
Hayu, Gio dan Pian masih tak percaya. Namun, mereka tak ingin lama-lama membuang waktu untuk menganggumi Gending ini. Mereka hanya butuh bertemu dengan pemiliknya.
"Sekarang yang perlu kita pikirkan adalah... bagaimana cara masuknya!" teriak Hayu putus asa. Ia melihat banyak sekali penjaga yang menjaga gedung itu, yang pastinya orang seperti mereka tidak akan mudah diterima masuk.
"Kau ini bagaimana sih, Yu! Devan, kan Suamimu jadi katakan sajalah! Jika Devan tau kau datang, setidaknya dia akan menyambut kita," jelas Pian. Yang tahunya Devan tak mencintai Hayu. Namun, Pian tahu Devan menghargai Hayu.
Tapi, entah kenapa firasatku mengatakan Devan memang benar-benar mencintai Hayu saat itu. Dengan pandangan matanya pada Hayu saat itu...'
"Benar juga! Kita harus mencobanya... tetapi aku malu, Pian! Bagaimana jika mereka tidak mendengarkan dan Devan ... tak mengenaliku?" tanya Hayu sebabnya kalimat ragu diakhirnya.
Pian tersenyum. "Apa salahnya jika kita mencoba!" Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk, walau dengan berat hati.
"Mama tenang saja! Kita sama-sama cari Papa," jelas Gio, menatap wajah Mamanya dengan senyuman hangat.
Hati Hayu menghangatkan ketika itu juga tiba-tiba ia mendapat semangat yang luar biasa membara. Demi Gio! Aku harus bisa, bukankah aku kesini demi Gio!' Hayu mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Baiklah, Ayo!"
Mereka mulai melangkahkan kaki menuju ke dalam gedung. Dan, benar saja. Belum sampai kakinya menginjak teras gedung mereka sudah dihadang beberapa orang berpakaian hitam.
"Berhenti!"
"Siapa kalian! Ada urusan apa mendatangi Perusahaan Atalion?!" Satpam itu bertanya sembari meninggikan suaranya. Membuat Hayu sedikit terhenyak, namun ia berusaha tenang. Disamping itu, Pian mencoba menjelaskan.
"Pak, mohon beri kami izin untuk bertemu dengan Devan," jelas Pian, namun para pria itu saling pandang, lalu memandang Hayu, Gio dan Pian dari atas hingga bawah.
"Ada perlu apa kalian dengan Bos, kami?" tanya mereka lagi dengan sinis.
Sepertinya mereka akan sulit diajak kerja sama. Bagaimana ini?' batin Hayu. Ia ingin menyerah dan pergi saja. Namun, ia tak tega melihat mata Gio yang terlihat begitu menginginkan bertemu Devan.
"Saya Istrinya, Pak! Saya ingin bertemu dengan Devan," ujar Hayu buka suara. Ia sudah tak sabar, ia merasa dapat merasakan Devan disekitarnya. Apa itu karena kekuatan cinta? Azekkk!
Cintrong emang membuat manusia crazy, alias /.
Tanpa diduga. Kedua pria itu tertawa terbahak-bahak, hingga membuat Hayu dan Pian bingung. Sedangkan Gio, bocah itu pokus pada handphonenya.
Meremehkan kami, hah! Tidak akan aku biarkan!'
Gio tak mau menampakkan wajahnya, jika mereka tau bagaimana dia. Pastinya akan ada keributan. Tapi, wajahku yang bisa menjadi bukti kuat agar mereka percaya.' Gio bingung, apa ia harus menampakkan wajahnya atau tidak. Karena sejak tadi, ia bersembunyi dibalik Hayu.
Jangan tanya seberapa mirip Gio dan Devan, bagai pinang dibelah dua. "Aku sebaiknya menggunakan masker. Aku tidak mau Papa, kembali bersama Mama hanya karena ada aku," gumam Gio. Ya, dipikirannya hanya kebahagian Hayu.
__ADS_1
Bukti bahwa Devan tidak kembali setelah bertahun-tahun membuat Gio ragu apakah Papanya mencintai Mamanya. Dan, ia terpikir bagaimana jika Papanya pada akhirnya akan berpura-pura menerima Hayu karena kehadiran dirinya.
Gio menarik ujung baju Hayu. Lalu berbisik. "Ma... Gio punya ide. Kita ke tempat sepi bentar," bisik Gio, lalu diangguki Hayu.
"Mangkanya jangan ngaku-ngaku kamu! Kalo kamu Istrinya saya Bapaknya!" teriak Pria itu dengan tertawa.
Hayu menahan rasa sakit hatinya. Apakah ini takdirnya? Apakah Devan sudah tidak menginginkan dirinya lagi setelah mengetahui indentitas aslinya adalah seorang pengusaha kaya raya?
"Jadi... Gio akan meretas sistem keamanan Perusahaannya dan mematikan semua CCTV, tapi... mungkin hanya bisa bertahan sepuluh menit," jelas Gio, membuat Hayu bingung.
