Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 54 – Menjadi OB di perusahaan Devan!


__ADS_3

Tidak seperti perjanjiannya, Devan mencoba mencari informasi tentang Dev yang bertemu dengannya tadi.


"Jaden! Cari informasi tentang bocah tadi, aku mau secepatnya!" Devan terlihat antusias.


Aku akan menemukanmu! Dan, membawamu kembali, dengan atau tanpa Mamamu! Karena kau Putraku aku berhak,' batin Devan.


Devan seharian memikirkan semua tentang Dev, membuatnya lupa dengan perempuan yang membuat hatinya berdebar-debar kemarin. Baginya, Putranya lebih penting dari apapun. Namun, dikepalanya terus berputar pertanyaan yaitu kapan? Dimana? Dan, bagaimana bisa ia memiliki anak? Dan kenapa dia sama sekali tidak mengingat tentang wanita itu sama sekali.


"Akh! Sialan! Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya!" Devan terus mencoba mengingat, ia menangkap bayangan seorang wanita yang sedang tersenyum, sayangnya wajahnya tak terlihat jelas.


"Arghh! Akh...!"


"Bos!" teriak Jaden saat mendengar suara dari dalam ruangan Presdir-nya.


Devan terus memegang kepalanya yang berdenyut. Ia mencoba menahan tubuhnya dengan tangannya yang memegang meja. "Sialan!" Umpat Devan.


"Bos! Tenanglah, Bos!" teriak Jaden berusaha menyadarkan Devan.


Devan akhirnya sedikit tenang, setelah mendapatkan teriakan dari Jaden. "Hah... Syukurlah. Aku sangat takut tadi," ujar Jaden.


"Siapkan mobil, aku ingin pulang."


*


*


*


*


Mansion, Atalion.


"Dev!"


"Kau kembali?" tanya seorang wanita yang walau usianya sudah separuh abad, ia masih terlihat cantik.


Devan menatap Mamanya dingin. "Apa yang sebenarnya Mama sembunyikan dari Devan?" tanya Devan, dengan pandangan menyelidiki.


Sinta, wanita itu mengernyit heran pada Putranya. "Maksudmu apa, Nak? Menyembunyikan apa?" tanya Sinta dengan heran.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganku sebelum operasi itu, Ma!" Devan menatap mata Sinta mencair kebenaran.


Sinta terdiam, dengan susah payah meneguk salivanya. "Ah, ke-kenapa kau bertanya itu?" tanya Sinta, dengan heran.


Kenapa tiba-tiba Devan menanyakan ini?' batin Sinta.


"Jangan bohong, Ma! Devan tau Mama bohong sama Devan!"


"Kenapa Mama harus bohong sih, Dev! Enggak terjadi apa-apa! Kamu hanya dalam masa pemulihan saja, sampai tiba waktunya kamu operasi!" Penjelasan Sinta tetap tidak dipercayai Devan.


Devan hendak pergi, namun sebelum itu. "Jika Devan mengetahuinya sendiri, jangan harap Devan bisa maafin Mama!" Setelah itu, ia pergi begitu saja.


Membuat Sinta takut, jika memang Devan benar-benar tidak memaafkannya. "Maafin Mama, Dev! Ini semua demi kebaikan kamu! Mama gak mau kamu mendapatkan wanita yang hanya menginginkan hartamu saja," monolog Sinta, menatap punggung Putranya sudah menaiki tangga.

__ADS_1


*


*


*


"Bagaimana? Lancar?" tanya Pian, sesaat setelah Gio keluar dari perusahaan Devan.


Gio tersenyum. "Tentu saja, Paman meremehkanku?" tanya Gio, membuat Pian memutar bola matanya malas.


"Jadi, apa rencana selanjutnya?" tanya Pian. Ia tak mau banyak bertanya tentang apa yang terjadi didalam sana, karena pastinya Gio akan menjawabnya dengan gaya menyebalkan lagi dan itu membuatnya geram.


"Tentu saja, membuat Mama berkerja di dekat dia!"


"Hah? Bagaimana caranya?" tanya Pian.


"Sebentar lagi, Perusahaan Papa akan merekrut OB baru, dan disitu Mama akan melamar."


Pian mengangguk, mencoba untuk mengerti walau sebenarnya ia tak mengerti, dan ntsh kenapa bocah itu bahkan lebih mengerti hal-hal seperti itu dibandingkan dirinya?


Dirumah Gio segera menemui Hayu yang sedang memasak untuk mereka. "Assalamu'alaikum!" teriak Gio, memeluk Hayu.


"Waalaikumsalam!"


"Lama banget kamu keluarnya? Kemana aja emang?" tanya Hayu penasaran. Ia sempat khawatir karena Putranya juga baru saja beradaptasi dengan lingkungan baru.


"Kami hanya keliling-keliling disekitar sini karena penasaran..."


"Oh, ya sudah. Kalian duduklah. Aku membuatkan kalian makanan pasti lapar, kan?" tanya Hayu, pada Gio. Gio mengangguk antusias.


Setelah selesai makan. Pian pamit kerumahnya untuk melaksanakan sholat. Sedangkan Gio, mencoba berdiskusi dengan Hayu. Sebelum itu, ia berpikir keras alasan apa yang cocok untuk dirinya meminta Hayu bekerja sebagai OB di perusahaan Papanya.


