
Umur Gio semakin bertambah, namun harapan Hayu akan Devan semakin berkurang. Ia sudah lelah, sudah cukup harapannya selama satu tahun lebih ini. Ia hanya ingin fokus pada Putranya.
Putra yang akan selalu ada untuknya.
"Maafin, Mama. Mama gak bisa kasih Papa buat Gio, tapi Mama janji akan jadi Mama sekaligus Papa buat Gio," ujar Hayu, dengan sesak di dadanya.
Gio seakan-akan tahu rasa sakit yang dirasakan Mamanya, ia perlahan memegang pipi bulat Hayu lalu tersenyum. Membuat Hayu tertegun, lalu tersenyum bahagia walau setetes air mata mengalir dari matanya.
"Makasih, sayang."
"Hayu..." Ratna menatap Putrinya juga Cucunya.
"Ya, Bu. Ada apa?" tanya Hayu.
Ratna memeluk Putrinya. "Ibu janji akan selalu ada buat kalian. Ibu juga akan membantu kalian berdua. Kalian adalah harta terbaik Ibu," ujar Ratna, dengan air mata yang menetes.
"Ya, Bu. Ibu adalah Ibu terbaik di dunia. Hayu ragu apa Hayu bisa jadi Ibu yang baik seperti Ibu menyayangi Hayu," jelas Hayu dengan keraguan dimatanya. Ratna memegang bahu Hayu. "Jangan bilang begitu. Ibu yakin, seratus persen jika kamu bisa menjadi Mama yang lebih baik daripada Ibu. Jadi... Jangan terlalu sedih," jelas Ratna.
__ADS_1
Akhirnya adegan haru itu terputus karena tangis Gio yang sedang meminta sumber kehidupannya, susu.
"Oek... Oek..."
"Astaghfirullah, Gio. Dia laper kayanya, Bu," ujar Hayu, langsung menyusui Putranya. Gio tampak tenang setelah mendapatkan makanannya, melihat adegan itu membuat Ratna tersenyum kecil.
'Tak terasa, kemarin aku yang melakukan hal itu untuk anakku, Hayu. Sekarang Hayu sudah menggantikan posisiku secepat ini,' batin Ratna merasa waktu begitu cepat berlalu, tanpa terasa Putrinya sudah sangat dewasa bahkan sudah memiliki seorang Putra.
Ratna bertekad, untuk tidak membocorkan masalah Devan ke Hayu terlebih dahulu. Karena menurut Ratna, Devan pasti akan kembali. Namun, jika lelaki itu tidak kunjung kembali juga ia akan memberi tahu Hayu.
'Kasihan kamu, Gio. Kamu tidak bisa melihat Ayahmu, dia sangat baik. Oma janji akan mempertemukan kalian jika suatu saat dia kembali,' batin Ratna, menatap sendu Gio yang sudah tertidur di pangkuan Hayu.
"Haha. Ini terasa sedikit aneh. Tapi... Aku bersyukur punya kamu, sayang. Sayang... Papamu tidak ada," ungkap Hayu lagi. Ia menatap wajah teduh Putranya yang sedang tertidur pulas setelah ia beri minum.
"Lihatlah Putra kecil kita. Dia begitu menggemaskan dan sangat tampan seperti dirimu, Mas. Bahkan... Mengalahkan ketampananmu, hehe." Hayu terkekeh sendu.
"Ayolah. Aku harusnya tidak memikirkan dia lagi! Dia sudah pergi lama, jauh dan gak akan kembali lagi hanya untuk dirimu, Hayu. Sadarlah di kota sana banyak perempuan cantik," jelas Hayu pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia hanya diam, lalu tertidur disamping Putranya.
__ADS_1
Hayu saat ini berjualan dirumahnya, jualannya terdiri dari beberapa jualan sang Ibu. Karena ia tak mungkin hanya diam dirumah, sementara Ibunya mencari nafkah untuk dirinya dan anaknya. Jadi, Hayu bertekad walau berjualan kecil-kecilan dirumah.
Ternyata, jualannya cukup laris dimana anak-anak tergiur membeli makanan ringan buatan Hayu yang berbagai jenis. Itu hasil dari yang ia pelajari dari handphone, bersama Pian tentunya. Lelaki itu tak pernah bosan datang hanya untuk melihat ponakan kecilnya, juga menyemangati Hayu untuk terus semangat.
Hayu bersyukur memiliki Pian disisinya. Ia juga jadi merasa senang, apa lagi saat Pian menceritakan tentang Devan, saat itu, saat masih bekerja bersama.
"Kamu tau. Melihat kamu dandan matanya tidak kedip. Bahkan setelah kamu pulang dia hanya diam, sampe ditegur sama Pak Rito, haha," jelas Pian sembari terkekeh. Hayu juga tersenyum. Karena ini hari Minggu makanya Pian bebas dari pagi sampai sore menjaga Gio selagi Hayu bekerja.
"Sudahlah. Kamu istirahat dulu, makan sana di dapur. Kamu udah repot bantuin aku jaga Gio dari tadi," ujar Hayu, meminta Pian untuk Istirahat.
"Gak capek kok. Iya enggak, Gio?" tanya Pian pada Gio, dia hanya tersenyum.
Gio sudah sangat aktif, baru kemarin dia sudah belajar tengkurap. Membuat Hayu dan Ratna gemas sendiri. Siapa sangka perkembangan Gio sangat cepat, sehingga mereka kembali menunggu Gio bisa duduk sendiri juga berbicara.
"Tante, Hayu. Aku mau pentol isi sosis dong," ujar seorang anak kecil. Hayu tersenyum. "Tunggu ya, Jia." Hayu segera menggoreng pentol isi sosis.
Jualannya sangar laris, hingga menimbulkan rasa iri para tetangga. Apa lagi tetangga diujung jalan sana. Karena dia memang sudah berjualan lebih dulu dari Hayu, namun bedanya Hayu menyediakan banyak menu bahkan dari tutorial-tutorial yang ia lihat di YouTube.
__ADS_1
Sehingga, anak-anak terpancing untuk membeli karena bentuknya yang unik juga rasanya yang tak kalah enak. "Alhamdulillah. Hari ini kita laku banyak, Nak. Ini pasti doa anak Mama, ya. Makasih sayang. Cup!" Hayu mencium pipi Putranya dengan gemas.
Begitulah kehidupan mereka saat ini, hanya bertiga namun berusaha untuk saling melengkapi.