Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
02 Salah paham


__ADS_3

Mac Prin membawa Anna masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di parkiran apartemen nya. Mac menggendong Anna ala bridal style.


Mac menidurkan Anna di ranjang tempat tidur nya.


Mac melepaskan heels Anna dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Anna. Mac memandang wajah Anna .bibirnya tersenyum.


"Ternyata di lihat dari dekat kau sangat cantik" gumam Mac Prin.


Mac beranjak membaringkan tubuhnya di atas sofa dan tertidur.


*****


Pagi harinya Anna terbangun. Lengannya memijit kepalanya yang masih terasa pusing. Matanya mulai terbuka dan melihat ke langit-langit atap kamar. Anna langsung bangun.


"Dimana aku ?" Anna bertanya-tanya.


Anna turun dari ranjang dan melihat sosok pria tengah tertidur di sofa. Anna mendekati dan melihat wajah pria yang semalam bertubrukan dengannya.


Anna langsung mengambil tas dan heels nya pergi dan meninggalkan apartemen Mac Prin secepat mungkin sebelum Mac bangun.


Setelah kepergian Anna, Mac terbangun dan melihat ke arah tempat tidur.


Mac langsung berdiri. "Kemana perginya wanita itu?" Mac sudah tidak melihat Anna di tempat tidur.


Mac mencari ke kamar mandi namun tidak ada.


*****


Sesampainya di apartemen, Anna langsung masuk ke kamar mandi, berendam di dalam bathtub.


Anna mulai mengingat kejadian semalam, pada saat keadaan mabuk, lalu ada orang yang menarik lengannya dan Mac membantunya, setelah itu Anna sudah tidak ingat lagi.


"Siapa pria itu, kenapa aku bisa berada di dalam kamar apartemennya, apa jangan-jangan akuuuuu....??" Anna langsung mendekap tubuhnya, mulai berpikiran yang tidak-tidak


"Tidak tidak, tidak mungkin. aaahh.. awas saja kalau sampai terjadi apa-apa, aku akan membuat perhitungan dengannya!" Anna mulai kesal dengan pemikirannya.


Mac Prin tengah bersiap-siap pergi ke perusahaan Snowden teknologi. Hari ini Mac Prin akan menjalani test interview. Lamaran yang di kirim oleh Mac melalui situs online langsung mendapatkan respon dari perusahaan Snowden teknologi.


Tiba di lobi Snowden teknologi, Mac menghampiri meja resepsionis.


"Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis


Mac tersenyum "Selamat pagi, saya Mac will Prin saya ingin menemui bapak Raymon HRD disini untuk melakukan interview"


"Oh iya pak Prin,kebetulan anda sudah di tunggu oleh pak Raymon di dalam, silahkan biar ikuti saya"


Sesampainya di depan ruang HRD. Resepsionis meminta Mac untuk menunggu sebentar.


Tok tok tok..


"Ya masuk" Raymon mempersilahkan masuk.


"Selamat pagi pak Raymon, saya mengantarkan bapak Prin, kebetulan beliau sudah datang!"


"Ah yah suruh dia masuk" titah Raymon


"Baik pak"


"Pak Prin, Silahkan masuk!"


"Terima kasih"


Mac masuk ke dalam ruangan HRD dan langsung di persilahkan duduk oleh Raymon.


Disini Mac akan mengganti identitas menjadi Prin dan tidak memakai nama Mac, dan dia menyembunyikan marga dari William yang sekarang dia singkat menjadi Will.


"Selamat pak Prin anda di terima untuk bekerja di perusahaan Snowden teknologi!" Raymon dan Mac Prin saling berjabat tangan.


"Terima kasih banyak pak Raymon" Mac Prin tersenyum senang.


"Sama-sama pak Prin"


Setelah selesai melakukan interview. Prin langsung di bawa ke ruangan bagian asisten devisi pengelola yang akan bertugas membantu pak Edward Snowden selaku direktur utama di perusahaan Snowden teknologi.


*****


Sudah beberapa hari Prin mulai bekerja di perusahaan Snowden teknologi. Kini Prin tengah bersiap-siap untuk miting dengan dewan redaksi yang akan di pimpin langsung oleh direktur utama yaitu Edward Snowden.


Tok tok tok...


"Masuk"


"Selamat pagi pak Prin, anda di minta datang ke ruangan pak direktur sekarang"


"Baiklah, terima kasih"

__ADS_1


Setelah mendapatkan informasi dari sekertarisnya, Prin langsung beranjak pergi ke ruangan direktur.


