
"Tidak perlu!" Seseorang menatap dingin.
"Tapi, Dev---."
"Keluar!" hardiknya tajam. Akhirnya semua orang pergi dari ruangannya.
"Akh, sialan! Rasa sakit apa ini!" Devan lelaki itu merasakan sakit luar biasa diarea punggungnya, ia juga sesekali mual tanpa sebab.
Ia sudah cek, namun Dokter tidak dapat menemukan penyebabnya. Bahkan, ia ditanyai sudah menikah atau belum? Tentu saja belum, membuatnya kesal saja.
"Haaa... sampai kapan ini akan berlangsung," gumam Devan. "Kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang kurang," gumam Devan, mencoba berpikir.
Ia seperti pernah bermimpi sesuatu, tentang seorang gadis desa dengan senyuman manis dan mampu membuatnya jatuh cinta. Namun, Devan tidak tahu siapa itu. Bahkan di mimpinya, pernah ia melihat ada anak kecil ditengah-tengah mereka.
"Sebenarnya apa maksud mimpi itu?" tanya Devan pada angin lalu. Ia sangat penasaran dengan mimpi-mimpinya. Saat periksa di rumah sakit, mereka mengatakan Devan baru selesai operasi pemulihan ingatannya, dengan begitu ingatan Devan akan kembali di hari kecelakaan.
Hari setelah kecelakaan, atau hari Devan melupakan masa lalu, itu hilang musnah. Itu membuat Devan semakin curiga, seperti ada sesuatu yang ia lewatkan. Sesuatu yang sangat berharga. Sangat penting.
Diluar sana seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar Devan, ia langsung pergi menuju sebuah cafe.
"Arghh! padahal dia sudah kembali! bahkan ingatannya! Kenapa dia masih tidak bisa menyukaiku," ungkapnya kesal, ia memukul stir dengan sebal.
"Aku harus bisa mendapatkan Devan. Setidaknya membuat keluarganya menyukaiku dan akhirnya menikahkan kami, hahaha." Salsabila Geanean namanya, gadis yang di jodohkan keluarga Devan yang sekarang berstatus sebagai tunangan Devan.
Devan hanya mengikuti perkataan orang tuanya. Tanpa ada kejelasan atau keseriusan dalam hubungan itu. Devan tak sebodoh yang Salsa pikir, dia tahu Salsa hanya memanfaatkan dirinya untuk terkenal dan kaya raya.
"Aku harus menyusun rencana agar secepatnya kami menikah," gumamnya tersebut smirk.
__ADS_1
...----------------...
Atalion Company.
Devan berjalan dengan wajah datarnya, ia hanya mengangguk kecil saat para karyawannya menyapa dirinya.
"Apa-apaan laporan ini!" bentak Devan marah, pada sekretarisnya.
"Buat ulang!"
"Ba-baik, Pak!"
Beberapa hari ini, emosinya semakin tidak stabil ia lebih sering marah-marah dengan alasan sederhana. Ia merasa seperti seorang Ibu hamil saja.
"Ugh." Devan terdiam melotot, mencoba mencerna isi pikirannya.
Astaga! Yang benar saja, aku menginginkan... mangga muda?' batin Devan syok.
"Feri!" teriak Devan, memanggil asisten pribadinya.
"Ya, Bos."
"Emmm... anuh, ambilkan aku mangga muda di sebelum rumah," pinta Devan tidak tahu menahu. Bagaimana cara sekretarisnya mengambil mangga dari rumah sebelahnya.
Karena orangnya notebene galak dan pelit. Kita mengucapkan satu kata, maka ia akan mengucapkan dua puluh kata.
"Tuan... yang benar saja meminta mangga muda, Haji Sholeh?" tanya Asistennya sekaligus sahabat semasa SMA nya.
__ADS_1
"Tidak tahu menahu. Cepetlah! Aku sudah sangat menginginkannya. Jika kau tidak berhasil membawanya selama tiga puluh menit aku akan memotong gajimu," ujar Devan tanpa perasaan. Membuat Feri melotot tak percaya.
"Tega kamu, Boss."
Dengan berat hati, Feri mencari mangga muda di rumah haji Sholeh.
Ting! Tong!
"Ada apa?"
"Emmm... itu, anuh." Feri menggaruk-garuk cengkuknya yang tidak gatal.
"Apa!" delik Haji Sholeh gram.
"Mau minta mangga, Pak. Tolong, Kakak saya ngidam, Pak," kilah Feri, demi keselamatannya. Selamat dari Pak Haji Sholeh juga selamat dari Tuan Mudanya yang mengancamnya akan memotong gajinya.
Di depan sana, Pak Haji Sholeh nampak berpikir-pikir. Akhirnya, ia setuju karena merasa kasihan takut anak Kakak Feri ileran.
"Baiklah, hanya dua buah saja," ujar Pak Haji Sholeh. Membukakan pintu untuk Feri.
Feri memanjat dengan susah payah, dan akhirnya mendapatkan mangga sesuai permintaan sang Bos.
"Terima kasih, Pak Haji. Semoga Pak Haji selalu diberi kesehatan dan rezeki yang banyak," puji Feri, membuat Haji Sholeh tersanjung.
"Ya. Ya. Ya. Terima kasih doanya."
Feri kembali ke kantor dan menyerahlan mangga muda pada Devan. Lelaki itu langsung melahap mangga itu setelah dikupas dengan hati-hati.
__ADS_1
Hah? Tuan Muda sebenarnya kenapa? apakah dia hamil? Astaga... mana mungkin lelaki hamil!' batin Feri ngelatur.
Astaga kenapa rasanya lega dan enak setelah memakan ini.'