
Dafa yang memang sudah menduga hari ini adalah hari kelahiran Hayu, langsung menyuruh Bidan untuk membantu persalinan Hayu.
Ratna dan Dafa menunggu dengan cemas diluar sana. Mereka berharap banyak untuk kelahiran anak Hayu.
"Ya Allah berilah mereka keselamatan dan kesehatan menjalani persalinan ini," ucap Ratna berdoa. Ia menggenggam erat jemari nya.
Dafa lelaki itu terlihat cemas, namun berusaha tenang. Ia tak pernah menghadapi persalinan yang sesungguhnya.
"Kumohon semoga kalian baik-baik saja," gumam Dafa.
"Oek... Oek...!"
Ratna dan Dafa saling menatap satu sama lain. Terlihat semburat kebahagiaan diwajah Ratna yang mendengar rengekan suara Cucunya.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Ya Allah. Aku memiliki Cucu." Ratna bersujud syukur.
Tak lama pintu dibuka dan keluar Bidan dengan mengendong Putra kecil Hayu.
Bidan tersenyum. "Dia anak laki-laki yang sehat dan penuh senyum," ujar Bidan dengan senang. Karena ini pertama kalinya dalam hidupnya membantu orang-orang melahirkan dan mendapati seorang anak yang baru lahir tersenyum senang.
"Di-dimana Hayu?" tanya Ratna dan Dafa serentak. Mereka sedikit merasa khawatir.
"Dia baik-baik saja, hanya istirahat karena kelelahan. Saya pamit memandikan bayinya dulu, setelah itu baru langsung disusui Ibunya," jelas Bidan diangguki Ratna dan Dafa.
Mereka memasuki kamar dan menatap Hayu yang tertidur denabn perutnya yang sudah mengempes.
"Bu..." Suara lirih Hayu, membuat Ratna tersenyum. "Ya, ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanya Ratna pada Hayu.
"Tidak. Aku ingin Putraku, Bu," jelas Hayu, dijawab kekehan Ratna. Persis seperti dirinya saat melahirkan Hayu.
Perasaan akan tenang jika sudah melihat anak-anak mereka. "Dia sedang mandi, sebentar lagi dia akan sampai," jelas Ratna. Dan, benar saja Bidan sudah membawa Putra Hayu.
"Putraku..." Hayu menatap anaknya dengan tatapan sendu. Ia lalu berusaha untuk duduk, namun Bidan tidak menyarankan.
__ADS_1
"Sebaiknya sembari tiduran saja."
Hayu mengangguk mengerti.
"Dia... Giovano Nagara, Putraku."
Dafa yang melihat Hayu hendak menyusui Gio akhirnya memilih pergi. Dan, menunggu diluar jika ia dibutuhkan. Tak lama, Pian datang karena mendengar kabar Hayu lahiran. Ia menatap Dafa sinis, jelas ia tak menyukai Dafa karena terkesan menginginkan Hayu. Sedangkan, Devan adalah sahabatnya selama ini dan ia tahu Devan begitu mencintai Hayu.
Jangan harap kau bisa mendekati Hayu.' Maksud tatapan mata Pian pada Dafa.
Tok! Tok!
"Yu! Aku mau lihat dong Dedeknya!" teriak Pian tersendat.
Tiba-tiba pintu dibuka oleh Ratna. Dengan seketika wanita itu menarik telinga Pian. "Aduh, duh... Sakit, Tan. Kok di jewer sih?" tanya Pian mengelus kupingnya, dengan heran.
"Kamu itu loh, udah tau Gio mau tidur pakek teriak-teriak segala," ucap Ratna, membuat Pian cengengesan. "Maaf, gak tau. Tapi mau lihat boleh ya, Tan." Ratna mengangguk ia juga harus menyiapkan bedong untuk Cucunya.
Hayu tersenyum bangga."Tentu saja, siapa dulu Mama dan Papanya," ujar Hayu terkekeh.
"Iya deh, Iya. Yang bibit unggul."
Sayang sekali, Bro. Lo gak bisa lihat Putramu yang begitu tampan yang bahkan sebelas dua belas dengan muka Lo. Bedanya dia full senyum, Lo full dingin,' batin Pian terkekeh dalam hatinya.
Ditempat lain.
Devan baru saja merasakan sakit yang luar biasa di pinggangnya. Hingga membuat pinggangnya serasa putus. Ia mencoba menahan dirinya dirumah sendirian, tanpa ada bantuan siapapun. Ia mencoba untuk tahan, namun rasa sakitnya sangat menyiksa hingga akhirnya lega.
