Suamiku Ternyata CEO

Suamiku Ternyata CEO
Part 49 – Meminta Izin


__ADS_3

Hayu terkejut bukan main. Dia menatap Gio tak percaya. Mengetahui dimana Devan? Putranya tahu? Darimana?


Jelas-jelas ia baru saja menceritakan siapa Devan dan bagaimana Devan selama ini. "Darimana kamu tau, sayang?" tanya Hayu lembut. Menatap wajah Sang Putra.


Gio sedikit menunduk. "Maaf, Ma. Selama ini Gio gak jujur sama Mama..." Hayu yang mendengar itu tiba-tiba merasa takut.


Apa yang sebenarnya disembunyikan Putraku, Ya Allah.'


"Gakpapa, sayang. Yang penting kamu mau jujur sama Mama," ujar Hayu memberi pengertian.


"Se-sebenarnya Gio sudah tau Papa karena diam-diam liat foto ini dan tau nama Papa karena Mama sering mimpiin Papa kalo malam."


Gio menjelaskan dengan rasa bersalahnya. "Sebenarnya Gio beli laptop karena ingin melacak keberadaan Papa dan menghasilkan lebih banyak uang untuk kita," jelas Gio pada akhirnya. Hayu tertegun.


Tak tahu lagi harus berkata apa. "Me-melacak? Melacak bagaimana?" tanya Hayu heran. Ia masih dikuasai dengan rasa terkejutnya. Namun, berusaha untuk tidak terlihat terlalu terkejut.


"Karena Gio bisa meretas data-data dari berbagai perusahaan manapun itu, termasuk Perusahaan Papa," jelas Gio.


Deg!


"Pe-perusahaan Papa?" Hayu menutup mulutnya tak percaya. Ia buka gadis desa yang katrok yang tidak tahu apa-apa. Ia tahu apa itu Perusahaan dan bagaimana cara beroperasi sebuah Perusahaan.


Ya Allah. Jangan bilang Devan benar-benar berasal dari keluarga yang sangat kaya,' batin Hayu cemas.


"Pe-perlihatkan pada Mama." Gio menatap Hayu bingung, memperlihatkan tentang apa? tentang Perusahaan Devan.


"Gio bakalan lihatin Perusahaan Papa," jelas Gio. Namun suara Hayu menghentikannya.


"Bukan itu. Perlihatkan pada Mama kemampuan kamu," pinta Hayu, mulai fokus menatap sebuah laptop.


Gio tegang. Baru ini ia bekerja dengan seseorang disampingnya. "Gio punya banyak uang buat Mama," jelas Gio tiba-tiba, membuat Hayu terkejut.


"Bagaimana bisa? uang dari mana?" tanya Hayu tak percaya.


"Kerja! Gio udah bilang Gio kerja meretas data-data sebuah Perusahaan dan mendapatkan gaji yang lumayan besar," jelas Gio, Hayu hanya mengangguk-angguk.


"Lalu, berapa uang di tabungan Gio sekarang?" tanya Hayu, santai.

__ADS_1


"75 juta, Ma."


Deg!


"Tu-tujuh puluh lima juta!" pekik Hayu kaget. Bahkan sekarang ia sudah berdiri.


Gio yang melihat keterkejutan Hayu, semakin merasa tidak enak karena telah membohongi Mamanya. Dan, meminta Mamanya selama ini bekerja kerasa padahal dirinya memiliki banyak sekali uang.


"Astaghfirullah, Gio..." Hayu memegang dadanya yang masih berdegup kencang karena kaget + syok. Ia terduduk lemas di samping Gio.


"Mama heran. Darimana kemampuan kamu ini berasal?" tanya Hayu, dengan nafas tersengal-sengal.


Gio menyerahkan minum. "Pastinya dari Papa, Ma. Gio sudah cek semua data-data Papa. Papa adalah ahli hacker yang dikenal dunia, itulah kenapa Perusahaan Papa sangat terkenal dengan keamanan dan kualitasnya."


Penjelasan Gio semakin membuat Hayu merasa tak percaya diri. Ia juga merasa menjadi sangat jauh dari Devan. Devan begitu sempurna dia memiliki banyak kekayaan juga kehebatan. Hayu bersyukur ternyata Putranya memiliki kemampuan dan kehebatan yang dimiliki Suaminya.


"Mama... Apa kita akan mencari... Papa?" tanya Gio ragu-ragu. Hayu menatap mata penuh harap milik Putranya.


Seperti Kamu memang benar-benar sudah merindukannya. sama sayang, Mama juga.'


