
Lima Tahun, Berlalu.
Tidak terasa untuk Hayu waktu sudah berlalu begitu cepat. Bahkan, Putranya sudah beranjak dewasa, sudah bisa melakukan banyak aktivitas. Hayu merasa hidupnya akan bahagia, namun ia masih tetap merindukan sosok Suaminya yang hangat, Devan.
"Mama." Hayu menoleh, saat Putra kecilnya dengan imut memegang pakaiannya.
"Ada apa, sayang?" tanya Hayu dengan lembut. Ia jongkok dihadapan Putranya, untuk mensejajarkan tubuhnya.
"Gio mau tanya dimana, Papa?" tanya Gio untuk pertama kalinya. Selama ini, anak itu hanya diam saja tanpa protes. Walau melihat didepan matanya sendiri, teman-temannya bersama keluarga masing-masing yang memiliki keluarga utuh.
Jantung Hayu terasa diremas. Ia menatap sendu Putranya. Apa ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba menanyakan hal itu, hal yang selama ini berusaha Hayu tutupi agar Putranya tak terlampau sedih. Namun, apapun itu ia takkan bisa menutupinya selamanya.
Hayu dengan lembut membelai pipi tembam Putranya. "Sayang... Papa gak bisa sama kita. Papa pergi jauh diluar sana," jelas Hayu seadanya karena ia juga bingung mencari tau dimana lokasi pastinya Suaminya berada saat ini.
Mas... Putra kita menanyakan tentangmu? Apa yang harus aku lakukan, Mas.'
__ADS_1
"Jauh?" Gio mengernyit, walaupun ia tahu. Sang Mama tengah berbohong padanya. Jelas-jelas Papanya tidak ada karena suatu masalah, Gio tak akan tinggal diam. Ia harus mencari tau penyebabnya. Ia tak mau Mamanya sedih lagi.
Mama selalu menangis setiap malam sambil menyebut nama Papa. Papa! aku tidak akan memaafkan dirimu jika kau tidak memiliki alasan yang tepat setelah meninggalkan Mama '
Bocah kecil dengan pemikiran dewasa itu, mulai merencanakan sesuatu ide yang pastinya akan membuatnya bertemu Papanya.
"Baiklah. Jika Papa memang tidak bisa kembali. Mama... Apa Gio boleh minta sesuatu?" tanya Gio dengan raut wajah memohon.
Hayu mengernyit. Karena tak biasa Putranya meminta sesuatu padanya. "Minta apa?" tanya Hayu, menatap dalam.
Namun, karena semakin berkembangnya zaman. Terpaksa dua tahun yang lalu, Hayu membeli sebuah handphone walau bekas masih bisa dipakai dan lancar.
Gio tidak diizinkan memainkan Handphone. Karena menurut Hayu memberikan handphone pada anak diusia dini akan menimbulkan kecanduan hingga akan membuat anak susah diatur dan diberi tahu hanya terpokus pada gejet.
Namun, tanpa sepengetahuan Hayu. Gio selama ini bisa membuka handphonenya dan berselancar di dunia Maya. Namun, karena merasa tak bebas melakukan sesuatu didalam handphone kecil milik Mamanya yang tak bisa memuat banyak hal, membuat Gio terpaksa meminta permintaan ini pada Mamanya.
__ADS_1
"Laptop? Untuk apa kamu laptop? dan... darimana kamu mengetahuinya?" tanya Hayu mengintimidasi, membuat Gio meneguk salivanya kasar.
"Gio bisa bermain laptop. Gio mohon. Gio juga bisa kerja bantu Mama. Gio mau jadi anak yang pintar dan cerdas, supaya bisa bantu Mama. Walau Gio tidak punya Papa. Gio yang akan merawat Mama," ujar Gio menyinggung tentang Devan. Bocah itu sengaja melakukan itu agar menyentuh hati Mamanya yang merasa iba padanya.
Maafin Gio, Ma. Gio udah menorehkan luka diatas luka Mama. Tapi, Gio janji bakalan cari Papa sampai ketemu.'
Terkad bocah itu sangat kuat, hingga membuat Hayu terdiam membisu. Tak tahu harus berbicara apa pada Putranya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Baiklah. Mama akan berusaha mengumpulkan uang membantu kamu untuk membeli Laptop. Mama menyayangimu. Mama mengerti mungkin kamu bosan sendirian, jadi Mama akan memberikan kamu laptop. Dengan syarat.... main dengan batas waktu yang sudah disepakati. Jangan melewati batas atau mana akan mengambilnya kembali?" tanya Hayu dengan tersenyum kecil.
Membuat bocah itu tersenyum cerah. "Janji. Gio janji sama Mama. Makasih, Ma. Mama yang terbaik."
Cup!
Gio mengecup Pipi Mamanya dengan bahagia. Keluarga kecil mereka sudah berkembang. jadi tidak terlalu sulit untuk Hayu membeli sebuah laptop. Karena semenjak pesanan kue ulang tahun, kemasukan mereka semakin bertambah dan membuat hidup mereka bahagia.
__ADS_1