"Ya Allah. Apa itu tadi? apa aku memiliki penyakit langkah?" gumam Devan. Ia merasa ada sesuatu yang kurang yang terasa hilang dari dirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu? Masa dimana aku kehilangan ingatanku..." Sebenarnya Devan mengetahui jika dirinya pernah lupa ingatan dan dioperasi untuk mengembalikan ingatannya kembali. Namun, resikonya adalah ia akan melupakan kejadian setelah kecelakaan terjadi.
"Sialan!"
__ADS_1
"Sebenarnya apa! Apa yang selalu terasa kurang di hidupku! Jelas-jelas aku tidak akan pernah dekat dengan wanita! Lalu siapa apa!" teriak Devan geram. Sekelibat sering terlintas kilas gambaran-gambaran seseorang perempuan yang berdiri di tengah sawah dengan rambut panjangnya.
Gadis itu yang selalu membuat Devan penasaran. Ia selalu bertanya pada Mama dan Papanya tentang dimana dirinya setelah kecelakaan. Namun, mereka enggan menjawab. Hingga akhirnya ia melupakan tentang kejadian dan berusaha untuk menyelesaikan kesibukannya di kantor yang sudah ia tumpuk dua bulan lebih.
...****************...
Senyuman Hayu tak henti-hentinya merekah menggendong Putranya yang terlihat sangat mirip dengan Suaminya. Sehingga membuatnya bisa sedikit mengobati rasa rindunya pada sang Suami. Hayu merawat Gio dengan telaten berkat bantuan sang Ibu dan Pian.
Seperti katanya, Hayu mencoba menjauh dari Dokter Dafa. Karena dirinya sudah mengetahui tentang perasaan Dokter Dafa pada dirinya, perasaan lebih dari sekedar pasien juga Dokter. Dafa semakin hari semakin bingung dengan sikap Hayu yang menghindarinya, ia semakin yakin jika Hayu mengetahui perasaannya yang sebenarnya.
"Hayu." Hayu yang dipanggil menoleh, ia mendapati Dafa yang berdiri dengan raut wajah sendu. Hayu segera mengendong Gio dan hendak masuk kedalam. Namun dengan cepat, Dafa menggenggam tangan Hayu.
"Tolong. Kamu jangan menghindar ada yang harus kita bicarakan sekarang," jelas Dafa menatap mata Hayu dalam. Hayu menghindarinya.
"Sebaiknya Dokter segera bicara karena saya sibuk untuk mengurusi anak saya," ujar Hayu dingin.
Apa ini saatnya.'
"Saya mencintai kamu, Hayu. Menikahlah dengan saya, agar Gio memiliki keluarga yang utuh dan kasih sayang keluarga yang utuh. Aku menyukai kamu sejak pertama bertemu. Kau sudah tak bertemu Suamimu sudah lebih dari satu tahun. Jadi aku mohon, terimalah," ujar Dokter Dafa dengan berani. Hayu yang tak terima Dafa membicarakan tentang kasih sayang keluarga yang utuh dengan cepat menghempas tangan Dafa.
"Maaf, Dok! saya yakin, kok. Jika Suami saya akan segera kembali! Dokter jangan bilang Gio tidak memiliki kasih sayang yang utuh dia punya aku Ibunya!" bentak Hayu dengan marah.
"Tetapi tidak dengan Ayahnya, bukan?" Pertanyaan itu sontak membuat hatinya terasa teriris. Ia meneteskan air matanya. "Terserah, Dokter. Yang jelas saya bisa membahagiakan Putra saya walau tanpa Suami saya ataupun Dokter."
BRAK!
Hayu membanting pintu keras. Ia menangis sembari memeluk Putranya yang saat ini berusia enam bulan. Ia tak dapat membendung perasaan rindunya pada Devan. Sosok lelaki yang awalnya sangat dingin, kemudian hangat padanya. Sosok lelaki yang berjuang untuk dirinya. Lelaki pencemburu yang mudah terbakar emosi.
"Haha... mungkin. Jika Papamu tahu ada yang mencoba melamar Mama, dia akan cemburu seperti apa," ujar Hayu pada Putranya, menutupi rasa sedihnya.
Putranya hanya menatap dirinya dengan beo tak mengerti apa yang sedang di ekspresikan Mamanya. Ia hanya tahu tertawa dan tersenyum. "Ukh, sayangnya Mama. Harus bahagia terus ya sayang."
Cup!
__ADS_1