Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 41 – Hayu dan Dafa


__ADS_3

Hayu duduk termenung di depan terasnya. Ia merasa aneh, hamil tanpa mual dan ngidam. Walaupun terbesit di pikirannya menginginkan hal itu, walau banyak Ibu-ibu yang bilang ngidam sama mual itu paling gak enak.


"Haaaa. Sayang, sepertinya kamu memang marah pada Papamu, ya. Sehingga membalas Papa seperti ini?" tanya Hayu, pada perutnya. Ia mengelus perlahan-lahan dengan penuh kasih sayang. Bahkan, ia sembari memikirkan Suaminya.


"Jadilah anak yang cerdas, sayang. Mama mau kamu mencari Papi dan juga menjadi anak yang kuat," lirih Hayu, meneteskan air matanya.


"Assalamu'alaikum."


Hayu terkejut, ia langsung menoleh melihat Dokter Dafa yang mendatanginya. "Wa-Waalaikumsalam, Dok," jawab Hayu seraya menghapus air matanya.


Dafa yang melihat itu merasa kasihan dan sakit, ia juga ingin gadis cantik itu berbagi kesedihan dengannya. Dafa juga ingin, menjadi pendamping Hayu agar anak didalam kandungan Hayu memiliki seorang Ayah.


Namun, ia tahu betul Hayu mencintai Devan. Apa dirinya egois? Menginginkan seseorang perempuan yang jelas masih terikat tali pernikahan? Namun, ia tahu betul jika seorang Suami tidak memberi nafkah pada Istrinya bahkan sudah hampir setengah tahun, itu merupakan dosa besar. Bahkan, bisa dianggap bercerai.


*Kasihan sekali nasib gadis cantik dan baik hati sepertimu, Hayu...'


'Coba saja jika aku datang lebih cepat. Aku yakin! Kamu gak akan seperti ini,' batin Dafa*.


"Ada apa, Dok?" tanya Hayu heran.


"Akh. Tidak apa-apa. Hanya saja tadi dijalan bertemu Ibu Ratna dan beliau meminta saya untuk mengecek kondisi kamu sebentar." Penjelasan Dafa membuat Hayu kesal dengan Ibunya.


Cek-cek apaan sih? Ibu emang deh, suka bikin orang lain repot,' gerutu Hayu dalam hatinya.


Ia lalu tersenyum. "Ah, sepertinya tidak perlu, Dok. Lagipula saya baik-baik saja, kok," jawab Hayu dengan sopan. Namun, Dafa menolak.


"Bukan seperti itu, Hayu. Kamu memang harus tetap di periksa. Karena harusnya tiap bulan sekali sebelum kehamilan mencapai enam bulan, kamu harus rutin di cek. Namun, kamu tidak pernah cek. Dan sekarang usia kandungan kamu sudah hampir enam bulan." Penjelasan Dafa membuat Hayu sedikit ragu, ia jelas tak ingin anaknya dan Devan kenapa-kenapa, ia ingin dia lahir dengan selamat dan membantunya mencari Devan.


Hanya anak ini satu-satunya harapan aku pada kamu. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa sayang, maafin Mama ya.'

__ADS_1


"Jika kamu tidak memeriksanya, takutnya terjadi sesuatu yang tidak diketahui," jelas Dafa, akhirnya meruntuhkan kepercayaan Hayu.


"Baiklah. Maaf, Dok," ucap Hayu. "Tidak apa-apa."


Dafs mengeluarkan Stetoskop dari dalam tasnya. Dan, memeriksa keadaan bayinya. Dafa tersenyum senang. "Alhamdulillah ternyata dia sehat-sehat saja. Bahkan dia sangat aktif didalam sana. Sepertinya dia sangat menyayangi anda," jelas Dafa, membuat senyum Hayu merekah.


"Terima kasih, Dok." Ia sangat senang hanya dengan mendengar kabar bahwa anaknya baik-baik saja didalam sana.


Tanpa perawatan, tanpa keinginan atau ngidam bahkan tanpa banyak menjaga pola makan. Hayu merasa anaknya adalah anak yang kuat dan sehat nantinya. Yang akan membahagiakan dia dan orang-orang disekitarnya.


Dafa tersenyum melihat senyuman manis Hayu ia tidak tahan untuk tidak jatuh cinta semakin dalam pada Hayu. Akan tetapi, semua itu masih membutuhkan perjuangan yang sangat panjang untuk dirinya menjadi Ayah dari anak dari kandungan Hayu.


"Saya pamit dulu. Makan yang teratur sepuya bayinya sehat," ucap Dafa sebelum pergi. sebenarnya ia tak rela meninggalkan Hayu, namun lama-kelamaan disini hanya akan memancing gosip Ibu-ibu yang tidak pernah diam dengan mulut-mulut mereka.


"Ya, Dok."


