Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 50 – Perjalan Menuju Kota!


__ADS_3

Hayu tersenyum senang. Sesaat setelah ia menyampaikan maksudnya pada Pian. Lelaki itu menerimanya dengan senang hati, karena baginya Hayu, Gio dan Devan merupakan keluarganya, jadi suatu keharusan membantu keluarganya sendiri.


Walau telah memiliki satu anak, Hayu masih bertingkah seperti anak kecil. Memeluk Pian dengan gembira, membuat Pian geleng-geleng kepala.


"Sudahlah! Aku tidak kuat menggendongmu!" Hayu menurunkan tubuhnya.


"Ih, emangnya aku berat apa," cetus Hayu kesal. Pian tertawa. Mereka sudah bersiap-siap, begitu juga dengan Gio yang membawa berbagai macam pakaian juga laptop hackernya. Tak lupa, Gio menyarankan seseorang teman Pian agar ikut mengantar mereka sekalian mencairkan uang di bank.


"Ajak satu teman Paman yang dapat dipercaya. Gio mau titip uang buat Nenek," jelas Gio, membuat Pian melongo tak percaya. Rasanya ada yang berbeda dari bocah di depannya.


Hayu yang melihat wajah bingung Pian, akhirnya menjelaskan. "Jadi, Gio sudah bekerja sebagai Hacker......"


"APA?"


Pian nampak syok. Astaghfirullah, bagaimana bisa anak berumur empat setelah tahun memiliki pekerja yang penghasilannya bahkan lebih besar dariku!' Pian merasa tertampar kenyataan.


"Ibu... Hayu pamit, ya..." Hayu menatap dalam wajah Ibunya, ia meneteskan air matanya. Rasanya berat meninggalkan Ratna sendirian di rumah. Apa lagi, mereka tak pernah terpisah selama puluhan tahun lamanya.


Greb!

__ADS_1


Hayu memeluk Ratna erat menyalurkan rasa sedihnya. "Maafin, Hayu. Hayu janji bakalan cepat-cepat pulang setelah menemui Devan dan mendengar penjelasannya," jelas Hayu, mencoba memberikan semangat.


"Iya. Ibu mengerti pergilah, Nak." Saat ini, Ratna mencoba untuk tegar agar tak menambah beban pikiran Hayu saat di kota nantinya.


"Nenek!" Kini giliran Gio memeluk Ratna.


"Hei! lelaki tidak boleh menangis, malu sama anak perempuan," jelas Ratna sembari terkekeh, karena melihat raut wajah Gio yang menggemaskan.


"Ummm... Nenek jaga diri ya, disini. Gio pergi sebentar," ucap Gio, memberikan kecupan singkat di pipi Ratna.


Setelah perpisahan mengharukan itu, mereka sekarang sudah berada di mobil. Mobil bak terbuka. Hayu merasakan hembusan angin pagi, terasa begitu menyegarkan. Ia sedikit ragu dengan jalan yang telah diambilnya. Apakah ini keputusan yang benar? Apa Devan akan mengakui dirinya didepan keluarganya yang kaya raya?


Kuharap kau mengenaliku, Mas... Bahkan setelah lima tahun berlalu,' batin Hayu.


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan. Hayu tiba di pinggiran kota. Disana terlihat ramai penduduk. Senyum Hayu mengembang, merasa senang bisa menginjakkan kakinya untuk pertama kali ke kota.


"Ma, disini ramai," ucap Gio yang juga kagum.


"Ini pasar tempat kami sering menjual sayuran dari tempat Pak Rito," jelas Pian disela-sela. Hayu dan Gio ber'oh' riah.

__ADS_1


Mereka berhenti disebuah bank, di kota. Lalu, Gio dibantu dengan Pian mengambil uang di bank. Gio memutuskan untuk mengambil semua uangnya. Untuk keperluan Neneknya juga untuk keperluan mereka selama di Jakarta.


Mendengar hal itu, Hayu merasa tak berguna menjadi seorang Ibu. Yang mengandalkan uang anaknya, yang masih dibawah umur bahkan anak-anak seusia Gio saat ini sedang berusaha menghapal abjad tetapi Gio sudah melebihi kemampuan anak kuliahan.


"Maaf, Nak," lirih Hayu, setelah Gio kembali duduk di mobil. Gio yang melihat itu, tersenyum manis. "Mama jangan merasa tidak berguna! Mama adalah Mama terbaik di dunia. Misi Gio adalah membahagiakan Mama dan menjadi pelindung Mama! Jadi, Gio mau Mama bahagia, bukan sedih," pinta Gio, tangannya mengusap lembut pipi Hayu membuat Wanita itu menangis.


"Hei! Hei! Bukankah, kita akan menemui Papamu! Jadi, jangan bersedih bergembiralah," ujar Pian mencoba menghibur. Mereka akhirnya bersenang-senang.


Semoga Papa tidak mengecewakan Gio.'


Sementara itu, orang kepercayaan Pian sudah pulang atas permintaan Gio untuk mengantar uang kepada Ratna.


...****************...


Perusahaan Atelion.


Gio, Hayu dan Pian berada dibawah Perusahaan besar itu. Gedung yang menjulang tinggi. "Be-benarkah ini milik Papamu, Gio?" tanya Hayu seolah-olah tak percaya. Gio mengangguk pasti.


"Hahaha... Tidak mungkin! Sebesar ini! sekaya apa Papamu jika gedungnya saja sebesar ini! Ini bahkan hampir menyentuh awan!" teriak Hayu tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2