
Keesokan harinya
Vano cuti lagi gk masuk kuliah dan gk latihan balap, Vano masih bersedih atas meninggalnya nenek. Dia merasa sangat bersalah karena tidak pernah mengurusi nenek.
Vano duduk di sofa kamar
"Sudahlah mas jangan sedih terus, nenek sudah tenang disana. Kalau kamu bersedih terus nenek akan khawatir sama kamu", ucap Dina sambil mengelus lengan nya Vano.
"Iya terima kasih sayang", Vano memeluk Dina
"Kita makan bersama yuk", Dina menarik tangan Vano
Vano dan Dina keluar dari kamar, di ruang makan sudah ada papa mama yang menunggu mereka berdua.
"Makan yang banyak ya sayang biar gk sakit, kamu kan bentar lagi akan balapan", ucap Mama ke Vano
"Iya ma", Vano sebenarnya tidak nafsu makan, tapi dia tidak mau mengecewakan keluarga nya. Jadi mau tidak mau dia harus makan.
Setelah makan Vano kembali lagi ke kamarnya. Sedangkan mama papa sudah mulai sibuk lagi mengerjakan urusan kantor. Mereka mengerjai urusan kantor di rumah. Karena kemarin semua pekerjaan tertunda, sekarang kerjaan menumpuk.
Kini hanya Dina yang masih di ruang makan untuk membantu bi Atin membereskan nya.
Setelah Dina membantu Bi Atin, dia pergi ke kamar.
"Mas ayo jalan-jalan", Dina berniat mengajak Vano keluar mencari udara agar Vano tidak jenuh
__ADS_1
"Males", jawab Vano
"Mas Vano ayo", Dina menarik tangan nya Vano, Vano pun pasrah
Dina dan Vano sedang berjalan jalan kaki di sekitar rumah. Setelah berjalan jalan Vano merasa baikan, mereka kembali pulang.
"Terima kasih ya sayang", ucap Vano sambil mencium bibir Dina sekilas
_____
Hari-hari sudah dilewati begitu saja, hari ini Vano harus pergi ke negara X untuk balapan.
Vano diantar Riyan ke bandara, Dina juga ikut mengantar nya.
"Iya sayang", Vano membalas pelukan dari Dina
"Sudah jangan lama-lama pelukan nya, Vano pergi cuma 4 hari doang", ucap Riyan.
Vano akhirnya pergi bersama rekan team nya. Riyan mengantarkan Dina pulang terlebih dahulu.
Dina di kamar tidak bisa tidur, dia sangat mengkhawatirkan Vano, Dina mencoba menelpon Vano, dia ingin mendengar suara Vano tapi tidak bisa.
"Mungkin masih di pesawat, belum sampai", ucap Dina. Dina akhirnya tertidur dengan masih memegang Hp nya.
Di negara X, Vano baru sampai. Dia cuma mengirimkan pesan ke Dina. Vano tidak menelpon karena takut mengganggu Dina.
__ADS_1
Vano dengan rekan nya pergi menginap di hotel.
Keesokan harinya
Hari ini adalah hari balapan nya Vano, acara balapan itu ditayangkan di TV.
Vano sudah bersiap di garis Start. Vano direbung reporter dan fansnya.
Vano sudah punya rencana agar lawannya tidak mengulangi seperti 2 tahun yang lalu.
Dina melihat TV bersama papa dan mama. Dina hanya bisa berdoa.
Balapan telah dimulai, Vano berada di posisi nomor 3. Setelah putaran ke 6 Vano mulai menyalip depan nya, sekarang posisi nya jadi nomor 2, Saat putaran ke 11 Vano menyalip lagi, Motor Vano telah disenggol belakang nya tapi Vano bisa mengatasi nya, Vano tidak terjatuh.
Dina dan mertua nya melihat hal itu sangat tegang.
"Wah belakang nya curang, dia ingin nyenggol Vano biar kecelakaan, tapi tidak semudah itu fergono", ucap mamanya
"Salah ma, ferguso", ucap papa
"Papa yang salah, bukan ferguso tapi fergono", mama.
Dina melihat mereka berdua hanya tersenyum saja.
__ADS_1