Hayu terus membaca ayat-ayat Alquran dengan merdu. Agar anaknya terlahir sebagai anak yang Sholeh dan bertanggung jawab dengan kewajibannya sebagai umat muslim. Firasat Hayu mengatakan anaknya nanti akan menjadi anak yang cerdas juga pintar segala hal, juga tampan dan cantik seperti Devan dan dirinya.


4 setengah bulan kemudian.


Kandungan Hayu semakin membesar itu semakin membuatnya sulit untuk bergerak. Namun, Dafa selalu menganjurkan dirinya untuk terus bergerak agar jalan keluar untuk anaknya mudah. Dafa juga menunjukkan berbagai kegiatan yang membuat jalan untuk keluar anak itu muda. Seperti mengepel dengan jongkok, mencuci juga menyapu.


Tetapi, dianjurkan untuk tidak berlebihan. Ratna semakin gencar mencari uang untuk biaya kelahiran Cucu pertamanya. Walau uang Devan ada ia tak mau terkesan menghabiskan uang itu cepat-cepat sebelum Devan kembali. Takutnya uang itu habis dan nafkah untuk Hayu dan anaknya terhenti.


"Dokter... saya boleh minta tolong untuk lebih sering menjenguk Hayu dirumah. Maaf saya terkesan merepotkan Dokter terus. Tapi saya tidak tahu harus meminta tolong siapa. Sekalian mengecek Hayu." Penjelasan Ratna malah membuat Dafa sangat senang, karena itu kesempatan untuknya dekat dengan Hayu. Ia selalu meminta Ratna untuk datang padanya jika ada sesuatu yang ingin dilakukan untuk Hayu. Makanya Ratna denabn berani mendatangi Dafa. Sedangkan, Pian? Lelaki itu bekerja sendirian karena sampai sekarang pengganti Devan belum ditemukan untuk kerja bersamanya.


"Tidak apa-apa, Buk. Ini sudah tugas saya sebagai Dokter disini," jelas Dafa dengan tersenyum ramah, mencoba sekuat tenaga untuk tidak terkesan terlalu senang.


"Terima kasih, Dok."

__ADS_1


Sesampainya dirumah Hayu. Dafa malah melihat seorang pria yang Dafa tidak ketahui siapa itu, sedang bercanda riang dengan Hayu.


"Assalamu'alaikum," salam Dafa dengan raut wajah tak suka.


"Waalaikumsalam," jawab keduanya kompak.


"Oh, Dokter? ada apa, Dok?" tanya Hayu ramah, ia semakin ceria menunggu kehadiran anaknya.


"Ibu Ratna meminta saya untuk mengecek keadaan kamu yang sendirian, takutnya terjadi sesuatu saat Bu Ratna pergi," jelas Dokter Dafa. Hayu yang sudah terbiasa pun hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saya baik-baik saja kok. Lagian ada teman saya Pian. Lahirannya mungkin satu atau dua Minggu lagi, bukan?" tanya Hayu, diangguki Dafa.


Ternyata dia yang namanya Pian? tidak terlalu tampan, masih tampan diriku,' batin Dafa membandingkan dirinya.


Astaga. Kenapa Dokter ini melihatku seperti itu?' batin Pian heran.


"Ada keluhan lain?" tanya Dafa. Hayu mengeleng. "Hanya seperti biasa saja, sakit pinggang. Lainnya tidak," jelas Hayu lebih detail.


"Kamu harus jaga-jaga. Karena sepertinya ini sudah tidak lama lagi. Nanti saya akan carikan Bidan di desa ini. Untuk selalu mengecek keadaan kamu," jelas Dafa, diangguki Hayu.


Setelah kepergian Dafa. Pian langsung mengintrogasi Hayu. "Hei! Aku gak yakin loh, Yu. Dia tulus nolong kamu sampe segitunya," ungkap Pian sembari menatap Dafa.


Hayu mencubit Pian. "Kamu jangan sembarang nuduh-nuduh orang."


"Aduh, duh... sakit, Yu. Lagian ya pikir aja pakai logika cowok mana yang mau nolongin seseorang sampai segitunya. Bahkan, setiap saat jengukin kamu yang padahal jelas pekerjaan dia banyak di kantornya." Penjelasan Pian membuat Hayu tersadar akan sikap Dafa selamanya kepadanya, apa itu benar? Jika benar ia harus segera membatasi hubungan terlarang ini.


Satu Minggu kemudian.


Hayu sedang memeriksa beberapa pakaian yang sudah dibeli Ratna untuk anaknya nanti. Pakaian yang netral bisa dipakai perempuan maupun lelaki, karena mereka sama sekali belum mengetahui jenis kelamin anaknya.

__ADS_1


Hayu tiba-tiba terduduk lemas. "Duh, Buk!!!!" Hayu berteriak. Dia memegang perutnya sakit, seakan-akan akan ada yang keluar.


"Astaghfirullah, Hayu! Tolong! Tolong!"


__ADS_2