"Ma..."


Hayu yang sedang melipat pakaian mereka menoleh. "Ada apa?"


"Gimana kalau Mama kerja di Perusahaan Papa?" tanya Gio, membuat Hayu terbelalak heran.


"Kenapa kamu bisa mikir sampai sana? Lagipula untuk apa Mama kerja di Perusahaan. Mama ini sekolah saja tidak." Hayu menjelaskan dengan lembut.


"Bisa kok, Ma! Tapi sebagai OB."


"OB?"


"Itu pekerja semacam membuatkan minuman, menyapu dan mengepel lantai," jelas Gio dengan singkat dan jelas.


"Aku rasa dengan Mama bertemu Papa terus, Mama akan tahu apa yang terjadi pada Papa. Mungkin saja kemarin itu salah paham. Kita masih ada waktu satu bulan untuk memastikan semuanya," lanjut Gio, dengan tatapan memohon.


Karena ia tahu, Papanya tidak mencari mereka karena melupakan semua kenangan bersama Mamanya.


Melihat itu, Hayu merasa sedih. "Apa kamu benar-benar merindukannya? Kamu benar-benar ingin menemuinya, Nak?" tanya Hayu, merasa bersalah.


"Entahlah, Ma. Hanya saja aku ingin Mama bahagia yang artinya aku juga akan bahagia jika Mama bahagia," jelas Gio, membuat Hayu kehabisan kata-kata, ia hanya memeluk Gio erat.

__ADS_1


"Suatu mukjizat dan keberuntungan bagi Mama memiliki kamu dihidup Mama, Nak."


Akhirnya, seperti yang di pinta Gio. Hayu setuju dan saat ini dirinya sedang memerhatikan dirinya didepan cermin. "Apakah dia akan terkejut?" gumam Hayu.


"Bagaimana ini, aku gugup! Tapi aku juga takut menemuinya dan mendengar kenyataan jika dia memiliki yang lain," gumam Hayu, tertunduk sedih.


"Sudahlah! Demi Gio, semangat Hayu! Kamu pasti bisa!" teriak Hayu menyemangati dirinya sendiri.


Di depan Pintu Gio yang mendengar itu merasa bersalah karena terkesan sudah memaksa Mamanya yang tidak ingin bertemu lagi dengan Devan. Tapi, jika tidak seperti ini Mamanya tidak akan tahu jika Devan memang tidak bisa mengingat Hayu.


"Gio..."


"Bagaimana? Pe-penampilan Mama? Apa cocok?" tanya Hayu, terlihat malu.


"Cocok kok, Ma! Mama cantik seperti bidadari," jelas Gio, membuat Hayu tersipu malu.


"Mulutmu sama manisnya dengan Papamu," jelas Hayu, mengingat Devan yang pernah memujinya juga.


"Iya, dong. Anaknya," ucap Gio.


"Ya sudah, Mama pergi dulu. Kamu dirumah baik-baik ya, sama Paman Pian," ujar Hayu, sambil mengecup kening Putranya.


"Semangat, Mama!"


Hari ini Hayu akan langsung kerja karena Devan memang langsung menerima semua pelamar perempuan untuk mencari Ibu dari anaknya.


"Untuk semua OB baru, silakan menggunakan pakaian masing-masing dan pimpinan akan mengantar kalian untuk melihat-lihat seisi Perusahaan," ujar Seseorang.


"Baik!"


Hayu terlihat sangat gugup. Bagaimana jika ia bertemu dengan Devan? Ah, rasanya tidak mungkin karena Devan adalah orang yang sabar berpengaruh dan merupakan pemilik perusahaan. Pastinya sulit untuk bertemu orang sesibuk Devan.


Semoga aku tidak bertemu dengannya aku masih takut.'


Hayu mulai mendengarkan arahan pimpinan mereka yang menjelaskan berbagai tempat pekerja mereka. Mulai dari tempat membuat minuman, gudang peralatan dan beberapa ruangan yang harus dibersihkan dengan teliti setiap harinya.


"Bagaimana kalian sudah mengerti?" tanya Pimpinan itu.


"Mengerti!"


Hayu kembali menoleh menatap sebuah ruangan di ujung sana. Ruangan yang pernah ia masuki itu, ia merasa takut bertemu Devan lagi.


Jangan sampai lelaki itu keluar pikirnya.


"Nah, yang di ujung sana adalah ruangan khusus CEO. Hanya beberapa orang terpilih yang akan melayani kebutuhan dan membersihkan ruangan CEO," jelasnya, membuat Hayu mengangguk. Ia terus menatap ruangan itu tanpa kedip, hingga tak menyadari sesuatu.


"Selamat pagi, CEO!"


Hayu terdiam mematung, tanpa berani membalikan tubuhnya. "Hei! Menunduk apa yang kau lakukan didepan Bos!" sentak Pimpinannya yang marah.


Hayu langsung berbalik dan menatap Devan. Devan juga nampak terkejut melihat Hayu. Kamu tetap tampan seperti dulu, hanya saja kau terlihat gagah dengan setelan jas itu, Mas. Aku merindukanmu.'


Air mata menggenangi matanya, namun ia langsung menunduk.

__ADS_1


"Ma-maaf CEO! Selamat pagi!" seru Hayu, dengan suara tersendat.


Devan hanya diam tak percaya.


__ADS_2