Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 36 – Hamil?!!!


__ADS_3

"Haaa..."


"Hampa banget rasanya. Kenapa pinggangku sering sakit?" tanya Hayu pada angin lalu. Ia juga merasa nafsu makannya kembali.


Tapi, anehnya. Nafsu makanannya datang berkali-kali lipat dari biasanya.


"Bu. Ikannya untuk Hayu, ya?" tanya Hayu. Dengan wajah memelas.


Ratna terkekeh. "Ya. Ambilah," balasnya.


Hayu tersenyum bahagia dan memakan ikan itu dengan lahap. Ratna menatap Hayu yang mulai melupakan Devan, yang mulai menerima keadaan namun ia merasa ada yang janggal. Seperti ia juga pernah mengalami hal semacam ini.


'Tapi, kapan hal itu terjadi?' batin Ratna, memutar isi pikirannya. Ia akhirnya terhenti di suatu adegan, dimana hal itu sangat mirip dengan kondisi putrinya.


Apa lagi, sudah hampir satu bulan Devan pergi, dan Hayu tidak mengalami menstruasi.


"Hayu! Ikut Ibu ke klinik, ya," pinta Ratna dengan cemas dan bahagia.


Hayu cengo ."Hah? Ke klinik? Ngapain, Bu siapa yang sakit?" tanya Hayu yang memang tidak mengerti apa-apa.


"Sudah! Jangan banyak tanya. Kita ke klinik saja setelah itu kamu pasti tau, kok," jelas Ratna. Ia lalu menarik Hayu yang sedang makan untuk ganti pakaian.


"Ihhh... Pelan-pelan, Bu. Hayu capek nih. Pinggang Hayu sakit," rengek Hayu, semakin membuat Ratna yakin.


Ia bukannya memperlambat gerakannya, ia malah mempercepat kakinya melangkah.


"Astaghfirullah, Ibu! Hayu gak kuat!" teriak Hayu, yang merasakan sakit luar biasa di bagian punggungnya. Sungguh! Ini menyiksanya.


Ratna yang merasa kasihan akhirnya menghentikan langkahnya yang sedikit lagi mencapai klinik. "Astaga. Maafkan Ibu, Nak. Karena terlalu bersemangat jadi tidak melihatmu kesakitan," jelas Ratna, lalu mengurut kaki Hayu dan pinggang Hayu perlahan.


Mendapatkan perhatian seperti itu, Hayu merasa sangat sedih. Ia menginginkan Devan yang memperlakukan dirinya seperti itu. Ia juga merasa bersalah telah membuat Ibunya secara tidak langsung bersujud memegang kakinya.


"Sudah, Bu! Gak papa, jangan seperti itu,hiks ... hiks," rengek Hayu, ia menangis segukan.


"Astaghfirullah, kenapa kamu nangis toh, Yu?" tanya Ratna, mengelap air matanya.


"Udah! Udah! Ayo masuk pelan-pelan," ajak Ratna, lalu ia menduduki Hayu didepan klinik.


"Hiks... Hik... Hiks... Hik." Hayu berusaha menahan tangisnya karena malu, di klinik banyak orang.


"Malu, kan?" tanya Ratna sembari terkekeh.


"Entahlah, Bu. En-entah kenapa emosi Hayu gak terkontrol, beberapa Minggu ini," jelas Hayu dengan wajah risau. Apa karena ia terlalu larut dalam kesedihan meratapi kepergian Devan?


"Hiii. Liat tuh si Hayu. Kasihan banget ditinggal Suaminya," ujar Ibu-ibu, tanpa perasaan.

__ADS_1


"Bener. Mana Suaminya gak cinta lagi sama dia? Sakit banget pasti rasanya," jawab Ibu-ibu lainnya.


"Saya sih tidak heran. Mereka selalu membuat masalah di Desa. Sedikit-sedikit pasti tentang keluarga mereka. Rasanya desa tidak aman jika ada mereka," cetus Ibu-ibu lainnya.


Ratna dan Hayu hanya diam. Karena perkataan mereka memang benar adanya. Beberapa bulan ini, nama mereka selalu terpampang di setiap masalah. Mulai dari kedatangan Devan yang dikira zina, penculikan, keributan dan terakhir kepergian Devan yang mendadak heboh. Jika di katakan di kota adalah viral.


"Astaghfirullah. Ibu-ibu kalo mau ngerumpi jangan disini! Noh dipasar! Ini ruangan kesehatan," tegur seorang dokter muda. Dokter yang sangat tampan. Katanya adalah dokter yang dikirim untuk membantu di daerah desa terpencil.


Ibu-ibu itu langsung pergi begitu saja. Ratna berinisiatif berterima kasih.


"Terima kasih, Nak," ucap Ratna, tersenyum. Sedangkan, Hayu hanya diam memikirkan dirinya yang begitu malang.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula mereka yang tidak sopan," jelas Pemuda itu dengan tersenyum ramah.


