Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 52 – Kegalauan Hayu


__ADS_3

Setelah kejadian itu....


Hayu hanya diam. Membuat Gio dan Pian merasa khawatir dengan keadaan Hayu. Mereka tak berani bertanya pada Hayu.


"Sebenarnya apa yang terjadi, menurutmu?" tanya Pian pada Gio. Tak ada siapapun yang bisa ia ajak curhat atau tanyakan hanya Gio yang ia kenali disini.


Gio diam sejenak. "Mungkinkah Papa mengusirnya," gumam Gio, namun ia kembali bersuara. "Tapi... Jika Papa mengusirnya kenapa kita tak mendengar apapun! Aku hanya mendengar Mama membuka pintu dan langsung pergi," ungkap Gio kebingungan.


"Apa terjadi sesuatu didalam sana sehingga Hayu seperti itu, apa kita tanyakan saja sekarang?" tanya Pian. Gio mengeleng-gelengkan kepalanya. "Belum waktunya, besok kita coba lihat situasinya," ujar Gio, disetujui Pian.


Pian kembali kerumahnya, yang berada disamping Rumah Gio. Ya, mereka langsung mencari kontrakan selepas hal kemarin. Tempat yang terlihat sederhana namun, nyaman ditempati.


Dilain tempat.


Devan termenung. Ia seakan-akan mengenali sosok wanita yang kemarin menerobos masuk kedalam ruangannya dan pergi begitu saja setelah masuk dan melihat dirinya.


Devan bertatapan dengan wanita itu, ia merasakan debaran aneh di jantungnya. Apakah ia mengenali wanita itu? Devan mengacak-acak rambut kasar, ia terus saja terbayang tatapan mata wanita itu yang membuatnya berdebar-debar.


"Bagaimana?" tanya Devan dengan dingin.


Orang kepercayaan Devan, Jendra menunduk meresa bersalah. "Maaf, Presdir. Saya tidak menemukannya. Saya sudah mencarinya di seluruh kota tapi tak menemukan siapa dia," jelas Jendra.


Brak!


Devan menggebrak meja dengan kasar. "Mendapatkan data seperti itu saja kau tidak bisa!" bentak Devan yang kehilangan kesabarannya, karena ia jelas yakin mengetahui siapa wanita itu.


Hanya saja kenapa aku seakan-akan lupa! Oh, ayolah ingatan!'


Devan memaksakan pikirannya untuk mengingat wanita itu, selintas ia bisa melihat samar-samar, namun itu dihalangi cahaya bahkan ia hanya mendengar suara tak jelas.


"Akhhh!" Devan memegang kepalanya sakit. Denyut dikepalanya membuatnya muak! Setiap kali mencoba memikirkan sesuatu.


"Keluar! Jangan biarkan siapapun masuk kecuali aku memintanya."


"Baik, Tuan!"


Hening!


"Akh, sialan!"


"Kenapa setiap kali aku merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari hidupku!"


"Tapi, apa!" bentak Devan geram. Ia tak dapat menahan emosi dalam dirinya.


Ceklek!

__ADS_1


"Sudah aku katakan jangan masuk!" bentak Devan lalu menatap wanita yang baru saja masuk.


Wanita dengan rambut panjang, dengan dress selutut, kulitnya putih dan seksi. "Sayang... Kenapa kau selalu marah-marah, hah? Tidakkah kau merindukanku?" tanya Gadis itu dengan manja.


Membuat Devan muak. Tangannya bergerak mengandeng tangan Devan. Namun, Devan menghempaskannya cepat. "Jangan menyentuhku, dasar jal*ng," maki Devan.


Devan masih sangat kesal. Karena wanita bernama Salsa inilah ia jadi tak mengetahui siapa wanita yang datang ke ruangannya kemarin.


"Ka---kau mengatakan aku jal*ng? AKU ADALAH TUNANGANMU, DEVAN!" Gadis itu berteriak kesal. Wajahnya memerah karena rasa malu dan amarah bercampur aduk.


Berani-beraninya dia mengatai aku jal*ng.'


"Heh." Devan menatap remeh Gadis dihadapannya. "Sejak kapan aku mengatakan kau adalah tunanganku?" tanya Devan menatap tajam Salsa.


Salsa yang ditatap terdiam, gak tahu harus apa.


"Pergilah! Sebelum aku memanggil satpam untuk mengusirmu dari sini," titah Devan memutar kursinya ke belakang. Malas melihat wajah gadis menjijikkan dihadapannya itu.


"Cih!" Gadis itu pergi dengan perasaan kesal.


*


*


*


Siapa sebenarnya wanita itu, kenapa dia duduk diatas Mas Devan?' batin Hayu.


