Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 37 – Devan yang Ngidam!!


__ADS_3

Hari-hari mereka terasa lebih bahagia. Hayu yang sudah mulai menerima bayi dikandungnya. Anak dirinya dan juga Devan, pria yang dicintainya.


"Sayang. Kamu sehat-sehat ya. Walaupun tanpa Papa, ya," jelas Hayu. Ia lebih menginginkan Anak mereka memanggil Devan Papa dibandingkan Ayah.


Karena ia selama ini, tak pernah bisa memanggil Ayah pada Ayahnya. Hayu takut, jika hal ini terjadi juga pada anaknya kelak. Dimana ia tak bisa menemukan siapa Ayah dari anaknya.


"Bu... Kok Hayu merasa aneh, ya," ujar Hayu. Membuat Ratna bingung.


"Aneh gimana?"


"Kok udah satu bulan lebih, Hayu gak ngerasa pengen apa-apa terus gak mual-mual?" tanya Hayu, yang mendeskripsikan tentang gejala-gejala Ibu hamil, apa lagi di bulan-bulan awal.


"Iya, juga ya! Kok bisa begitu," ungkap Ratna yang ikut bingung.


Pasalnya dirinya saat hamil mual-mual juga banyak mengidam. Hingga hal itu membuat Ratna makin merasakan ketidak hadiran Suaminya disamping dirinya.


Tapi, Syukurlah. Kau tidak merasakan mual dan ngidam. Karena itu hanya akan mengingat kan kamu Nak, tentang Suamimu,' batin Ratna menatap sendu Putrinya.


Tak menyangka nasibnya akan turun pada Putrinya. Namun, bedanya Putrinya masih mendapatkan nafkah dari Devan. Itu membuat Ratna yakin, Devan mencintai Hayu dan suatu saat akan kembali.


"Nanti kita ke Dokter, kita tanyakan," jelas Ratna. Hayu mengangguk.

__ADS_1


Hayu mengelus perut datarnya. Hatinya terasa hangat. Ia kembali meneteskan air matanya.


"Maaf, sayang. Bunda gak bisa minta Papa sentuh kamu," jelas Hayu, yang saat itu pernah melihat adegan sepasang Suami-istri.


Suaminya menyentuh dan mencium perut Istrinya.


"Sudahlah. Kita pasti bisa bersama-sama, ya...."


•••••••••••••••


"Bagaimana, Dok? Apa terjadi sesuatu dengan Putriku?" tanya Ratna cemas dan khawatir.


"Ibu tenang saja. Putri Ibu baik-baik saja, Kok. Hanya saja hal ini sangat langka untuk Ibu-ibu hamil di awal bulan. Seperti yang pernah saya pelajari. Semua perasaan mual dan ngidam Ibu, kemungkinan sudah dirasakan oleh Suami Ibu, gejala morning sickness."


Penjelasan Dokter membuat Hayu dan Ratna sama-sama terkejut.


"Jadi Suami saya yang merasakan semua itu, Dok?" tanya Hayu tak percaya, namun ia juga merasa senang.


Dengan begitu nantinya Devan akan tau ia sedang hamil. Dan, harapan Hayu agar lelaki itu cepat kembali.


......................

__ADS_1


5 Bulan Kemudian.


Perut Hah semakin membuncit namun tidak ada tanda-tanda Suaminya itu akan pulang. Membuat Hayu semakin hari semakin merasa kecewa. Namun, ia tak mau hal itu memengaruhi anaknya didalam sana.


Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam," jawaban Hayu, ia dengan tertatih membuka pintu.


Ceklek!


"Oh, Dokter Dafa. Ada apa, Dok?" tanya Hayu ramah.


"Begini, Kak. Saya mau memberikan susu ini untuk Kakak. Karena Ibu Ratna cerita mereka tidak bisa membeli susu Ibu hamil didesa. Jadi Ibu titip pada saya saat ke kota untuk membeli susu ini," jelas Dokter Dafa. Membuat mata Hayu terbelalak.


"Astaghfirullah, Ibu. Maaf ya, Dok. Jadi ngerepotin Dokter. Padahal Ibu saya bisa meminta tolong pada sahabat saya, Pian," jelas Hayu merasa tak enak.


"Enggak merepotkan kok. Lagipula, Ibu Ratna melakukan itu karena ia ingin Putrinya mendapatkan susu yang bagus kualitas dan terjamin kesehatannya. Karena itu beliau meminta saya yang sebagai Dokter untuk mencari susunya," jelas Dokter Dafa panjang.


"Ah, baiklah jika begitu, Dok. Terima kasih banyak, Dok," ucap Hayu.

__ADS_1


Dia nampak semakin berbeda dari saat pertama bertemu.'


__ADS_2