Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 25 – Kamu Jahat!


__ADS_3

Hari-hari mereka terasa damai sejak saat itu. Tidak ada lagi pertengkaran dan perselisihan. Luna dan Keluarganya merasa malu dan hanya berdiam dirumah. Tapi, mereka masih tetap menyimpan dendam yang amat dalam, hingga mereka memikirkan suatu rencana untuk membuat Hayu menderita.


"Mau lauk apa?" tanya Hayu, sembari menyendokkan nasi. Devan terus menatap wajah Hayu, membaut Hayu merasa risih namun bahagia.


Satu hal yang benar-benar ingin Hayu dengar dari mulut sang Suami. Tidak lain adalah kata cinta. Hal yang pasti harus ada diantara mereka berdua. Namun, Hayu hanya bisa diam sampai detik ini karena tau jawaban Devan akan selalu membuatnya sakit hati.


Devan memang terlihat cemburu! Perhatian! tetapi semua itu hanya karena Hayu Istrinya, bukan karena mencintainya.


Aku harap, aku bisa mendengar kata itu, Mas,' menatap Devan dalam.


Matanya menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Karena tidak ingin merusak suasana, akhirnya Hayu pamit ke kebun dengan alasan mencari sayuran.


"Hiks... hiks. Ya Allah, tolong kuatkan hamba-Mu ini," gumam Hayu, disela-sela isak tangisnya. Ia mencoba sekuat tenaga menahan tangisnya.


...----------------...


Jam Makan Siang.


Hayu ingin mengantarkan makan siang untuk Devan. Namun, saat hampir sampai Johan lagi-lagi menghadangnya membuat Hayu muak.


"Apa sih, Jo!" hardik Hayu kesal.


"Hey, sayang. Jangan marah-marah begitu dong," bujuk Johan, sembari memegang bahu Hayu.

__ADS_1


Plak!


Hayu menepis tangan Johan yang sembarangan menyentuhnya."Jangan sentuh-sentuh kamu," cetus Hayu, mendelik tajam.


"Kau galak sekali," goda Johan. Kali ini Hayu yakin ada sesuatu yang akan dilakukan lelaki gila dihadapannya.


"Jalan denganku besok," ajak Johan dengan percaya diri. Membaut Hayu berdecih.


"Cih, kau pikir aku mau! sudahlah, kau membuang-buang waktuku, Jo! Dan suamiku sudah kelaparan!" hardik Hayu, berusaha meninggalkan Johan.


Dia pikir aku mau-mau aja apa jalan sama dia. Enggak ada Suami saja aku muak dengannya, apa lagi sekarang, dasar idiot,' batin Hayu sebal.


"Baiklah jika itu maumu. Tapi jangan salahkan aku jika aku mengusirmu dan keluargamu dari rumah itu," ancam Johan, membuat Hayu mengentikan langkahnya.


Deg!


"Apa maumu, ha! Jelas-jelas al marhumah nenek Sari bilang itu untuk kami, dia ikhlas!" teriak Hayu takut. Tinggal dimana mereka jika tempat itu diambil, sedangkan ekonomi mereka sedang sulit-sulitnya.


"Haha. Enak sekali kau ingin menghaknya! Itu punya Nenekku dan aku juga memiliki sertifikatnya," jelas Johan acuh, sembari mengendikkan bahunya.


Hayu menahan kekesalannya. Ada saja cobaan yang menerpanya disaat ia sedang dalam masa-masa bahagia. Apa tidak bisa ia selalu meminta bahagia dan damai, apa itu egois?


Apa yang harus aku lakukan...'

__ADS_1


"Kau...!"


"Seperti permintaanku tadi, jalan denganku dan turuti permintaanku selama satu Minggu. Aku serahkan sertifikat itu untukmu," ujar Johan dengan percaya diri.


"Apa kau jamin akan memberikan sertifikat itu setelah satu Minggu?" tanya Hayu memastikan. Mau tidak mau suka tidak suka ia harus melakukannya.


Dan, akan bicara jujur pada Devan. Agar tidak menimbulkan masalah lagi. Johan mengangguk pasti. "Baiklah, besok kita bertemu dimana?" tanya Hayu dengan nada tak suka.


"Di dekat sini," ujar Johan, lalu pergi begitu saja. Karena rencananya sudah berhasil.


Disisi lain, Devan sudah melihat Hayu dan Johan yang mengobrol itu membuat darahnya mendidih. ia mengepalkan tangannya sembari menahan amarahnya.


Kenapa dia bersama dengan cecunguk itu lagi,' batin Devan menatap Hayu. Mereka terlihat ngobrol santai, karena Devan hanya melihat punggung Hayu. Jadi tak melihat ekspresi tak suka Hayu.


Devan juga heran, kenapa ia merasa terus gelisah melihat kedekatan Hayu dan Johan. Apakah ia memang benar-benar jatuh cinta pada Hayu! Sepertinya memang iya, haruskah ia jujur pada Hayu dan mencoba Hayu untuk membantunya. Membantunya mengerti keadaan dan menerima dirinya sendiri tanpa identitas.


"Mas," panggil Hayu tersenyum. Devan menatap datar Hayu, baru saja bicara dengan lelaki lain sekarang bicara juga dengannya seperti tanpa dosa.


"Apa," jawab Devan seadanya, jujur ia marah.


"Ayo, makan," ajak Hayu. Kenapa rasanya dia sedang marah, ya? Apa dia melihat kami berdua tadi...?'


Mereka duduk berdua, namun suasana terasa begitu hening. Karena Devan hanya diam memakan makanannya tanpa candaan dan juga godaan yang biasanya ia lontarkan untuk sang Istri.

__ADS_1


"Mas... kamu kenapa sih, diam aja? Aku mau denger gombalan kamu," bujuk Hayu. Namun, Devan hanya meliriknya sekilas dan memakan lagi makanannya.


"Kamu jahat!" Rajuk Hayu.


__ADS_2