"Oh, ya. Ibu dan Kakak ini mau berobat bukan?" tanya Dokter.


"Ah iya, Dok. Saya mau periksa anak saya," jawab Ratna dengan senang.


"Baiklah ayo masuk, Bu."


"Ayo, Yu," ajak Ratna, namun Hayu enggan bergerak. Hatinya sudah kepalang panas mendengar banyak tentang dirinya.


"Hei! Cepet Hayu, gak enak sama Dokter!" Ratna menarik Hayu dengan sekuat tenaga, dan akhirnya Hayu mau walau dengan wajah cemberut.


Saat didalam, Hayu sudah duduk dibansal. Sedangkan Ratna, Ibu satu anak itu mendekati Dokter dan membisikkan sesuatu.


"Emmm, Dok. Boleh saya bicara," ujar Ratna sedikit bisik-bisik. Membuat Dokter tampan itu bingung, namun tetap menuruti Ratna.


"Ya, Bu. Boleh," jawab Dokter mendekati telinganya.


"Dokter bisa periksa anak saya hamil atau tidak. Kami tidak periksa kesehatan tapi periksa kehamilan," jelas Ratna, membuat lelaki itu mengangguk dengan senyum kecut.


Oh, ternyata dia sudah memiliki Suami,' batin Dokter.


"Ah, sepertinya bisa, Bu. Kita coba dulu ya," ujar Dokter.


"Siap, Dok. Ngomong-ngomong nama Dokter siapa, Dok?" tanya Ratna penasaran.


"Dafa, Bu. Panggil saja Dafa," jawab Dokter tersenyum lembut. Ratna hanya mengangguk.


Ish... Apa sih yang Ibu bisik-bisikan sama Dokter itu. Gak tau apa aku udah males disini,' ujar Hayu dalam hatinya, dengan wajah cemberut.


"Baiklah, kita periksa ya, Kak. Tolong buka sedikit perutnya," pinta Dokter Dafa, membuat Hayu melotot tak percaya.


"Enak aja! Gak mau! Kamu mau cabul ya!" teriak Hayu dengan wajah garang. Membuat Dafa dan Ratna terkejut.

__ADS_1


Ratna menjewer kuping Hayu."Kamu jangan bicara aneh-aneh, ya! Dia itu Dokter, gak mungkin berbuat macam-macam," ujar Ratna, dengan senyum canggung.


"Maaf, Dokter Dafa," ungkap Ratna.


"Tidak apa-apa, Bu. Lagipula Kakaknya tidak tahu," jelas Dafa.


"Bukanya sedikit aja, Kak. Untuk diperiksa," ujar Dafa, akhirnya dengan malas Hayu membuka sedikit pakaiannya.


Dokter Dafa mulai memeriksa tubuh Hayu.


"Apa pola makannya meningkat, Bu?" tanya Dafa pada Ratna.


"Benar, Dok. Dia sudah seperti kerbau yang hanya tau makan saja," ungkap Ratna, membuat Hayu melotot.


"Ih, Ibu mah anak sendiri dibilangin kerbau," rengek Hayu tak terima.


"Emang mirip, udah sana diam aja." Hayu hanya bisa mencebik kesal.


"Itu sejak kapan, Bu?" tanya Dokter lagi. Ratna mulai berpikir. "Sekitar tiga Minggu lalu, Dok," jawab Ratna.


"Selamat, Bu. Putri anda telah mengandung selama tiga Minggu," jelas Dokter Dafa tersenyum.


Deg!


Sedangkan, Hayu? Jangan ditanya betapa terkejutnya dia mendengar kata hamil.


"Ha-hamil? Sa-saya Dok?" tanya Hayu tak percaya. Dokter Dafa mengangguk.


"Alhamdulillah, Ya Allah," syukur Ratna, ia bersujud. Sedangkan, Hayu masih bingung.


Sekarang apa yang harus aku lakukan, Mas. Aku hamil... Anak kamu. Kamu dimana?' batin Hayu, tanpa sadar mengeluarkan air mata.


"Sudah... Sudah jangan menangis." Ratna menenangkan Hayu.


"Terima kasih banyak, Dokter. Kami pamit pulang dulu," jelas Ratna.


Mereka akhirnya pulang kerumah. Hayu hanya memandang perut kecilnya sepanjang jalan.


Benarkah ada kehidupan di dalam sini? Kamu anakku?' batin Hayu, merasa tak yakin.


"Bagaimana ini, Bu? Ak---Aku belum siap," ungkap Hayu. Apa lagi dengan tanpa adanya Devan disisinya. Bagaimana ia akan merawat anak mereka sendirian.


Ratna yang tahu kecemasan Hayu akhirnya menenangkan Putrinya.


"Sayang... Ada Ibu disini, kamu gak sendirian. Kita hanya perlu berdoa supaya dia sehat sampai lahir, Nak," jelas Ratna.

__ADS_1


__ADS_2