
Hayu merasa segar setelah ia mandi. Tubuhnya memang masih lemas dan mual-mual, wajar jika ia masuk angin jika duduk di teras selama dua jam lebih.
"Sebaiknya aku beres-beres sedikit, kasihan Ibu sama Mas Devan," gumam Hayu, ia lalu bergerak menyapu sebagian isi rumahnya.
Menurutnya jika sakit jangan di manja-manja jika dimanja maka tidak akan sembuh. Lebih baik bergerak dan mencari aktivitas walau hal kecil sekalipun. Merasa keringatnya sudah bercucuran dan nafasnya yang tersengal-sengal.
Hayu menghentikan aktivitasnya sejenak, dan ia menatap pohon-pohon didepan rumahnya. Lagi-lagi ia kepikiran dengan ulah Johan, yang sewaktu-waktu pasti akan datang dan mengambil ahli tanahnya.
Bagaimana caranya kami bisa membayar uang tanah ini?' batin Hayu, menatap rumahnya dengan sendu.
"Ayah...."
"Sebenarnya Ayah dimana sih? Hayu mohon... jika Ayah datang sekarang dengan alasan yang jelas. Hayu pastikan... Hayu memaafkan Ayah," monolog Hayu, menangis.
Dadanya sakit setiap kali memikirkan tentang Sang ayah. Yang sampai saat inipun ia belum pernah melihat wujudnya seperti apa, rupanya bagaimana. Ibu selalu melarangnya karena alasan Ayahnya meninggalkan mereka karena wanita lain.
Jadi, Ratna tak mau membahasnya apa lagi memberitahu Hayu siapa Ayah kandungnya. Karena Hayu kasihan dan penurut, ia menuruti semua perkataan dan permintaan Ratna, karena tidak menginginkan hati kecil sang Ibunda terluka lagi.
Kami butuh, Ayah! Hayu butuh Ayah! Ayah dimana!' Hayu menangis tersedu-sedu, memeluk sapu lidi.
Perkarangan rumahnya memang sepi jadi wajar, tak ada yang melihat. Semua orang di jam segini sibuk dengan urusan dan pekerjaan masing-masing.
"Sudahlah. Untuk apa berharap pada hal yang tak nyata!" Hayu menghapus air matanya dengan kasar. Baginya mengharapkan hadirnya sang Ayah hanyalah angan-angannya saja. Ayahnya sudah menyakiti Ibunya dan sekarang ia dengan egois menginginkan Ayahnya kembali kesini.
"Aku harus bekerja juga. Untuk menabung lagi, agar bisa membayar uang tanah ini," gumam Hayu. Mengingat jika tabungannya sudah habis untuk membiayai pengobatan Devan dan beberapa hal lainnya.
Mungkin! Mungkin jika ada, ia hanya mempunyai sisa tabungan sekitar empat juta rupiah. Itupun masih tidak cukup.
"Akh... Dasar Johan gila! jika bukan karena dia, pasti tanah ini memang untuk kami," gumam Hayu. Memang terlihat menghak. Tapi, jelas-jelas Nenek Sari memberikan tanah ini untuk mereka yang sudah selalu ada disaat-saat Nek Sari butuh, bahkan diakhir hayatnya.
Dimana keluarga Johan? Mereka selalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing hingga membuat Nenek Sari kesepian juga tak terurus. Namun, sejak adanya Ratna. Ratna selalu mencurahkan kasih sayangnya untuk Nenek Sari, karena ia hanya sendirian didesa dan ia dulunya merawat Nenek di panti jompo.
__ADS_1
Baginya bukan hal sulit merawat Nenek di usia lanjut. Dimana pastinya mereka hanya butuh perhatian lebih dari anak-anak, cucu-cucu mereka karena selalu berpikiran umur mereka pastinya tidak akan lama lagi, untuk melihat anak-anak serta cucu-cucu mereka.
"Hayu!!!"
Hayu terperanjat kaget, ia menoleh dengan garang dan mendapati Johan yang berjalan dengan gaya soknya.
Gawat!! Dia pasti mau cari masalah lagi, mana Mas Devan gak ada lagi...' Hayu hanya dapat diam.
"Kamu berani-beraninya mengadu pada Suamimu yang sok kegantengan itu, hah!?" Johan melotot tajam, seraya membusungkan dadanya angkuh.