Akhirnya, Hayu memutuskan untuk mencari Devan. Bagaimanapun, Gio sudah menemukan lokasi Devan. "Tapi.. Mama bingung bagaimana cara meminta izin Nenek kamu," jelas Hayu dengan wajah bingung.


"Kita bujuk saja Nenek dengan sabar."


Gio juga Hayu sudah berada di ruang keluarga dimana disana sudah ada Ratna yang sedang menonton televisi.


"Nenek!" teriak Gio.


"Cucu Nenek, lagi apa?" tanya Ratna sangat lembut, memeluk Cucunya.


"Nenek... Mama mau bicara sama Nenek. Gio juga mau bicara," jelas Gio dengan wajah imutnya.


"Bicara apa? bicara aja," ujar Ratna.


"Bu... boleh izinkan Hayu untuk mencari Mas Devan ke kota, Bu?" tanya Hayu walau hatinya saat ini sedang amat gelisah ia berusaha menutupi.


Ratna terdiam. Tak tahu harus apa. "Gak! Ibu gak bisa biarin kalian pergi kesana!" Ratna menolak, rasa takut kehilangan itu kembali menyeruak.

__ADS_1


"Tapi, Bu... Hayu harus cari Devan. Gio tau dimana Devan. Hayu mohon, Bu! Gak semua hal akan berakhir sama," jelas Hayu, mencoba memberi pengertian.


Ratna lagi-lagi diam. "Ba-bagaimana jika kalian juga pergi dari Ibu?" tanya Ratna dengan sedih, air matanya jatuh membasahi pipinya.


Hayu segera memeluk Ratna begitu juga dengan Gio. Mereka tampak memberikan semangat untuk Ratna. "Kami janji gak bakalan menghilang, Bu. Percayalah," jawab Hayu.


"Iya, Gio akan jaga Mama dimana pun itu! Gio mau ketemu Papa, Nek," jelas Gio. Walau ia terlihat seperti tak perduli, namun hati kecilnya selalu menginginkan sosok Papa didalam hidupnya.


Terkadang ia juga iri dengan anak-anak lainnya. Tetapi mencoba tegar dan tidak ingin Hayu semakin sedih dengan keadaannya. Ratna yang melihat mata Gio, merasa iba. "Baiklah, tetapi ibu tidak tenang jika kalian hanya berdua saja," ungkap Ratna.


Menurutnya bagaimanapun kota. Tetap adalah kota. "Apa lagi kalian belum pernah menginjakkan kaki di kota. Disana tempat berbahaya, Nak. Banyak penjahat berkeliaran. Ibu takut terjadi sesuatu pada kalian," jelas Ratna yang mengkhawatirkan Anak dan Cucunya.


Hayu ikut terdiam. Karena benar apa yang dikatakan sang ibu. Kota adalah tempat yang belum pernah ia datangi.


Lalu ia terpikir sebuah ide. "Bagaimana jika aku mengajak Pian?" tanya Hayu.


"Baguslah itu, tapi bagaimana dengan pekerjaannya. Jika dia membantumu dia tidak bisa membiayai hidupnya," jelas Ratna.


"Tenang saja, Nek. Gio punya banyak uang untuk Paman Pian," jelas Gio, membuat Ratna cengo.


"Banyak uang? Darimana?" tanya Ratna sembari mengelus Surai Gio.


"Kerja, Nek!"


Jawaban itu sontak membuat Ratna menoleh pada Hayu, meminta penjelasan. Hayu pasrah akhirnya menjelaskan.


"Hah!"


"Benarkah? uang sebanyak itu karena bermain laptop?" tanya Ratna seolah-olah tak percaya.


"Bagiamana bisa, sayang? Kamu kenapa sangat pintar?" tanya Ratna mencubit pipi Gio gemas. Tak menyangka Cucunya sehabat itu.


"Hehe... ini pasti keturunan Papa dan Mama yang hebat. Gio juga yang giat belajar," jawab Gio dengan senyum giginya.


"Baiklah. Sudah sepakat kita akan ke kota. Gio siap-siaplah dengan pakaianmu. Mama harus menemui Paman Pian untuk menawarkan hal ini," titah Hayu, Gio mengangguk patuh.


Ratna menyaksikan hal itu merasa sedih, karena ia akan sendirian disini. Karena ia masih belum bisa menghilangkan rasa sedihnya untuk menginjakkan kaki ke Kota.

__ADS_1


Maafin, Ibu. Maafin, Nenek Gio. Nenek belum bisa jadi Nenek yang baik buat kamu, Nak.'


__ADS_2