Tok! Tok!


Hayu tersigap. "Ya... Kenapa, Gio?" tanya Hayu, yang tahu pasti siapa yang mengetuk pintunya.


"Boleh Mama keluar? Gio sama Paman Pian mau bicara," jelas Gio sedikit berteriak.


Hayu menghapus air matanya, lalu menjawab. "Baiklah, kalian tunggu sebentar."


"Sepertinya mereka ingin menanyakan tentang apa yang kulihat saat kemarin. Ya Allah, apa yang harus kukatakan," gumam Hayu sembari berjalan menuju teras rumah.


"Mama..." Hayu tersenyum.


"Ada apa?"


"Emmm... Itu, Yu. Kami ingin bertanya kenapa kau dua hari ini murung dan mengurung diri dikamar? Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?" tanya Pian tanpa basa-basi, ia juga sudah terlanjur khawatir.


Hayu tersenyum canggung. "Entahlah. Semuanya terjadi begitu saja. Sebenarnya kemarin... Aku melihat Devan, dia benar-benar ada dihadapanku. Tapi..." Hayu menjeda ucapannya, sambil menatap wajah Putranya.

__ADS_1


"Ada wanita lain di pangkuannya, aku tidak tahu siapa. Karena itu... Aku berlari tanpa berpikir," jelas Hayu, membuat Gio marah.


Marah karena Papanya lagi-lagi menyakiti Mamanya. Tapi... Kenapa rasanya ia belum juga puas. Seperti ada sesuatu yang terus membawanya untuk menemui Papanya.


"Baiklah, kami mengerti. Aku harap Mama pikirkan baik-baik selagi kita masih disini. Apakah Mama mau kita pulang atau kembali menemui Papa..."


"Entah kenapa... Aku... Aku merasa seperti ada sesuatu yang janggal. Aku seperti selalu ingin mempercayai Papa," jelas Gio dengan ragu-ragu, sebab ia takut Mamanya tersinggung ia lebih mempercayai Devan dibandingkan Hayu.


Hayu jelas tertegun mendengar ungkapan Gio. Akhirnya ia hanya mengangguk. "Baiklah, akan Mama pikirkan lagi."


Disamping itu, Pian heran dengan sikap Gio yang tiba-tiba berubah dari rencana awal mereka. Awalnya mereka berencana membujuk Hayu untuk kembali menemui Devan, mungkin ada kesalahpahaman namun tiba-tiba malah begini.


Tapi bodohnya, Aku merasa apapun yang dilakukan bocah ini dapat di percaya,' batin Pian merasa konyol.


Setelah Hayu masuk. Pian langsung bertanya pada Gio apa yang sebenarnya terjadi.


"Gio... Sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Kenapa tiba-tiba rencananya berubah?" tanya Pian.


Gio seperti sedang memikirkan sesuatu. "Aku akan menemui Papa sendirian," ungkap Gio, membuat Pian kaget.


"Loh? Bukankah kamu bilang kemarin tidak ingin Devan mengetahui tentang kamu?" tanya Pian heran, dengan sikap Gio.


Kenapa dia sangat mirip dengan Devan, sial*n,' umpat Pian, yang merasa kesal. Tidak Devan besar Devan kecilpun sama-sama menyebalkan..


"Aku harus mengubah rencananya. Mungkin dengan menemui Papa... Aku bisa mencari tahu yang sebenarnya. Karena sepertinya... Mama tidak akan mau," jelas Gio, yang sudah tahu sifat Hayu selama ini.


"Betul juga, sih. Jadi kapan kau mau menemuinya. Dan, aku harus ikut walaupun menunggu diluar gedung," ujar Pian tak terbantahkan.


"Tentu saja, Paman. Paman bagaimana sih mana mungkin juga Mama mengizinkan aku pergi sendirian di kota," ujar Gio merasa dongkol.


Pian lagi-lagi mengumpat dalam hatinya. Menghadapi sifat menyebalkan Gio.


Astaghfirullah sabar... Sabar, Pian. Anak kecil....'


"Baiklah, terserah kau saja!" Pian pasrah. "Jadi... Kapan?" tanya Pian kedua kalinya.


"Sekarang!"


"Hah?!"


"Apa tidak terlalu cepat? Tidak menyiapkan rencana lebih matang terlebih dahulu?" tanya Pian heran.


"Sudahlah. Tugas Paman hanya perlu mengikutiku saja! Sisanya serahkan padaku, aku akan menyelesaikannya."


Lagi-lagi Pian merasa dongkol dan kesal. Rasanya harga dirinya sebagai orang dewasa yang jarak umurnya saja hampir 20 tahun lebih, merasa terlukai.

__ADS_1


__ADS_2