Hayu memutar bola matanya malas. "Terus kenapa? Suamiku memang tampan dan ganteng! Kamu mempermasalahkan apa sebenarnya, hah!" Hayu ikut melotot tajam, melipat kedua tangannya di dada.
"Sialan kamu! Dibandingkan dia aku jauh lebih ganteng dari lelaki miskin itu," caci Johan membanggakan dirinya. Membuat Hayu tertawa.
"Haha. Apa? Kau dengan Suamiku, jangan bercanda, Jo! Jelas Suamiku 100 kali lipat lebih tampan daripada kamu! Kamu hanya mengandalkan uang orang tua saja bangga, hah?" tanya Hayu, membuat Johan memerah marah, ia mengepalkan tangannya.
"Kau mau aku usir, hah!" bentak Johan. Tak membuat Hayu takut, namun hatinya risau jika terus-menerus menentang Johan pastinya akan berimbas dengan tanah ini. Orang tempramental tanpa otak hanya akan berbuat sesuka hatinya saja.
"Oh ya! Siapa yang mengatakan anakku tidak berhak!" Suara cempreng yang paling Hayu benci sejak dulu itu, tiba-tiba saja muncul. Membuat nyalinya seakan-akan mulai menciut.
"Mam!?"
"Tante Zara?"
Dengan gaya sombongnya Zara berjalan mendekati Hayu dengan tatapan meremehkan. "Modelan kaya kamu bilang Anak kesayanganku tidak berhak? Haha... yang benar saja dasar miskin," maki Zara membuat Hayu kesal. Namun itu tak dapat menyelesaikan masalah.
"Kau tau jelas bahwa tanah ini milik Ibuku! Kau mengatakan anakku tak berhak? Sedangkan kau siapa Ibuku? anak? bukan! Cucu? Juga bukan! Putrakulah yang lebih berhak darimu!" teriak Zara menoyor kepala Hayu.
Membuat hati gadis kecil itu tersakiti.
"Tante kenapa sih? selalu benci sama keluarga Hayu! kami salah apa, Tan!" teriak Hayu tak terima, dengan tangis yang mulai pecah.
__ADS_1
"Salah kau tanya!" bentak Zara.
"Haha! salah kau dan Ibumu itu banyak!" teriak Zara lagi.
"Gara-gara dia! Ibuku meninggalkan warisan pada Ibumu itu, pada Pak Kades! Kau dan Ibumu itu sama saja, hanya ingin menguras harta kekayaan orang lain. Dasar tidak tahu diri," hina Zara, membuat Hayu tak tahan.
"Jaga ya omongan, Tante! Kami bahkan tidak tahu itu semua! Kalo Tante menginginkan sesuatu berjuang. Jangankan berjuang sekedar menyiapkan makan siang dan malam Nenek saja, Tante tidak bisa!"
"Dimana Tante dan anak kesayang Tante disaat detik-detik terakhir Nenek? Dimana! Kalian bahkan tidak peduli dan sekarang!" teriak Hayu tak habis pikir, kesabaran sudah habis.
"Kalian sibuk dengan urusan kaki sendiri!"
Hayu terisak menceritakan semua itu, bagaimana sulitnya kehidupan Nek Sari. Bagaimana Nenek Sari berjuang sendiri untuk tetap hidup diusianya yang sudsh tidak lagi muda. Hatinya sakit, Hayu menginginkan seorang Nenek namun ia tak mempunyainya makanya ia menganggap Nenek Sari adalah Neneknya sendiri.
Plak!
Zara menampar pipi kanan Hayu. Namun, gadis itu tak berkedip. malah dengan berani menatap Zara.
"Kurang ajar ya kamu! Tau darimana kamu dasar anak kecil, sok tau kamu!" teriak Zara penuh kebencian.
Kebencian yang selama ini ia pendam pada Ratna juga Hayu. Yang ia pikir sudah merebut harta kekayaan mereka.
"Kamu pikir saya kerja untuk siapa!"
"Untuk diri Tante sediri, kan?" tanya Hayu balik, tanpa takut.
"Kurang aja---"
Hayu dengan cepat menahan tangan Zara dan menatapnya tajam setajam silet.
"Jangan Tante pikir saya akan diam saja setelah mendapatkan tampar satu kali!"
__ADS_1
Plak!