"Meretas? Kamu benar-benar bisa melakukannya?" tanya Pian seolah masih tak percaya.
"Benar, Paman! Sudahlah, sekarang Mama gunakan Earphone ini dan masuk kedalam," ujar Gio yang memasangkan aerphone di telinga Hayu.
"Apa ini, Nak?" tanya Hayu, bingung.
"Tenang saja, Ma. Ini akan membuat Mama terhubung sama Gio dan Gio bisa tau posisi Mama dimana," jelas Gio. Penjelasan Gio masih belum bisa diterima untuk Hayu, namun ia mencoba untuk mengerti.
walaupun hatinya berdebar-debar. Apakah Devan akan mengenalinya?
Bismillah, semoga kamu gak mengecewakan aku, Mas.'
"Kita akan masuk lewat pintu belakang. Dan, itu kita bisa ambil pakaian itu untuk menyamar sebagai OB Perusahaan," ujar Gio, menjelaskan. Untunglah ada seseorang yang meletakkan pakaian di sebelah gedung.
Rencananya dimulai.
Hayu mulai memasuki pintu belakang, dengan arahan Gio. Ia sangat gugup takut ketahuan dan dicurigai.
"Sekarang Mama belok ke kanan," ujar Gio diseberang sana. Hayu sangat gugup saat orang-orang memerhatikan dirinya apakah ia sudah ketahuan? Tetapi, Hayu sudah mengenakan masker.
Baru ini aku melakukan hal yang begitu mendebarkan. Aku takut, tapi aku juga merindukanmu.'
Hayu terus merapalkan doa, sementara di ujung sana Gio berusaha mengarahkan Hayu untuk naik kedalam lift menuju lantai paling atas, yaitu lantai CEO.
"Gio! Bagaimana menggunakannya, Mama tidak berani," ungkap Hayu, yang ketakutan.
Ia melihat orang-orang berlalu lalang mengunakan lift, ia hanya berdiri melihat saja, membuat orang-orang semakin mencurigai dirinya. "Mama tekan tombol di samping pintunya, dan tunggu liftnya terbuka. Jangan panik atau akan membuat orang-orang mencurigai Mama," jelas Gio mencoba menenangkan Hayu sebaik mungkin.
Hayu mengembuskan nafasnya perlahan. Mulai menekan tombol dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Ting!
__ADS_1
"Masuk, Ma," ujar Gio.
Hayu dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk. Dan seketika pintu tertutup. "Tekan lantai 30," ujar Gio di sebrang sana. Hayu menekan tombol tiga puluh.
Lift bergerak naik membuat Hayu terduduk takut. "Akhhh!!" pekik Hayu takut. Ia merasa dirinya terombang-ambing. "Gi-Gio bagaimana ini? Kenapa kotak ini bergerak naik?" tanya Hayu memegang erat pegangan didalam lift.
"Tidak apa-apa, Ma. Tenanglah. Itu karena akan menuju lantai paling atas makanya bergerak ke atas," jelas Gio dengan sabar dan pengertian.
Deg! Deg! Deg!
Ting!
Pintu terbuka dan Hayu segera keluar dari pintu itu, dengan debaran jantung yang masih berdenyut. Untunglah Gio mematikan cctv di lift sementara atau orang-orang akan tau jika Mamanya menyamar.
Hayu di hadapi dengan dua orang pria yang menjaga lift. Hayu bingung harus apa. Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan ketahuan berbohong dan dimasukan kedalam penjara?' batin Hayu gugup, keningnya dipenuhi keringat.
"Ada keperluan apa?" tanya pengawal itu,dengan ekspresi datar. Hayu meneguk salivanya kasar.
"A-a... aaaa anuh. itu, saya---." Hayu terdiam.
"Mama! Langsung terobos saja jika bisa! Karena kita tidak akan mempunyai alasan untuk mereka. Mereka sangat teliti," jelas Gio disana. Membuat Hayu semakin takut.
Dengan takut-takut ia menerobos kedua pengawal itu mendorongnya hingga terjatuh.
Bruk!.
"Maaf! Maafkan saya!"
"Sebentar saja, saya hanya ingin bertemu dia!" teriak Hayu dari kejauhan.
Saat sudah sampai didepan pintu, ia kembali dihadang oleh sekretaris Devan. "Siapa anda! Ada keperluan apa!" Hayu langsung mendorong Sekretaris itu hingga terjatuh diatas kursi.
"Maafkan saya, Mbak! saya tidak bermaksud!"
Ceklek!
Deg!
Jantungnya seolah-olah berhenti berdetak saat matanya menatap Devan yang sedang berduaan dengan seorang wanita cantik.
"Kurang ajar! siapa kau!"
__ADS_1
"Berani-beraninya kamu masuk, hah!" teriak Gadis itu.
Hayu tanpa sadar menitikkan air matanya. Dan, berlari secepat kilat menubruk pria-pria besar itu.