
Maaf lagi, semuanya... Aku baru sempet up, karena sibuk latihan drama puisi buat Hari PAHLAWAN!
Makasih ya, buat yang udah nungguin, aku bener-bener terharu. Aku pikir gak bakalan ada yang mau nungguin Novel aku walaupun seminggu gak up! Ternyata masih ada dan itu jadi bikin aku semangat buat nulis, makasih atas dukungan kalian semua para pembaca setiakuβ₯π
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Hayu menatap Devan, harusnya ia menjawab apa makanan kesukaan Devan. "Baiklah, kau tunggu disini," ujar Hayu, ia langsung pergi meninggalkan Devan begitu saja.
Ia membuka tasnya, dan mengambil bekalnya. Yaps, karena merindukan Devan ia sengaja membawa bekal dengan isi beberapa makanan yang Devan sukai saat dirinya memasak dulu. Hayu membawa makanan sederhana, sayur kangkung, labu siam dan ikan goreng dengan kunyit.
Devan hanya memerhatikan gerak-gerik Hayu, yang sedari tadi sibuk menatap meja makan. "Makanlah ini, mungkin... kau akan mengingat sesuatu. Dan, makananmu yang mahal ini untukku," ujar Hayu tersenyum manis, jujur ia juga ingin mencicipi makanan mahal.
Toh, uang Suaminya juga. Jadi halal dong buat dia makan.
Wanita ini benar-benar unik,' batin Devan tersenyum miring.
__ADS_1
"Ayo, kenapa masih duduk disana? Cepetan, entar dingin enggak enak. Mumpung udah aku angetin di mic---" Hayu terdiam dengan malu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Devan yang mengetahui bahwa wanita itu bingung, akhirnya meledeknya. "Microwave! Begitu saja kau tidak tau, bagaimana bisa menjadi seorang Istri," ledek Devan, melangkah menuju meja yang sudah di siapkan Hayu.
"Ish... aku beneran jadi Istri yang baik kok. Buktinya Suami aku selalu puas sama pelayan aku," ujar Hayu membanggakan dirinya, mengingat Devan selalu memuji masakannya.
Devan terdiam. Ternyata lelaki itu menangkap omongan Hayu dengan maksud lain. Apa aku benar-benar menikmati itu... bersama dia? Ya-yang benar saja?' batin Devan.
Pikirannya sudah melayang kemana-mana membayangkan malam panas bersama Hayu, seketika membuatnya bergendik ngeri.
Jleb!
Rasanya menusuk ke hatinya, tembus ke jantungnya. Rasanya Devan terpergok melakukan hal yang tidak senonoh. "Sem-sembarang! Jangan mikir aneh-aneh, sudah makan saja makanan mahalmu, sayang jika dingin!" Devan seketika mengalihkan pembicaraan.
Ia memalingkan wajahnya, yang ternyata sudah merona akibat malu. "Bodoh! stupid! Kenapa aku harus memikirkan hal itu pada seorang gadis polos," gumam Devan, meremas pelan rambutnya.
__ADS_1
Devan mulai memasukan satu suarakan nasi ke dalam mulutnya. Ia terdiam! Lama hingga suasana hening! Hayu juga ikutan bingung, apa masakannya tidak enak? atau mungkin... Devan mengingat sesuatu?
Astaga... kenapa masakan sangat enak! Aku ... seperti pernah merasakannya tapi dimana?' Devan terus berusaha berpikir keras, hingga sakit kepalanya kembali timbul.
"Akh!" teriak Devan menggenggam kepalanya. Ia meletakkan makanannya dengan perlahan, karena ia tak mau kehilangan makanan itu karena menyukainya.
"Ha---hah? ada apa!" teriak Hayu panik. Ia memegang lengan Devan.
"Arghh! sakit!" seru Devan, memegang kepalanya. Biasanya ia tak suka jika ada orang yang melihat sisi lemahnya saat ini, tapi berbeda kali ini. Entah kenapa ia merasa nyaman saat Hayu memegangnya dan mencoba menenangkan dirinya.
"Tenanglah, Mas! Tarik nafas perlahan! hiks... Ak-Aku janji tidak akan memaksamu untuk mengingat aku! tapi, kumohon aku tidak sanggup melihatmu seperti ini... hiks." Hayu menangis sembari memeluk erat Devan yang saat ini terdiam menyaksikan semua kegiatan Hayu.
Aku cemburu dengan Suaminya yang sesungguhnya... Memiliki Istri yang sebaik ini, kita memang mirip tetapi sepertinya kita tak memiliki nasib yang sama,' batin Devan.
Lelaki ini masih mencoba menyangkal, bahwa bukan dirinyalah Suami, Hayu. Melainkan, lelaki lain yang memiliki rupa yang mirip dengannya sehingga Hayu salah mengenali orang. Bagaimanapun, keluarganya pasti tidak akan setuju dirinya menikahi gadis miskin dan kampungan seperti Hayu. Karena itulah kenyataannya, tetapi...
__ADS_1
Jika aku memang mencintainya, restu Mama maupun Papa tak penting,' batin Devan.