
Ratna tersenyum bahagia melihat interaksi Putri dan menantunya kembali akrab. Mungkin memang mereka butuh nasehat apa lagi untuk pengalaman pertama mereka sebagai sepasang suami-istri yang pastinya akan berat.
"Mau pake ikan?" tanya Hayu, Devan mengangguk dengan patuh.
"Makan yang banyak, Mas. Supaya kerjanya juga semangat dan gak loyo," jelas Hayu, sembari menyendokkan nasi kepiring Suaminya.
Devan tersenyum. "Baiklah. Jika itu menyenangkan Istriku..."
Blush!
Pipi Hayu mendadak memerah bak tomat, tentunya gara-gara Suaminya. Melihat itu Devan terkikik geli, bisa-bisanya ia mendapatkan seorang Istri yang polos dan menggemaskan seperti Hayu.
Selesai makan, Devan langsung pamit dengan Ratna.
"Aku pergi dulu, Bu."
Saat Devan sudah melangkah keluar, Hayu dengan sebal memanggil lelaki itu.
"Massssss....!" Devan menoleh dengan heran.
"Kamu ini gimana sih, punya Istri enggak sih? Masa Ibu doang yang dipamiti aku juga mau," rengek Hayu, mengalihkan pandangannya karena malu.
"Haha... Maaf, aku lupa karena beberapa hari ini tidak melakukannya," jelas Devan, lalu mendekati Hayu dan mengecup singkat kening Istrinya.
Deg!
__ADS_1
Jantung Hayu berdebar-debar sangat kencang, rasanya ia semakin jatuh cinta pada Devan. Itu juga membuat Hayu semakin cemas, semakin hari Hayu harus memikirkan apakah cintanya ini akan mendapatkan balasan suatu hari nanti?
Bagaimana dengan keluarga Devan? Mereka pasti akan mencari Devan dan membawanya? Bagaimana jika mereka tidak menerima Hayu dan meminta mereka untuk berpisah?
Semua pertanyaan timbul dibenaknya, membuat Hayu harap cemas. Ia ingin merasa sedikit egois untuk mengharapkan keluarga Devan tidak menemukan Devan dalam waktu dekat ini. Setidaknya beri ia waktu satu tahun, untuk membuat lelaki itu mencintainya.
"Kenapa diam? Malu ya," goda Ratna, tertawa terbahak-bahak lalu dengan cepat meninggalkan keduanya. Karena tau mereka akan bermesraan sebelum kerja.
"Ihh, malu tau depan Ibu," rengek Hayu, menundukkan kepalanya, dengan tangan yang memegang kening merasakan kecupan singkat di keningnya.
Terasa hangat dan nyaman. Apa karena sudah halal? kwowkwkwowk.
Sementara Devan bekerja Hayu terus berpikir hukuman apa yang akan dia berikan kepada Luna dan keluarganya. Dan berpikir apakah dengan cara ini adalah cara terbaik?
Hayu membereskan seluruh rumah juga menanam sayuran untuk makanan sehari-hari mereka. Tentu saja, hal itu mengingatkan Hayu pada Devan.
Aduh, semoga yang lain belum pada makan. Atau, kasih deh sedikit Suami aku makan kasihan kalo nungguin,' batin Hayu.
Hayu pikir Devan pasti akan diberikan makanan dengan Pian ataupun teman-teman pekerja lainnya. Sesampainya disana, Hayu melihat Pian dan yang lainnya sudah makan akan tetapi tidak melihat Suaminya.
"Pian? Dimana Devan?" tanya Hayu panik. Pian melihat itu geleng-geleng.
"Emang ya pengantin baru pilingnya kuat, noh dia sana tuh masih kerja. Katanya nungguin kamu," jelas Pian, membuat Hayu kesal.
"Kenapa enggak kamu aja dulu? Nanti kalo aku enggak dateng kaya kemarin gimana?" tanya Hayu sebal.
__ADS_1
"Yee, orang dia yang ngotot mau nunggu kamu. Kami udah tawarin, tapi dia bilang kamu bakalan dateng kok gitu." Penjelasan Pian membuat Hayu terharu, ternyata Devan sangat menantikan dirinya.
Hayu berlari mencari Suaminya dan melihat punggung Devan yang membelakangi dirinya. Melihat itu, Hayu berpikir ingin mengejutkan Suaminya. Ia diam-diam mendekati Devan tapi tanpa sengaja melihat Devan yang kelelahan terus mengusap keringatnya yang bercucuran.
Dan, hal yang paling mengejutkan mendengar ucapan Devan.
"Aku yakin dia pasti datang. Karena kita sudah berbaikan. Dan, entah kenapa kau sangat mempercayai dia untuk masalah ini," gumam Devan, membuat Hayu semakin jatuh dalam pesona Devan.
"Ehem!"
Brak!
Devan melempar cangkulnya karena terkejut, membuat Hayu juga ikut terkejut. Mereka saling tatapan tanpa bicara, semenit kemudian tertawa bersama.
"Hahaha."
Entahlah, rasanya Hayu sangat bahagia hari ini ingin waktu berhenti saat ini juga. Perasaan tenang dan nyaman ini selalu membuatnya menjadi egois.
"Oh iya. Aku udah siapin rencana untuk Luna," jelas Hayu tiba-tiba membuat Devan menyudahi makanan sejenak.
"Jadi... apa itu?" tanya Devan pokus.
"Sebentar lagi akan ada acara perayaan festival kecil-kecilan untuk ulang tahun desa setiap tahunnya. Disitu otomatis akan banyak warga Desa disana kita bisa mempermalukan mereka," jelas Hayu panjang lebar. Mendengar itu Devan mengangguk pasti.
"Apa saja acaranya?"
__ADS_1
"Biasanya sih tarian adat, lomba-lomba kecil seperti joget balon, nyanyi dan drama-drama," jelas Hayu sambil memakan gorengan.
"Bagaimana jika kita ikut salah satu?" tanya Devan. Membuat Hayu cengo tak percaya.