
Devan terkejut ia tak menyangka gadis yang sempat membuat hatinya berdebar ternyata akan menjadi OB di Perusahaannya. Siapa sebenarnya gadis itu! Baiklah aku akan menanyainya nanti.'
"Ya. Kerjalah dengan baik, dan kau aku ingin kau keruanganku nanti," ujar Devan menujuk Hayu. Lalu, ia pergi begitu saja.
Hayu yang ditunjukkan tiba-tiba mendadak tegang. Ia tak tahu jika ia akan berhadapan dengan Devan secepat ini. Ya Allah. Bagaimana ini, jujur aku belum siap bertemu dengannya lagi,' batin Hayu.
Padahal ia pikir, akan sulit bertemu Devan di posisinya yang hanya sebagai OB, dan Devan adalah pemilik Perusahaan ini. Akan tetapi, sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya.
"Matilah kau. Berani-beraninya dia menatap Bos sampai seperti itu," bisik OB lainnya.
"Benar! aku juga tau, bahwa Bos kita itu sangat tampan, tapi aku juga tau diri. Tidak seperti dia," balas salah seorang OB.
Tahan Hayu, kamu pasti bisa. Jangan di pikirkan.'
"Tanggunglah akibat dari perbuatanmu itu," ujar Pimpinan itu dengan sombong.
__ADS_1
"Temuilah Bos! Jangan hanya diam saja, apa kau ingin kami juga kena sasaran gara-gara kau, hah!" bentak Pimpinan, membuat Hayu tersentak kaget.
"Ba-baik! Ma-maafkan saya," lirih Hayu, lalu berjalan pergi.
Air matanya menggenangi pelipis matanya, rasanya sangat sakit namun ia bisa apa. Demi Putranya dan demi cintanya. Juga demi kebenaran yang setelah ia tunggu-tunggu selama lima tahun ini.
Aku akan bertahan! aku pasti bisa!'
Tok! Tok!
Hayu mengetuk pintu sebanyak dua kali. Ia menahan nafasnya lalu membuangnya, rasanya sangat amat gugup.
Suara bariton itu tampan dingin tak tersentuh. Bahkan, Hayu seakan-akan tak mengenalinya, sebab Devan tak pernah berekspresi sedingin itu. "Bismilah, tolong bukakanlah pintu hati Suamiku, ya Allah," gumam Hayu.
Ceklek!
__ADS_1
Hayu tertunduk saat menatap wajah tampan Devan yang tengah fokus pada komputernya. Dia terlihat tampan saat sedang serius seperti itu,' batin Hayu, lagi-lagi ia terpesona dengan ketampanan Suaminya yang menurutnya tidak ada tandingannya.
Devan tetap diam, tak bergeming. Membuat Hayu semakin bingung, sebenarnya apa tujuan Devan memanggilnya jika hanya di diamkan seperti ini. Dasar dia memang tidak berubah, tetap menyebalkan,' batin Hayu, menggerutu.
Hampir setengah jam Hayu berdiri, namun lelaki itu masih tetap diam. Membuat Hayu jengah, sebenarnya apa yang diinginkan Bosnya, alias Suaminya ini. Awas aja, kalo dia mempermainkan aku,' batin Hayu.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan! Kenapa kau memanggilku jika hanya diam seperti ini?" tanya Hayu, yang sudah muak. Ia lelah, karena terus berdiri. Sudah satu jam ia berdiri tetapi lelaki itu tetap sibuk dengan pekerjaannya tanpa memperdulikan dirinya.
Devan akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap Hayu. Bahu tertegun, bola mata yang sangat ia rindu-rindukan itu menatapnya dalam, membuat Hayu tak kuasa menahan tangisnya. Ia hampir saja menumpahkan cairan bening itu, namun ia segera menengadah agar cairan itu tak jatuh.
Devan mengernyit heran. "Kau sungguh berani memanggilku seperti itu," ujar Devan tersenyum smirk. Membuat Hayu meneguk salivanya kasar.
"Emangnya kenapa! Kenapa kau tidak mengingatku?" tanya Hayu yang sudah muak dengan keadaan ini.
Devan lagi-lagi mengernyitkan dahinya. "Maksudmu? Aku mengenal OB sepertimu?" tanya Devan memandang Hayu seolah-olah tak percaya.
__ADS_1
Melihat itu Hayu merasa sangat terpukul. Apa benar Devan sudah benar-benar melupakan dirinya?
"Apa kau melakukan operasi untuk menyembuhkan ingatanmu?" tanya Hayu, membuat Devan kaget.