Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 46 – Papa vs Anak


__ADS_3

Beberapa hari kemudian. Hayu sudah meminta Pian untuk membelikan Gio sebuah laptop. Pian dengan senang hati melakukannya karena sangat menyayangi keponakannya itu. Keponakannya yang imut dan menggemaskan walau terkadang dingin.


Yaps. Walaupun Gio dekat dengan Pian. Tetapi terkadang moodnya berubah-ubah, seperti ramah, baik, menggemaskan namun dalam satu saat bisa dingin, cuek dan sinis. Hayu menebak bahwa ini perpaduan antara dirinya dan juga Devan. Sifat mereka yang bertolak belakang membuat sifat Gio menjadi aneh tapi lucu.


"Paman Pian!" teriak Gio, tampaknya ia lagi di mode malaikat.


Yaps. Hayu, Ratna dan Pian memberikan julukan di setiap ekspresi dan sifat Gio, yaitu malaikat dan iblis, dimana ada mode baik dan jahat.


"Nih, laptopnya. Main yang benar jangan sampai rusak."


"Siap! Makasih, Paman."


Gio segera berlari memeluk laptopnya. "Gio! Pelan-pelan, sayang. Kamu nanti jatuh," tegur Hayu, melihat tingkah imut Putranya.


Gio memperlambat langkah kakinya, dan tersenyum manis pada Mamanya."Baiklah, Mama. Gio ke kamar dulu, mau cobain," jelasnya nyengir.


"Iya, eh tap---." Baru saja Hayu ingin bertanya pada Putrinya. Tetapi, Putranya sudah keburu menghilang dari balik pintu, membuat Hayu geleng-geleng kepala.


"Ada-ada saja dia. Tapi, Pian... bagaimana dia belajar menggunakan laptop?" tanya Hayu yang bingung. Pian hanya mengendikkan bahunya.


"Jangan tanya itu, Yu. Kau tau sendiri betapa cerdasnya Putramu itu," ungkap Pian. Dia mengendikkan bahunya merinding.


Hayu terkekeh. Ia teringat saat Gio menantang Pian yang sebagai orang dewasa, bermain sembari belajar perhitungan. Dan, Hayu sebagai gurunya yang akan menentukan jumlah angkanya harus ditambah, dikurang, dikali atau dibagi. Namun, dalam sekejap Pian kalah.


Karena bocah kecil itu, bisa menjawab semua pertanyaan dari Hayu dalam waktu dua detik.


"200x10?"


"2.000," jawab Gio cepat membuat Pian melongo tak percaya.


"25 x 9 berapa?" tanya Hayu lagi.


"225," jawab Gio enteng. Lagi-lagi membuat Pian membulatkan matanya heran.


"222 – 62!" teriak Hayu pada pertanyaan terakhirnya.


"160, easy." Gio memandang remeh Pian dengan mengangkat sudut bibirnya.


"Curang! aku yakin, kalau sekongkol bukan!" teriak Pian tak terima. Hayu yang mendengar itu tertawa terbahak-bahak.


Sejujurnya, ia belum tahu betul jika kemampuan Gio bisa sebagus itu. Bahkan tanpa harus sekolah.

__ADS_1


"Cobalah sendiri jika tidak percaya," jawab Hayu enteng.


"Baiklah. Aku coba, kau harus menjawabnya," ujar Pian tak terima.


"Aku tidak mau," tolak Gio, memalingkan wajahnya.


"Nah, tuhkan! Kalian sekongkol, buktinya dia gak mau," ujar Pian, akhirnya hatinya bisa lega. Masa iya, ia kalah berhitung pada bocah berusia lima tahun, yang benar saja.


"Gio mau kalo... Paman janji bakalan beli dagangan Mama selama seminggu kalo Gio bisa jawab semuanya, gimana?" tanya Gio menantang. Pian yang yakin bakalan menang menantang balik Gio.


"Kalo Gio kalah Paman makan gratis dirumah Gio, gimana?"


Mereka akhirnya sepakat. Hayu yang menonton hanya mengeleng-gelengkan kepalanya, ia hanya kasihan melihat Pian yang akan segera kalah.


"32 x 30?"


"960."


Pian masih tak percaya.


"765 – 456!"


"309," jawab Gio dengan gaya sombongnya.


"788 x 777!" teriak Pian yang kesal. Ia menyebutkan angka acak yang dirinya sendiri tidak tahu berapa.


