
Setelah mangga muda, ia dikejutkan lagi dengan sesuatu perbuatan gila lainnya. Tiba-tiba saat Devan sedang dalam perjalanan menuju kantor, ia ingin mengelus kepala botak seseorang yang baru saja ia lihat.
Astaga! Ujian apa lagi ini, Ya Allah. Sudah cukup dengan mangga muda kemarin! Kenapa harus kepala botak juga!' batin Devan menyerah.
Tetapi, semakin permintaannya tidak dituruti ia semakin mual. Devan merasa ia punya penyakit langkah, dimana penyakit ini hanya diderita perempuan hamil dan sekarang ia malah mengalaminya.
"Sialan!" umpat Devan.
"Putar balik ke taman tadi," ucap Devan sebabnya mimik wajah datar. Tanpa tahu mau taruh dimana wajah datarnya ia jika ia mengelus-elus kepala botak.
"Ada apa, Tuan?" tanya Feri, heran dengan Bos sekaligus temannya ini.
"Entah kenapa aku menginginkan kepala botak itu! aku... aku ingin mengelusnya Feri," ucap Devan dengan tertekan. Sungguh memalukan mengatakan hal semacam ini.
Yang tentunya membuat Feri tertawa terbahak-bahak. Sejujurnya ia belum pernah melihat Devan bertingkah memalukan seperti ini.
Plak!
"Jangan tertawa! cepat katakan alasan agar aku bisa memegang kepala botaknya itu," titah Devan seenaknya.
"What! situ yang butuh kenapa sini yang disuruh repot? Gak mau ah, bos," tolak Feri. Namun, mendapati tatapan bak elang milik Devan.
__ADS_1
Dengan terpaksa ia menuruti permintaan Devan.
"Ehem. Pa-Pak?" panggil Feri dengan kaki bergetar. Jujur demi apapun, tubuh yang kekar dan kepala botaknya itu semakin membuat pria itu menakutkan dipandang siapapun, begitupun Feri.
Teman laknutt, temen sendiri disuruh kek beginian lagi...'
What! bentar jangan bilang dia punya istri simpanan? terus hamil dia yang ngidam?' tanya Feri dalam hatinya. Ia jingkrak-jingkrak kesenangan tanpa sadar pria kekar didepannya menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Apa yang membuatmu lucu? Aku?" tanya pria itu dengan ekspresi marah.
"Ah! Tentu saja tidak, Tuan. Sa-saya ingin meminta izin untuk teman saya menyentuh kepala anda. Jika diperboleh. Karena istrinya sedang hamil dan ingin melihat Suaminya memegang kepala seseorang yang botak," jelas Feri panjang kali lebar kali pendek, membuat pria botak itu akhirnya mengangguk boleh.
Feri memberikan kode pada Devan agar mendekat karena misinya sudah berhasil. Devan yang mengerti akhirnya keluar dari mobil dan mengundang banyak perhatian warga sekitar juga pengunjung.
Feri mencoba menjauh karena ia ingin jahil dan memotret momen Devan saat ini, untuk kenang-kenangan dimasa depan. Juga mungkin, ada gunanya juga.
Devan mengulurkan tangannya perlahan dan menyentuh kepala licin pria itu. Tubuh Devan seakan-akan merasa lega setelah memegang kepala botak itu, ia tersenyum kecil lalu pergi.
"Terima kasih, Tuan," ucap Devan dan Feri serentak.
DI MOBIL.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau sangat mirip seperti seseorang yang sedang mengandung?" tanya Feri pada akhirnya, karena ia sudah tak sanggup lagi untuk menahan gejolak penasaran dalam dirinya.
Devan menghela nafas. "Kau bertanya dan aku juga tak mengerti jawabannya. Sudahlah, sebaiknya kau layani saja permintaanku yang pastinya akan nyeleneh untuk beberapa saat ini." Penjelasan Devan membuat Feri lemas. Ini saja ia tak sanggup. Apa lagi diminta untuk beberapa saat ini, yang pasti itu tak terhitung atau tertebak kapan tegang waktunya habis.
"Aku mau jika kau menaikkan gaji," pancing Feri, diangguki Devan dengan santai.
"Anjai. Sultan mah bebas," ledek Feri.
Devan hanya diam, namun tiba-tiba ada sesuatu yang ia inginkan lagi.
"Feri..." Feri menoleh dengan curiga melihat wajah Devan.
"Apa?" tanya Feri balik.
"Aku menginginkan sesuatu lagi," ujar Devan dengan raut wajah tak percaya. Sebab ia juga tak pernah melakukan hal ini ataupun sekedar melihat-lihat.
Deg! Deg!
Jantung Feri sudah berdetak kencang, berharap-harap agar tugasnya tak berlebihan. Karena tadi saja rasanya nyawanya sudah di ujung tanduk.
"Aku ingin bermain di pasar malam," ucap Devan tanpa dosa.
__ADS_1
Membuat Feri menganga tak percaya.
'Astaga! Kenapa keanehannya semakin hari semakin menjadi-jadi.....