Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 53 – Pertemuan Pertama Gio dan Devan!


__ADS_3

Benar saja sekarang Gio dan juga Pian sudah berada di depan gedung tinggi itu. "Emmm... Jadi rencanamu adalah berpura-pura menjadi Putra Devan?" tanya Pian dongkol. Karena jelas-jelas Gio adalah Putranya Devan, kenapa juga harus berpura-pura.


"Seperti kataku! Aku tidak ingin Papa tahu, kalau aku anak Mama Hayu! Aku mau mereka benar-benar saling mencintai dan bersama," jelas Gio, yang terlihat sangat dewasa.


"Baiklah. Aku akan menunggu disini. Aku harap kau baik-baik saja, atau Mamamu akan menghajarku habis-habisan jika kau terluka," jelas Pian merasa sedikit cemas bagaimana jika Gio diapa-apain didalam.


"Baiklah. Terima kasih, Paman."


Gio mulai masuk kedalam Perusahaan. Dia sudah berada di lobi. Semua orang menatap aneh Gio, yang notabene adalah anak kecil, dan selama ini tidak pernah ada anak kecil yang memasuki kantor.


"Siapa anak itu?"


"Wah, lihat! Dia terlihat mirip dengan Presdir Devan!"


"Benar! Dia mirip sekali!"


Satu Perusahaan menjadi heboh, membicarakan seorang bocah yang mirip sekali dengan Big Boss mereka. Bahkan, sampai ke telinga Manager sekaligus sahabatnya, Raga.


"Ada apa?" tanya Raga pada beberapa karyawan yang berkerumun.


Beberapa karyawan itu mendadak gugup, karena ketahuan berkumpul dijam kerja.


"Ah, Ma-manager Raga." Mereka nampak gugup, Raga hanya tersenyum yang membuat semua orang semakin gugup.


Karena ada arti dibalik senyum manis Raga. "Itu ada anak yang mirip de-dengan Presdir, Pak," jelas salah seorang dari mereka.


"Baiklah. Kembali kerja," titah Raga.


Sedangkan Gio, bocah itu sedang berhadapan dengan Resepsionis Perusahaan. "Kakak cantik... Aku mau ketemu Papa," ujar Gio bertingkah imut. Sejujurnya ia merasa jijik dengan dirinya sendiri saat ini, namun demi Mamanya, ia akan berjuang.


Resepsionis itupun terpesona dengan keimutan Gio. "Ah, gemasnya. Siapa Papamu, Nak?" tanya Resepsionis cantik itu.


"Papa Devan," jelas Gio, membuat Resepsionis itu melongo tak percaya.


Tapi ia kembali meneliti setiap bagian tubuh bocah dihadapannya, yang tidak ada alasan untuknya mengatakan tidak. Karena mereka benar-benar seperti pinang dibelah dua. "Ah, ba-baiklah Tuan Muda kecil," uajr Resepsionis sedikit takut karena sudah tidak sopan pada anak Bosnya.


Saat tangannya hendak memegang Gio dan mengantarkan bocah itu ke ruangan paling atas. Raga menghentikannya.


"Biar aku saja yang mengurusnya," jelas Raga.


"Baik, Manager Raga."


"Hei, bocah! Siapa kau?" tanya Raga tanpa basa-basi. Gio yang melihat itu terdiam.


Sepertinya dia dekat dengan Papa. Buktinya saja dia adalah Manager dan setelah aku mengatakan anak Papa dia masih tetap santai memanggilku bocah,' jelas Gio dalam hatinya.

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa! Cepat antarkan aku keruangan Devano Atalion!"


Raga tertegun sejenak. Ternyata bukan wajahnya saja yang mirip tapi kelakuan dan sifatnya juga sama,' batin Raga merasa tak percaya.


Tapi, bukankah dia bahkan tidak dekat dengan wanita,' batin Raga bingung.


"Oh, ayolah bocah. Aku bahkan tidak mengetahui kau siapa dan beraninya kau memerintahku?" tanya Raga memancing Gio lagi.


Gio memutar bola matanya malas. "Tidakkah Om melihat. Sembilan puluh sembilan persen aku mirip dengan Presdirmu? Jadi, pertemukan kami sekarang!"


Lagi-lagi Raga melongo heran. Sepertinya tidak salah lagi dia benar-benar Putra Devan! Si Sialan itu bahkan tidak cerita dia sudah memiliki anak? Tapi... Sepertinya anak ini berusia lima tahun dan...'


"Baiklah. Ayo ikuti aku," ajak Raga memegang tangan bocah itu namun langsung dihempaskan oleh Gio yang tak suka disentuh orang lain.


"Jangan menyentuhku, Om! Aku tidak suka," ujar Gio, membuat Raga benar-benar kesal setengah mati. Fiks, seratus persen gue percaya nih anak kecebong si Devan.'