Gio terdiam. Membuat Pian lega. "Kau menanyakan pertanyaan yang tidak masuk akal pada anak umur lima tahun, yang benar saja," ledek Hayu melihat sahabatnya yang sudah geram. Karena dikalahkan oleh Putranya.


Namun, lima detik kemudian ia menjawab dengan lantang.


"612, 276."


Hayu dan Pian sama-sama tercengang, saat mengecek di kalkulator ternyata benar.


"Kau masih ingat dengan kejadian itu?" tanya Hayu, pada Pian.


"Jangan ungkit-ungkit! harga diriku terluka gara-gara Putramu dan Devan," ujar Pian kesal.


Didalam sana. Gio sudah memasang laptopnya. Tangan kecilnya yang imut itu dengan lihai mengetik sesuatu di keyboard, bahkan ia menarik sudut bibirnya.


"Ini sangat mudah," gumamnya sembari menatap laptopnya.

__ADS_1


Ya. Ia adalah seorang hacker yang tidak diketahui. Ia mulai belajar sejak satu tahun lalu. Ia hanya bisa meretas data-data Perusahaan kecil untuk menghasilkan uang, dan tanpa diketahui oleh Hayu. Gio sudah menghasilkan banyak uang hasil dari pekerjaannya selama ini.


Bahkan namanya sudah terkenal di dunia hacker dan juga beberapa perusahaan yang sudah pernah ia bobol. Karena rasa penasarannya yang begitu besar juga, ia meminta Hayu membelikan laptop tujuan utamanya adalah untuk berlatih lebih baik lagi menjadi hacker.


Ia ingin mencoba meretas data keamanan Perusahaan terbesar yang ada di negara ini. Tentunya, itu tidak akan mudah hanya dengan sebuah handphone. Itulah kenapa ia melakukan ini.


"Astaga. Aku lupa. Harus mencari informasi tentang Papa," gumam Gio akhirnya, ia berjalan membuka laci lemarinya dan mengambil sebuah foto. Tangannya bergerak lihai mengetik dan mencari informasi tentang Papanya. Hanya dengan foto dan nama Papanya.


"Aku akan memberimu pelajaran, Pa. Jika aku menemukanmu! Kau berani membuat Mama sedih sepanjang waktu," gumam Gio dengan mata hazelnya menatap tajam layar laptopnya.


Matanya berbinar kala mendapatkan informasi tentang Papanya. Namun, ia tertegun sesaat saat membaca dengan lengkap biodata tentang sang Papa.


"Devandra Athelion, seorang pengusaha sukses yang mampu mengembangkan Perusahaan Atelio menjadi yang pertama di Negera ini."


"Hah?" Gio tampak tidak yakin dengan itu semua. Apakah cita-citanya adalah membobol Perusahaan nomor satu di Negera ini adalah perusahaan Papanya sendiri?


"Hah... Papa jahat. Papa bahagia disana dengan kemewahan sedangkan Papa melukai hati Mama disini," jelas Gio, diam-diam ia meneteskan air matanya. Karena selama ini ia jarang mengeluarkan air matanya.


Gio juga membaca banyak skandal percintaan antara Papanya dan banyak wanita. Dan, yang paling sering adalah seorang wanita bernama Salsabila. Gio yang merasa tak terima dengan tanpa ragu mencoba untuk meng-hack keamanan Perusahaan Papanya.


Namun, sebelum itu ia memperkuat keamanan laptopnya agar sulit untuk ditembus.


"Rasakan ini, Pa." Gio memulai aksinya.


Sedangkan jauh di kota lain. Seseorang sedang berjalan tergesa-gesa menuju sebuah ruangan.


"Bos! Gawat!" teriaknya.


Seorang pria menatap dingin Asisten pribadinya. "Hal gawat apa yang membuatmu sampai se khawatir itu?" tanyanya dengan dingin.


Asistennya dengan ragu menjawab."Data keamanan Perusahaan kita sedang dibobol seseorang misterius," jelasnya membuat Pria itu bangkit dari duduknya.


"Masalah seperti ini saja kalian tidak bisa melakukannya dengan becus," jelasnya lalu berjalan kepusat kontrol keamanan.


"Sial."


Devan mengumpat kecil, saat seseorang yang Meng-hack keamanan Perusahaannya menghilang begitu saja.


"HaGid cari nama itu secepat mungkin!" bentak Devan.


"Menarik, baru kali ini ada yang bisa menandingiku."

__ADS_1


"Aku akan mencarimu kemanapun."


__ADS_2