ke cafe dulu yok, naik ke mobil gue biar diantar sama sopir gue", ajak Mila.
"Ya sudah ayok", Fina semangat.
"Gue pulang saja", Dina gk semangat gara-gara ingat kemarin akan dijodohkan.
"Ayolah Din, kita sudah kelas 3, nanti kalau sudah lulus akan jarang keluar bareng lagi", bujuk Mila ke Dina.
"eh ya juga..mending ngilangin kejenuhan", gumam Dina dalam hati.
"Ya sudah gue ikut deh", jawab Dina mau.
"Kita langsung cus saja ke Cafe", kata Mila.
Mereka bertiga naik mobilnya Mila.
Di Cafe itu ada Vano dan Riyan, Vano melihat Dina dkk masuk ke Cafe, Vano pura-pura tidak tahu.
Dina dkk masuk dan duduk di sebelah meja Vano dan Riyan berada. Tapi Dina juga lihat Vano disitu. "kenapa harus bertemu tuh cowok lagi?, gumam Dina dalam hati.
"Yan pulang yok", ajak Vano .
"Kenapa?"
"Udah.. gk usah banyak tanya, kalau loe masih mau disini ya sudah, tapi gue mau pulang", Vano sudah gk sabar. Akhirnya mereka berdua keluar dari Cafe.
.
"Eh lihat deh itu kan Vano pembalap profesional, ganteng banget..", puji Mila.
"Mana mana", tanya Fina.
"Itu tadi yang disebelah kita pakai jaket hitam, sekarang sudah keluar", jelas Mila.
"oh tadi cowok tuh namanya Vano...", gumam Dina dalam hati.
__ADS_1
Setelah mereka bertiga makan langsung pulang.
Bersambung ...