Setelah mengetuk pintu, Prin di persilahkan duduk dan memulai pembahasan mereka.


"Prin lusa nanti saya akan pergi ke New York, ada beberapa pekerjaan yang harus saya urus disana, beberapa bulan ke depan saya akan memberikan kekuasan saya kepada putri saya, dia yang akan mengurus pekerjaan saya selama saya berada di New York!" jelas Edward Snowden


"Tolong kau bantu dia mengurus pekerjaan saya disini" tambahnya.


"Baik pak, saya akan berusaha yang terbaik"


"Terima kasih, sebentar lagi putri saya datang. Saya akan memperkenalkan kamu dengan anak saya, supaya kalian bisa mengenal satu sama lain dan bisa bekerja sama."


Pintu ruangan terbuka, Anna datang untuk menemui ayahnya.


"Selamat pagi tuan Edward Snowden?" sapa Anna dengan senyum di bibirnya.


Anna berjalan ke arah ayahnya, Anna menoleh melihat Prin begitu pula sebaliknya.


Keduanya saling bertatapan. Prin tersenyum berbeda dengan Anna raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaan nya saat melihat Prin.


"Sedang apa kau disini ?" Tanya Anna dengan nada tinggi.


"Anna apa yang kau lakukan, apa kau mengenal?"


Anna langsung memasang wajah tidak suka


"Tidak, aku tidak mengenalnya!"


"Lalu kenapa kau bertanya padanya, untuk apa dia disini?" Edward Snowden terus bertanya.


"Aku hanya pernah melihatnya saja sekali dan aku bertanya sedang apa dia disini?" elak Anna


"Dia Prin, oh ya kenalkan Prin ini putri saya Anna Snowden, dia yang akan mewakili saya dan Anna kenalkan ini Prin,dia asisten baru yang akan membantu mu disini, selama Dady di New York kamu akan bekerja sama dengannya, benarkan Prin ?"


"Benar pak !" Prin langsung menatap Anna dan tersenyum.


Prin langsung mengulurkan tangannya, Anna sempat ingin menolak uluran tangan Prin. Namun Edward Snowden langsung memberikan kode berdehem.


"Anna!" Anna mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Prin.


"Prin!" Prin tersenyum melihat raut wajah Anna.


"Baiklah kalau begitu Prin aku percayakan semuanya padamu, tolong bantu Anna dan semoga kalian bisa bekerja sama"


"baik pak, terima kasih. Kalau begitu saya permisi!" Prin pamit dan kembali ke ruangannya.


Tanpa mengetuk pintu, Anna langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Prin.


"Aku ingin bicara denganmu!" Anna menghampiri meja kerja Prin. Prin duduk di hadapan Anna.


"Silahkan duduk" Prin mempersilahkan duduk kepada Anna.


"Apa yang kamu lakukan disini ?" sinis Anna


"Bekerja!"


Anna langsung memasang wajah tidak suka.


"Bekerja! aku tidak suka kamu bekerja disini."


"Kenapa?" Prin masih memasang wajah tenang dan biasa.


"Kau tanya kenapa? setelah apa yang terjadi pada kau dan aku, kau masih berani menunjukkan tampang wajahmu dan bekerja di perusahaan Snowden teknologi"


Prin mulai heran dengan ucapan Anna.


"Telah terjadi sesuatu di antara kita, apa maksud mu aku tidak mengerti?"


"Kenapa aku bisa berada di dalam kamar apartemenmu, dan..." Anna tidak melanjutkan ucapannya.


"Dan apa..?" Prin mulai menyimak obrolan Anna.


"Apa kau sudah mengambil kesempatan itu saat aku tengah tidak sadar karena mabuk ?"


"Apa maksud mu aku tidak mengerti?" Prin mulai terheran-heran dengan apa yang di ucapkan Anna.


"Kau jangan berpura-pura bodoh Prin!" kesal Anna


"Aku memang tidak mengerti apa yang kau ucapkan"


Anna mulai jengah. "maksudku...apa kita sudah melakukan itu?" Anna mengaitkan kedua jari telunjuknya.


Prin mulai paham dengan apa yang Anna pikir kan. Otak jahil Prin mulai bekerja.