Sama-sama menyebalkan!'


"Kau tunggu disini! Presdir sedang ada rapat, sebentar lagi mungkin selesai."


Gio mengangguk patuh, karena ia juga harus merangkai kata-kata untuk nanti. "Yes! Aku berhasil masuk! Sekarang aku harus menyusun rencana untuk membuat Pria itu sadar," gumam Gio.


Sedangkan di tempat yang sama di ruangan yang berbeda. Devan sedang memimpin rapat. Suasananya terlihat begitu menegangkan bahkan Devan sempat mengebrak mejanya karena memang dirinya dalam suasana hati yang buruk.


"Apa!" Devan menatap horor Raga.


Dalam hati mereka, senang dengan kedatangan Raga. Setidaknya memperlambat kemarahan Devan.


Raga membisikkan sesuatu pada Devan, dan membuat pria itu terkejut. "Rapat hari ini cukup sampai disini. Jangan lupa Minggu depan bawa laporan yang sudah direvisi," ujar Devan dengan tatapan tajam.


"Ba-baik, Presdir!"


*


*


*


"Kau yakin?" tanya Devan, diperjalanan menuju ruangan pribadinya.


"Jika tidak? Aku tak mungkin menghentikan rapatmu yang menegangkan itu," ujar Raga cengo.


Devan mempercepat langkah kakinya, terkesan buru-buru. Sebenarnya siapa? Kenapa bisa mirip denganku?' batin Devan heran.


Ceklek!

__ADS_1


Devan menatap seorang bocah yang duduk membelakangi dirinya. Entah kenapa ia menjadi berdebar-debar menatap wajah anak itu, apakah benar seperti yang dikatakan sahabatnya.


Gio berbalik, menatap Devan. Membuat Devan terdiam dengan ekspresi tak percaya.


Sudah aku duga. Ekspresi Papa akan seperti ini. Sekarang aku hanya butuh ruang untuk berbicara berdua saja dengannya,' jelas Gio dalam hatinya.


"Si-siapa kau? Ke-kenapa kau---?"


"Mirip dengan, Om?" Potong Gio yang membuat Devan terkejut. Entah kenapa Devan menjadi mati kutu, ia mengangguk mengiyakan ucapan Gio.


Membuat Raga tak bisa percaya. "Aku butuh kita berdua berbicara!"


Devan langsung memberi isyarat untuk Raga pergi dari ruangannya. Setelah Raga pergi Gio mulai berbicara.


"Aku Dev," ujar Gio menyamarkan namanya. Ia tak ingin Papanya mencari informasi tentang dirinya. Jadi, sebelum datang ia sudah mempersiapkan semuanya.


"Aku hanya ingin bertanya apa kau mengingat Mamaku?" tanya Dev, alias Gio.


"Dev... Maaf, tapi aku tak mengenali siapa Mamamu. Tapi, apakah boleh tau siapa nama Mamamu?" tanya Devan, merasa aneh menyebut namanya sendiri.


Kenapa namapun bisa mirip seperti ini,' batin Devan heran.


Gio kesal. "Terus apakah kau ingin pernah menikah atau memiliki seorang anak?" tanya Gio lagi dengan cemas.


Devan menghela nafas dengan wajah tertunduk. "Maaf, aku tidak mengingat apapun. Ak---aku sempat kehilangan sebagian ingatan masa laluku," jelas Devan membuat Gio tersenyum senang.


Berarti Papa bukannya ingin melupakan Mama. Tetapi... Papa memang melupakan Mama karena amnesia,' batin Gio lega. Ternyata tebakan dan firasatnya tidaklah salah.


"Aku akan kembali karena kau tidak mengingatku," ujar Gio pada akhirnya membuat Devan menunduk sedih.


Entah kenapa hatinya sangat sedih mendengar itu.


"Kenapa? Kenapa kau tak bawa saja Mamamu bersamamu. Jika kau memang Putraku aku tidak mungkin menelantarkanmu," ujar Devan.


"Aku tidak akan kembali padamu! Jika, Om saja tidak mengingat aku dan Mamaku!"


"Tapi... Aku akan membawa Mamaku untuk bekerja disini. Jadi, aku ingin Om berusaha untuk mengingat Mamaku," ujar Gio, membuat satu harapan untuk Devan.


"Dengan syarat!"


"Apa itu, Nak?" tanya Devan antusias.


"Jangan mencari informasi apapun tentangku dan Mamaku! Jika aku tau kau mencari informasi tentang kami! Aku tidak akan mengampunimu dan akan membawa Mamaku pergi jauh," ujar Gio dengan tajam.


Membuat Devan heran. Bisa-bisanya anaknya memiliki pemikiran seperti itu. Dia memang Putraku! Aku yakin!' batin Devan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2