"Bagaimana kalau aku kerjai saja sekalian, sepertinya ini akan menarik!" gumam Prin dalam hati


Prin tersenyum dan menatap wajah Anna.

__ADS_1


"Kenapa kau tersenyum?" Anna curiga dengan senyuman Prin.


"Anna sebenarnyaaaa..." Prin langsung memasang tampang menyesal.


"Sebenarnya apa Prin, ayo katakan ?"


"Aku minta maaf Anna, sebenarnya malam itu aku berniat untuk mengantarkan mu pulang, tapi aku tidak menemukan kartu identitas mu, lalu aku membawamu pulang ke apartemen ku, karena kau mabuk, laluuuuu...."


"Lalu apa Prin?"


"Kita melakukannya!"


"Apaaaaa?" Teriak Anna tidak percaya.


"Kau pasti bohongkan ? itu tidak mungkin" tambahnya.


Prin melihat ekspresi wajah Anna yang panik. Prin terus menahan tawanya.


Anna langsung beranjak pergi dan meninggalkan ruang kerja Prin dengan wajah kesal.


Setelah kepergian Anna, Prin langsung tertawa lepas karena berhasil mengerjai Anna.


"Maafkan aku Anna!" gumam Prin di tengah tawanya


*****


Anna pergi ke butik miliknya. Dengan keadaan yang kesal Anna langsung meminta pegawainya untuk membawakan minuman beralkohol ke dalam ruangannya.


"Tidak mungkin!" Anna menenggak minuman nya.


"Awas saja kau Prin!"


Anna mulai merasakan pusing di kepalanya. tanpa sadar Anna terlelap tidur di kursi dan menumpu kepala nya di atas meja beralas lengan sebagai bantalan nya.


Tiba saatnya untuk Edward Snowden dan Carolin Snowden pergi ke New York. Mereka di antar ke bandara oleh Anna dan Luis terlihat pula Prin yang ikut mengantarkan.


Anna sama sekali tidak memperdulikan keberadaan Prin. Anna terus menghindari Prin , baik dari tatapan dan kontak langsung dengan Prin.


"Momy sama Dady pergi dulu ya sayang, kau jaga diri baik-baik disini oke?"


Perkataan ibunya Anna sontak membuatnya terpaku, mengingatkan kembali apa yang di ucapkan Prin padanya.


Anna hanya menanggapi dengan anggukan dan tersenyum. "Cepat kembali"


"Prin saya titip Anna, tolong jaga dia selagi saya di new York kamu yang saya percayakan!" perintah Edward Snowden


"Baik pak"


"Aku tidak perlu di jaganya, aku bukan anak kecil lagi." Anna melirik ke arah Prin sinis.


"Ya sudah kalau begitu kita pergi dulu."


"Hati-hati !" Anna memeluk ayah dan ibunya.


Setelah ayah ibu dan Luis tidak terlihat lagi, kini tinggal Anna bersama Prin.


Anna melirik Prin, Prin tersenyum tapi Anna langsung pergi meninggalkan Prin.


Sampai di kantor Prin mengikuti Anna dan masuk ke dalam ruang kerja Anna.


Anna menoleh "Untuk apa kau mengikutiku?"


"tidak, saya kesini hanya ingin memberikan laporan pemasaran kita" Anna melihat berkas di tangan Prin. Prin langsung memberikannya.


"Sudah pergi sanah" Anna langsung duduk di kursi kerjanya.


Prin menghentikan langkahnya dan memutar kembali badannya.


Anna melihatnya "Apa lagi?" sinis Anna


"Untuk soal itu, apa kau masih memikirkannya ?" tanya Prin


"Kau...!" kesal Anna


"sudah sanah pergi, aku tidak mau lagi membahasnya" tambahnya.


"Baiklah, Saya permisi"


*****


Sudah beberapa Minggu ini Anna selalu mengabaikan Prin. Saat bertemu pun Anna langsung menghindar hanya pada saat menjalankan tugas mereka akan terlihat profesional.


Di Thailand


Orang tua Prin sudah jengah mencari keberadaan Prin.


"Ayah bagaimana, kau sudah menemukan Mac?" ibunya menghampiri suaminya.

__ADS_1


"Belum Bu, keberadaan Mac sampai sekarang masih belum juga ditemukan, orang-orang kita sudah mengecek informasi penerbangan atas nama Mac. tapi tidak ada penerbangan atas nama Mac" jelas Wiliam ayah Mac prin


__ADS_2